Di Kuba, karena diurusi langsung oleh negara, ketersediaan ruang kelas tidak pernah jadi masalah. Setiap ruang kelas sekolah dasar di Kuba hanya di isi maksimum 25 murid. Rata-rata hanya 20 anak murid. Sedangkan untuk kelas di sekolah menengah, rata-rata hanya 15-20 murid.
Pemerintah Kuba sadar, pendidikan yang bermutu hanya bisa dicapai bila ditunjang dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai. Semua sekolah difasilitasi dengan sarana dan prasarana yang lengkap tanpa kecuali.
Menariknya sejak 1990, Kuba memperkenalkan sistem belajar "dunia tempat kita hidup", yang memadukan antara belajar di ruang kelas dan di alam raya.
Kalau saya membayangkan, Jawa dan Indonesia Timur, model pendidikan dan sistem belajar Kuba ini lebih tepatnya diadopsi untuk Indonesia Timur. Tinggal bagaimana guru-guru dilatih secara maksimal untuk bisa memanfaatkan kelas dan alam raya sebagai tempat belajar.
Ketiga, pendidikan untuk semua orang. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dan dibiayai full oleh negara. Mereka tidak mengenal KIP atau KIP Kuliah.
Keempat, tenaga guru yang melimpah. Banyak guru dicetak untuk mencerdaskan anak-anak Kuba. Tetapi bukan guru asal jadi. Mereka dibekali dengan keterampilan mengelola kelas dan mengajar secara profesional.
Kelima, dana pendidikan yang disediakan negara sangat tinggi. Sebagian dana negeri itu dipakai untuk pendidikan.
Bahkan ketika negeri ini dihantam krisis berat pasca runtuhnya Uni Soviet, Fidel Castro memilih memangkas belanja militer ketimbang pendidikan. Anggaran pendidikan tidak diutak-atik.
Lalu apa bedanya dengan Indonesia?
Kita harus jujur bahwa negara kita tidak bisa dibandingkan dengan Kuba.
Kita adalah negara besar dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa. Keadaan geografis wilayah Kuba juga sangat jauh berbeda dengan negara kita.