Apabila lebih realistis, seharusnya mereka pergi ke psikolog atau psikiater untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka.
Seorang toxic handler akan bertindak seolah-olah menggantikan tugas para praktisi kesehatan mental seperti para psikolog.
Memang sudah jelas bahwa tidak ada masalah dengan si toxic handler. Mereka bukanlah orang jahat. Justru mereka adalah orang-orang baik yang penuh dengan ide, selalu memiliki jalan keluar untuk sebuah masalah (solutif), dan bisa dipercaya.
Masalahnya adalah mereka kurang memperhatikan diri mereka sendiri dan lebih mementingkan orang lain.
Tiga ciri yang menunjukkan kamu telah menjadi seorang toxic handler, yaiti pertama, kamu telah menjadi seorang pendengar yang baik. Karena kamu adalah seorang pendengar yang baik, maka teman-temanmu setiap ada masalah selalu mencari dirimu untuk sekedar bercerita menumpahkan unek-unek mereka. Hal ini sebenarnya baik sebab kamu telah membantunya dengan cara medengarkan dia.
Tetapi masalahnya semua emosi negatif yang telah dilepasnya akan diserap olehmu tanpa sadar. Dan itu bisa membuatmu ikut memikirkan masalah yang sebenarnya bukan masalahmu. Pikiran dan energimu habis untuk suatu hal yang tidak langsung berhubungan dengan diri dan hidupmu.
Kedua, kamu adalah penenang yang mampu membantu rekan kerjamu untuk mengelola emosi mereka.
Biasanya setelah menceritakan masalah mereka, kamu pasti dimintai pendapat. Pendapat-pendapat kamu akan sangat menenangkannya.
Dengan demikian kamu telah membantu temanmu untuk mengolah emosi negatifnya. Seluruh energimu kamu habiskan untuk menenangkan temanmu yang sedang bermasalah. Akhirnya kamu lupa akan masalahmu yang sebenarnya memerlukan penyelesaian juga.
Ketiga solusi-solusi yang Anda tawarkan untuk teman-temanmu yang bermasalah adalah solusi-solusi yang netral dan tidak bias.
Itulah tiga ciri yang menunjukkan secara gamblang bahwa kamu telah menjadi seorang toxic handler.