“Ya, memang benar kalau kemarin lusa itu aku ketemu kang Parman. Namun itu pun hanya karena kang Parman menawarkan ikan lele kali. Kamu tahu sendiri tahu to kalau ikan kali terutama jenis lele harganya bisa empat kali dari ikan lele tambak? Dan biasa kadang-kadang Kang Parman aku kasih uang muka”
“Bentar yu, lele kali... itu kan ikan yang sangat sulit di temui. Memang yang banyak itu hanya di aliran kali alas hutan larangan sana.” Kata Roh sambil melambatkan langkah, mengimbangi langkah Santi yang terlihat jalannya semakin pelan.
Santi hanya melihat jauh ke depan namun pikirannya lebih meninjau ke belakang lima belas tahun lalu. Saat itu suaminya berpamitan untuk memancing ikan jauh di hutan larangan yang katanya di sana ada tempat memancing yang tidak sembarang orang bisa menjangkaunya. Suaminya saat itu menyebutkan satu nama tempat, yaitu Kedung Perahu. Sejak pagi suaminya berangkat hingga jam sembilan malam belum pulang. Namun dirinya tidak menaruh wasangka apa pun, karena pernah suaminya berangkat pagi pulangnya pagi hari lagi. Karena ia menyadari hanya itulah kesukaan suaminya kalau tidak ada pekerjaan. Apalah artinya memarahi orang yang mempunyai hoby yang sudah mendarah daging. Daripada menjadi perang mulut diizinkan saja suaminya memancing, toh selama ini baik-baik saja. Namun hari itu saat suaminya pamitan untuk memancing di aliran Kedung Perahu di hutan Larangan hatinya tidak tenang.
Legenda wilayah lereng kendeng utara di daerah itu tidak ada yang berani mengunjungi. Mungkin karena jarang yang mengunjungi itu semua hewan masih ada di sana dari burung merak hingga harimau. Dan lebih mengherankan pemburu yang profesional pun tidak ada yang berani mendekati. Karena itulah Santi berharap suaminya memancing tidak sampai ke kedungnya.
Siang hari setelah suaminya berangkat memancing, tiba-tiba ada seorang kakek berjenggot masuk pekarangan rumah dan kakek itu hanya duduk di bawah pohon mangga. tidak berkata apa-apa. Santi hanya diam, melihat saja dari balik jendela mau mendekati tetapi tidak berani. Rupanya si kakek tahu, segera ia lambaiakan tangan ke arahnya. Santi bagai kena hipnotis, ia dekati kakek itu.
“Namamu siapa nduk?” Tanya si kakek.
“Santi Kek...” Jawabnya takut-takut.
“Tidak usah takut Nduk, aku minta minum boleh?” Pinta si kakek. Dan meskipun Santi takut ia segera masuk ke rumah dan keluar lagi sudah membawa teh manis.
“Hmmm teh manis, baik sekali kamu Nduk... terimakasih” Kakek itu langsung meminum teh hangat yang di suguhkannya, ”Nduk, aku berpesan kalau suamimu pulang dan membawa ikan lele kali kalau ada yang paling besar suruhlah suamimu mengembalikan jangan disakiti apalagi dibunuh.” Setelah berkata demikan kakek itu pamitan. Namun Santi tidak tahu darimana si Kakek tahu kalau suaminya sedang mancing. Dan ketika ia memalingkan ke arah perginya si kakek, sudah tidak ada. Seakan ditelan bumi
Rasa was-was itu berakhir juga manakala hampir jam sepuluh suaminya datang membawa hasil pancingan, satu ember ikan lele kali ada yang masih hidup tampak menggelapar-gelepar. Meskipun sudah larut suaminya tidak seperti biasanya akan istirahat sebentar, terus membersihkan badanya, makan, dan berbincang-bincang tentang perjalanannya memancing. Kemudian suaminya akan menanyakan kesibukannya selama ia tinggal. Dan Santi hapal betul kalau suaminya sudah bertanya seperti itu berarti malam itu selimut akan berserakan bantal-bantal akan menjadi basah karena peluh. Malam pun semakin larut suara burung hantu hanya menjadi pelengkap ketika di akhir cerita desah mereka berdua lebih keras dari segala suara malam. Bila teringat akan itu Santi hanya tersenyum dan menjadi merah wajahnya.
Tetapi malam setelah pulang dari Kedung Perahu, suaminya langsung membersihkan ikan hasil pancingannya, Santi yang masih di depan menidurkan anaknya tiba-tiba teringat akan kata kakek siang tadi. Segera ia ke dapur ingin mengingatkan suaminya. Tetapi terlambat semua ikan lele sudah bersih, lambung ikan terburai bersih dari kotoran dan usus. Dan bersih semua, betapa terkejutnya ternyata di antar ikan-ikan itu ada yang paling besar. Dan lele itu juga sudah bersih dari kotoran. Mati. Tubuh Santi berpeluh dingin kepalanya berkunang-kunang. Di mana suaminya?