Lesson learned: Hai manusia, masih ingat slogan "Buanglah sampah pada tempatnya" kan? Slogan itu ada, untuk diterapkan dalam keseharian. Para monyet berubah jadi beringas, gegara perilaku pengunjung. Masih untung kalau hanya makanan yang tertelan. Bisakah dibayangkan, bagaimana nasib geng monyet, kalau sampah plastik tadi ikut termakan? (jadi pertanyaannya, yang nggak ada akhlak tuh siapa ya? Para monyet? Atau pengunjung yang suka buang sampah sembarangan?)
Budayakan Sustainable and Responsible Traveling
Kenapa kita harus melakoni prinsip sustainable and responsible traveling? Ada banyak alasan yang bisa dipaparkan. Di antaranya, tentu karena setiap manusia kudu berkontribusi untuk melestarikan lingkungan. Kasihan Planet Bumi ini kalau terus-menerus "disiksa" oleh perilaku kita manakala berwisata. Buang sampah sembarangan, emisi gas yang terlalu tinggi, dan banyak hal lainnya. Tidakkah kita ingin memberikan jejak positif pada Bumi yang makin sehat dan nyaman dihuni?
Inilah urgensi sustainable and responsible traveling. Dilansir dari https://thinkconscious.id, Sustainable travel adalah gaya hidup berkelanjutan berupa jalan-jalan ramah lingkungan. Tujuannya menjaga agar pariwisata dapat dipertahankan dalam jangka panjang tanpa merusak lingkungan alam dan budaya. Prinsip sustainable travel ini sekaligus memberikan manfaat ideal untuk lingkungan dan masyarakat yang berada di lokasi wisata, dengan memunculkan semakin banyak peluang pengelolaan sumber daya yang ada. Sehingga tercipta integritas budaya, ekonomi masyarakat, keanekaragaman hayati dan sistem pendukung kehidupan.
Di satu sisi, pariwisata adalah sarana super menyenangkan untuk healing dan belajar banyak hal. Akan tetapi, kalau wisatawannya justru memberikan dampak negatif untuk lingkungan, apa kita hanya diam saja? Selain perkara sampah, kegiatan wisata juga menyumbang polusi yang lumayan dahsyat. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050, kegiatan wisata akan menyumbang 40 persen emisi karbon di dunia. Sebanyak 72 persen emisi karbon dari pariwisata berasal dari transportasi, 24 persen dari akomodasi, dan sisanya 4 persen dari kegiatan pariwisata. Kondisi ini tentu mengarah kepada masalah lingkungan yang serius dan berujung pada perubahan iklim!
Salah satu cara simpel yang bisa kita lakukan adalah: tidak membawa atau membuang sampah plastik. Seperti yang menimpa kawanan monyet di pantai Bama Situbondo. Apabila tiap pengunjung sadar dan menerapkan sustainable and responsible traveling, maka tidak ada ceritanya monyet itu jadi beringas dan keracunan sampah plastik.
Apa yang Harus Kita Lakukan?Â
Karena itulah, sustainable and responsible traveling harus dimulai dari diri kita sendiri. Kemudian, tularkan semangat ini kepada teman, tetangga, ataupun melalui konten yang kita bagikan di media sosial, blog, atau platform menulis seperti Kompasiana.
Seperti yang sudah saya singgung, prinsip ini kami jalankan, salah satunya setelah menyimak "warning" dari Bapak Nurdin. Maka kami berangkat menuju TN Baluran (termasuk pantai Bama) tanpa membawa tas plastik.
Oh iya, selama ngetrip di Situbondo ini, kami juga memilih untuk tinggal di Baloeran Ecolodge. Ini adalah penginapan yang mengusung konsep ecology (cinta dan peduli lingkungan hidup).Â