Mohon tunggu...
Nurul Rahmawati
Nurul Rahmawati Mohon Tunggu... Administrasi - Blogger bukanbocahbiasa.com | IG @bundasidqi | Twitter @nurulrahma

Halo! Saya Ibu dengan anak remaja, sering menulis tentang parenting for teens. Selain itu, sebagai Google Local Guides, saya juga kerap mengulas aneka destinasi dan kuliner maknyus! Utamanya di Surabaya, Jawa Timur. Yuk, main ke blog pribadi saya di www.bukanbocahbiasa.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Potensi Hacker yang Mengintai Platform Infaq/Donasi Digital

6 Mei 2021   22:14 Diperbarui: 6 Mei 2021   22:22 763
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oh, bener juga :) Teknologi digital memang identik dengan hacker ataupun upaya peretasan. Entah apa modus/motivasi yang melatarbelakangi, sampai situs donasi pun harus diretas. (atau karena memang kaitannya dengan funding/ mengumpulkan duit?)

Trus, saya jadi penasaran, kalo platform donasi gini, bugs-nya atau hacker-nya seperti apa? Karena to be honest, beberapa teman ada yang udah pingin rutin infaq online, tapi rada was/ jadi ragu dengan keamanan platform-nya. Khawatir sering error gitu, karena beberapa kali kan kayak ada bugs.

Urita menjawab  chat saya dengan super sabar bin telaten. "Iya, kami Masih proses upgrade ke cloudserver yg firewall-nya lebih canggih utk traffic user yg rapid"

Kepo saya berlanjut, "Apakah pengembang programnya ini ga antisipasi gitu lho. Soale ada temanku yang alumnus IT, jadi rada  gumushhh dengan bugs gini, wkwkwk"

"Iya, kami melakukan antisipasi tapi lengah di koneksi server lain.Ada koneksi yang jadi acuan database untuk pembanding donatur existing. Kami melakukan Trial error sudah 5 tahunan terakhir ini. Tapi, pengembangnya pakai karyawan sendiri (In house), karena nggak kuat kalau harus hire/bayar profesional developer," jawab Urita.

Hmmm, make sense. Terkadang LAZ ingin berinovasi, tapi anggarannya mepet banget. Walhasil, program digital yang diluncurkan ya sebatas "B aja". Memang rada tricky kalo pengembangnya kurang sip. Oh iya, sekedar info saja, LAZ tempat Urita berkiprah ini bukan LAZ kaleng-kaleng ya. Sudah lebih dari 20 tahun berkontribusi di ranah charity, social development dan sebagainya. beberapa kali dapat penghargaan level Nasional juga. Tapi, ya memang begitulah. Untuk teknologi IT ini, dibutuhkan sebuah kapasitas nan paripurna, lebih dari sekedar penghimpunan dana dan pemberdayaan kalangan marginal/dhuafa semata. 

***

Kami bergeser membahas apa saja tantangan yang dihadapi platform donasi online.

Menurut Urita, sejak 10 tahun lalu, ia dan tim sudah terpantik untuk merintis fundraising method secara online. Tapi, sumber daya/resources amat terbatas. Sekarang, sudah ketemu polanya. Dan Challenge-nya ada di "moneytizing"

"Kan ibarat alamat/warung, kudu dikenal sebanyak mungkin user. Saat Ini jurusnya masih funneling, kudu ngiklan. Kalau hanya mengandalkan komunitas2 nggak ngangkat. Masalahnya adalah: budget iklan/bakar duitnya itu, nggak semua LAZ mampu funding untuk membiayai itu," ujar Urita.  

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun