Mohon tunggu...
Nurlaela
Nurlaela Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Universitas Pamulang

Saya seorang mahasiswi jurusan sastra Indonesia S1 yang hobi menulis cerita fiksi dan non fiksi serta tertarik dalam dunia akting.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menyunting Teks Cerpen Berjudul Rifki dan Naina Karya Menning Alamsyah

12 Juli 2022   11:38 Diperbarui: 12 Juli 2022   11:42 2879
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Penyuntingan teks pada kumpulan cerpen Rona Kehidupan karya Menning Alamsyah yang berjudul Rifki dan Naina terdapat beberapa kesalahan di antaranya penggunaan titik (.) koma (,) huruf kapital, pemformatan huruf serta tanda baca dan penggunaan bahasa daerah yang terdapat di dalamnya.

Cerpen berjudul Rifki dan Naina ini mengisahkan kisah pilu dimana keduanya adalah anak yatim yang ditinggal ibunya dan terpaksa bekerja sebagai pengemis atas perintah ayahnya yang kejam dan tak manusiawi. Alur cerita ini yakni menggunakan alur maju mundur serta panjang cerpen ini yakni 8 halaman. Kesalahan cerpen ini terdapat pada paragraf pertama yakni penggunaan EYD dan tanda baca.

Paragraf sebelum di sunting:

"Matahari bersinar begitu garang. Daun-daun  kering beterbangan seiring berhembusnya angin. Debu pun tak mau kalah, terasa menusuk pernafasan dan mengganggu mata para pengguna jalan. Rifki, anak laki-laki berumur 9 tahun yang menggendong Naina, adiknya, tetap semangat menengadahkan bungkus makanan yang telah kosong di bawah lampu merah".

Kesalahan terlihat pada pemborosan kata dan penggunaan tanda titik (.) dan koma (,) pada paragraf pertama.

Paragraf setelah di sunting:

"Matahari bersinar begitu garang, daun-daun kering beterbangan seiring berhembusnya angin. Debu pun tak mau kalah, terasa menusuk pernafasan dan mengganggu mata para pengguna jalan. Rifki, anak laki-laki berumur 9 tahun yang tengah menggendong Naina, adiknya. Tetap semangat menengadahkan bungkus makanan kosong di bawah lampu merah".

Kesalahan tanda baca dan penggunaan EYD pun terdapat pada paragraf keempat.

Paragraf sebelum di sunting:

"waktu terus berlari meninggalkan detak pada jam dinding. Meninggalkan Rifki dan Naina. Meninggalkan debu-debu yang beterbangan. Meninggalkan daun-daun kering. Seperti Wati yang meninggalkan dua buah hatinya. Mati karena suaminya sendiri. "

Kesalahan terlihat pada pemilihan kata, penggunaan tanda baca (.) dan (,).

Paragraf setelah di sunting:

"Waktu terus berlari meninggalkan setiap detik pada jam dinding, meninggalkan Rifki dan Naina, meninggalkan debu yang beterbangan, meninggalkan daun-daun kering. Seperti Wati yang meninggalkan dua buah hatinya. Mati karena suaminya sendiri".

Kesalahan pun terjadi pada dialog antara Wati dan Malik selaku suami Wati.

Dialog sebelum di sunting:

"Sakit kang!" Seru Wati

"Mana uangnya? Mana?" teriak Malik dengan mata melotot dan tangannya mencengkeram wajah Wati

Kesalahan terlihat pada tanda baca (?) yang seharusnya menggunakan tanda (!) dan penggunaan kata hubung.

Dialog setelah di sunting:

"Sakit Kang!" Seru Wati

"Mana uangnya? Mana!" teriak Malik dengan mata melotot sembari tangannya mencengkeram wajah Wati.

Kesalahan juga terjadi pada dialog Malik berikutnya.

Dialog sebelum di sunting:

"Pokoknya kamu harus melayani dia. Kalau tidak aku akan membunuhmu. udah aku mau keluar dulu."

Kesalahan terlihat pada penggunaan tanda baca, dan penggunaan EYD di dalamnya.

Dialog setelah di sunting:

"Pokoknya kamu harus melayani dia. Kalau tidak aku akan membunuhmu! sudah aku keluar dulu".

Kesalahan kalimat efektif juga terjadi pada kalimat "Wati terkaget saat lengannya ditarik seseorang". Pada kalimat (terkaget) seharusnya diganti menjadi (kaget).

Dan kesalahan terakhir berada pada pemformatan huruf pada bahasa daerah yang digunakan dalam dialog. Pada awal cerita penggunaan bahasa daerah dengan pemformatan huruf miring terjadi dari awal hingga halaman ketiga lalu pada halaman keempat dan seterusnya bahasa daerah yang digunakan tidak lagi menggunakan format huruf miring, sehingga tidak konsisten pemformatan huruf dalam bahasa daerah di cerpen tersebut.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun