Mohon tunggu...
Oddi Arma
Oddi Arma Mohon Tunggu... profesional -

menulis apa yang dilihat, rasa, dan dengarkan @odiology

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anies, FPI, dan Linunya Logika

11 Januari 2017   14:39 Diperbarui: 11 Januari 2017   14:58 5314
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setelah Prof. Romli Atmasasmita yang bependapat beda soal Sumber Waras, diejek, dan dibunuh karakternya, menyusul Tempo yang keras soal Reklamasi, Romo Sandyawan yang dengan santun mengingatkan agar pemimpin jangan ingkar janji, Sandiaga yang berani-beraninya menjadi penantang pertama Ahok, dan banyak lagi tokoh dan organisasi yang berani mengkritik seorang tokoh yang menjuluki dirinya sendiri sebagai Sang Cahaya Fajar Rembang Pagi, juga dihina dina, kini meriam bully—tindakan yang sudah menjadi noda peradaban dunia—moncongnya mereka arahkan ke Anies Baswaden.

Sejak resmi dipinang Gerindra dan PKS, peluru bully-pun berhamburan. Bagaimana seorang Anies yang pada 2014 bersebarangan dengan kedua partai ini bisa bersekutu. Dari komentar menasehati, menyayangkan, menyindir, nyiyir, sampai melecehkan tumpah di media sosial. Tema utama yang jadi persoalan besar bagi mereka yang mayoritas pendukung Ahok ini adalah kenderaan yang dipakai Anies, yaitu Gerindra dan PKS. Gerindra, tentunya karena mereka tidak suka dengan Prabowo, mereka anggap dia punya ‘dosa’ masa lalu dan tentunya karena jadi rival Jokowi 2014. Kalau PKS, karena mereka memang tidak suka partai Islam yang begitu terorganisir baik dan tentunya kebencian mereka terhadap korupsi (kasus LHI). 

Singkatnya, mereka menganggap kedua partai ini tidak layak karena banyak diisi oleh orang-orang tidak baik. Namun, anehnya, mereka tidak mempersoalkan partai pengusung junjungan mereka, PDIP (penyumbang terpidana korupsi terbanyak), Hanura (Pendirinya yang kerap kesandung isu HAM), Golkar (Ketumnya sekarang pernah seenaknya bilang Jokowi keras kepala, punya banyak dosa masa lalu dan… dan banyak lagi, silahkan isi sendiri).

Dicukupkannya Anies—bahasa mereka dipecat Jokowi—menjadi Menteri menjadi peluru yang terus mereka tembakkan untuk meruntukan kredibilitas Anies sebagai pejabat publik. Padahal apa yang mau diharapkan dari cara Jokowi memilih pejabat publik. Sepanjang sejarah republik ini berdiri, baru kali ini ada menteri yang sampai berpindah posisi sampai tiga kali; menteri yang diangkat kemudian diberhentikan karena masalah kewarganegaraan kemudian diangkat lagi jadi wakil menteri. Belum lagi saat dia ngotot ngajukan calon tunggal Kapolri yang bermasalah, setelah ditolak orang se-Indonesia, pencalonan dibatalkan. Namun, tak lama kemudian diangkat jadi Wakapolri, bahkan sekarang jadi Kabin. Atau pasti pernah dengar, seorang relawan yang dihadiahi lima jabatan? Lagian kalau mau jujur, kita semua tahu dari semua menteri/menko, siapa sebenarnya yang layak dipecat. Lantas, apa benar Anies dipecat kerena kinerjanya? Jujurlah, selama 20 bulan sejak dia dilantik, ada nuansa yang berbeda dalam dunia pendidikan dasar dan menengah kita.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Aneh? Kebanyakan pendukung Ahok memang aneh. Dulu mereka ‘menghabisi’ Setnov paska terkuak rekaman papa minta saham, kini memujanya kerena mendukung Ahok. Selain aneh mereka juga melankolis dan beperan. Saat debat Pilkada Jakarta di Kompas TV, para pendukung Ahok (termasuk komedian-komedian baru) menyumpahi Anies yang katanya menyerang pribadi Ahok. 

Anies yang sempat bertanya bagaimana Ahok menjelaskan kepada generasi muda Jakarta saat dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dianggap telah menyakiti hati Ahok, dan mereka tidak terima Ahok diperlakukan seperti itu oleh Anies. Namun, saat junjungan mereka berteriak maling kepada seorang ibu, memaki ta*k kepada orang yang mengkritiknya, mengatakan bajing** kepada DPRD DKI di mana ketuanya sekarang menjadi ketua tim suksesnya, respon mereka begitu gegap gempita. Mereka menyebut Ahok sebagai pemimpin yang unik, musuh para koruptor dan paling berani semenjak republik ini berdiri.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Aneh? Kebanyakan pendukung Ahok memang aneh dan standar ganda. Saat ada politisi lain pakai tema agama untuk mengangkat citranya pasti akan dicibir habis, tapi saat Ahok dan tim suksesnya mempolitisir agama guna mengangkat reputasi yang terjun bebas setelah polisi dan jaksa menyakini dia sebagai penista agama, mereka sangat bangga dan sorak-sorai menjual agama. Mulai dari ‘jualan’ bangun masjid di Balai Kota dan Masjid Raya Jakarta dengan uang APBD, mengumrohkan marbot (saya berharap dari uang dia pribadi), sampai mengaku sangat ingin meneladani sifat nabi Muhammad. 

Tidak cukup hanya itu, kebaikannya saat di Belitung dengan memberi tanah (belum jelas tanah pribadi atau tanah pemkab) seluas 20 hekter juga dikabarkan dan diseberluaskan kembali. Sampai yang paling dahsyat mentasbihkan bahwa Ahok lebih Islami dari mereka yang mengaku Islam (kalau ini mungkin karena dia bilang minum bir tidak apa-apa dan punya hasrat melegalkan prostitusi). Jualan agama ini diviralkan. Anehnya orang-orang yang sangat benci agama dicampuradukkan dengan politik hingga mereka yang benar-benar benci agama ikut menyebarkannya.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Bingung? Kebanyakan pendukung Ahok memang bikin linu logika. Teranyar saat Anies diundang berdialog ke Petamburan dalam diskusi membahas soal ideologi Trans-Nasional dan pengaruhnya terhadap Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI. Padahal, dalam diskusi yang diisi oleh Prof. Dr. Mohammad Baharun (dosen; penulis; juru dakwah; 11 tahun jadi wartawan Tempo; penulis lebih 30 buku mulai dari kajian agama, sastra, jurnalistik; dan Guru Besar Sosiologi Agama—tak heran makalahnya standar kuliah S2) dan Dr. Abdul Chair Ramadhan (Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI) dengan Dr. Hidayat Nur Wahid sebagai pembahas, juga dibahas isu aktual Jakarta, salah satunya penolakan proyek tamak nan rakus Reklamasi Teluk Jakarta, adalah sebuah diskusi biasa,  namun lini massa bergetar. Opini-opini menghinadina kehadiran Anies di markas organisasi Islam yang menurut mereka lebih berbahaya dari PKI dan ISIS ini, bertebaran dan diusahakan dijadikan viral. Komentar melecehkan atas pidato Anies menyeruak.

screenshot twitter
screenshot twitter
Seakan pulang dari Petamburan, Anies sudah menjadi makhluk paling ternista di republik ini. Anies yang oleh Majalah Foreign Policy menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 100 Intelektual Publik Dunia bersama Noam Chomsky, Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen, menjadi makhluk terbelakang karena mau memenuhi undangan organisasi yang sudah mengangkat dan menguburkan ribuan mayat korban tsunami Aceh, organisasi ‘garang’ yang menyempatkan hadir di setiap bencana negeri hingga Palestina.

Seusai berbicara di Petamburan, Anies yang oleh majalah Foresight Jepang disejajarkan dengan Vladimir Putin karena masuk sebagai 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang, menjadi manusia paling terbelakang. Anies yang namanya ada di daftar 500 tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia menjadi orang paling bodoh kerena bersedia berdialog dengan organisasi yang memilih bertabayyun dengan awak Kompas TV perihal berita razia warung yang buka saat Ramadan, organisasi yang jadi perisai polisi saat demonstran 411 mulai merengsek maju. Anies yang mendobrak dunia pendidikan Indonesia dengan “Indonesia Mengajar’ menjadi orang paling munafik karena mengklarifikasi fitnah bahwa dirinya bukan syiah, wahabi, liberal, dan menolak mata kuliah LGBT di Paramadina. Mereka juluki Anies Sengkuni.

Mereka anggap Anies sudah merobek-robek nilai keagungan tolerensi karena mendatangi FPI yang disekitar markasnya terdapat beberapa gereja dan tidak pernah terjadi kericuhan. Namun, mereka yang gembira saat ada ‘tangan besi’ yang melarang pemutaran film Jakarta Unfair di TIM, begitu angkuhnya mengajari Anies soal toleransi. Mengajari sosok yang telah mengajarkan bagaimana makna tolerensi sesungguhnya kepada ratusan anak muda (sebagaian besar lulusan S2 luar negeri) sehingga dengan sukacita mereka mendatangi pelosok, mendatangi manusia Indoensia yang baik agama, suku, adat istiadatnya berbeda dari mereka. Anak-anak muda muslim mengajari anak-anak kristen (dan sebaliknya). Mereka berbaur, tinggal bersama, menjadi saudara. Jika mereka sekedar koar-koar soal toleransi, Anies telah melakukannya. Bagi Anies toleransi dipraktikkan, bukan jadi ucapan dan tulisan Indah saja.

Bagi mereka Anies telah menjadi seorang politisi yang tidak punya idealisme. Tapi saat pujaannya berjanji tidak menggusur saat kampanye, namun saat jadi gubernur menggusur tanpa ampun tidak mereka anggap sebagai noda dari sebuah idealisme.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Memang cara orang bermutu dan kurang bermutu menghadapi perbedaan, berbeda. Cara pertama membuka ruang dialog sementara yang kedua memilih menutupnya rapat-rapat. Entah tabiat siapa yang mereka ditiru. Mungkin tabiat sang gubernur jenderal yang lebih suka menurunkan sardadu agar warganya takut dan rela digusur dari pada membujuknya dengan dialog.

Namun dari semua itu, hanya satu soal yang tidak mereka kritik dari kedatangan Anies ke Patamburan, yaitu sikap tegas Anies yang akan hentikan Reklamasi Teluk Jakarta, sebuah proyek serakah nan tamak dan telah dinobatkan KPK sebagai proyek penuh dusta dan terindikasi kuat ada grand corruption di sana. Mereka juga enggan membahas sikap FPI yang juga menolak reklamasi. Kalau soal ini bukan hanya mendukung Ahok, para cerdikpandai, para aktivis lingkungan juga enggan memberikan apresiasi atas sikap FPI ini.

Sikap banyak orang Jakarta soal Reklamasi Teluk Jakarta ini memang unik. Band legandaris yang kepeduliannya begitu luar bisa terhadap lingkungan hidup dan juga anti korupsi juga engganberkomentar, malah mendukung sang petahana yang begitu ngotot hingga harus menunjukkan urat leher untuk melanjutkan reklamasi. Padahal Reklamasi Teluk Benoa mereka ikut menolak. Jangan tanya kelas menengah, penggusuran saja mereka tepuk tangan kok.

Tapi jika ingin coba memahami kenapa mereka bisa seperti ini, karena keberhasilan Ahok mencitrakan dirinya sebagai satu-satu tokoh di Indonesia yang paling bersih, menjadi pendekar dan musuh serta mimpi buruk para koruptor (walau saat ditantang pembuktian terbalik untuk hartanya dia mengeles). Saking cemerlang memainkan isu korupsi ini, Pemprov DKI yang dipimpinnya membeli tanah miliknya sendiri seluas 4,6 hektare di Cengkareng Barat senilai Rp648 miliar ditambah pajak Rp 20 miliar. Persoalan-persoalan kayak gini mereka tak tampak, mungkin karena julukan pujaan mereka yaitu Sang Cahaya Fajar Rembang Pagi yang sinarnya terang, tetapi menyilaukan banyak orang yang ingin melihatnya. Cahaya tersebut begitu terang,  sehinggat tidak ada yang bisa menahannya.

Makanya jangan heran kenapa dulu Soeharto bisa bertahan 32 tahun, karena dia oleh pemujanya dianggap satu-satunya yang bisa menyelamatkan Indonesia dari komunis dan menjadi satu-satunya orang Indonesia yang punya kemampuan menyejahterakan rakyat seantero negeri. Setiap pengkritiknya, oleh pemujanya akan dicap pengkhianat dan musuh bangsa. Kalau sekarang di cap pro koruptor, intoleren, rasis, anti kebinekaan, dan anti-anti yang lain. #

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun