"Kamu duduk di sini aja, Ji. Aku tak ngurus pendaftarannya dulu," ujar Rima yang dibalas dengan anggukan oleh Jihan.
Sepeninggalnya Rima, Jihan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hingga matanya menyipit ketika melihat sosok yang sangat tidak asing di kejauhan. Tanpa berpikir panjang, Jihan segera menuju ke sana dengan perasaan berkecamuk.
"Mas!" teriak Jihan yang membuat seseorang yang amat ia benci namun ia rindu setengah mati itu mendadak berhenti.
"Jihan." Lelaki itu berucap pelan.
"Mas kenapa di sini? Maksudku ... kenapa pakai pakaian seperti ini? Ada infus juga itu."
Rentetan pertanyaan dari Jihan diabaikan. Lelaki itu hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Liam! Kan, sudah dibilangin. Jangan kelayapan terus. Waktunya digunakan istirahat dengan baik."
Jihan masih mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan oleh seorang laki-laki berseragam dokter itu. Otaknya seketika kaku.
Selepas kebisuan menguasai, sang dokter mengajak Jihan ke ruangannya untuk mendiskusikan beberapa hal. Tentu saja setelah memaksa Liam untuk kembali ke ruang rawatnya.
Bagai tersambar petir, berita mengejutkan itu hampir saja membuat jantung Jihan melompat ke luar. Tangis Jihan tumpah tatkala mengetahui kalau Liam sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan. Sekaligus, perempuan itu juga paham jika selama ini Liam tidak menghilang. Lelaki itu memang berniat menyembunyikan semua ini dari sang istri karena tidak ingin membuatnya khawatir. Bahkan, ia rela kalau kekasih hatinya itu membencinya seumur hidup, dari pada harus melihatnya bersedih setiap waktu.
Setelah tangisnya reda, Jihan bergegas menemui Liam, meyakinkan diri bahwa yang dikatakan dokter itu tadi tidak benar.