Srikunti merasa hilang arah dan gamang melangkah, jati dirinya begitu runtuh dan rapuh . Penderitaan tiba-tiba yang ia rasakan bagaikan palu godam yang menghantam tajam. Saat itu dirinya bagai terjerembab ke dalam jurang. Ia bahkan tak bisa tersenyum bagai sang Moebius[1] yang dipaku jarum.
2
Â
Srikunti adalah "The Lady" sejati, ia hapus bayangan perempuan biasa itu perlahan-lahan. Ia sadari bahwa tangannya tak terlalu kuat untuk melakukan hal itu. Namun ia bisa berlatih syukur, meski tak selalu dengan benda hal itu diukur. Ia juga bisa berlatih rela, meski kadang kepahitan yang yang harus ditelan.Â
Seyakin-yakinnya ia merasa bahwa bersama bocah kecil dan para perempuan  yang mendukungnya , ia akan mampu melakukannya. Doa ia nafaskan di setiap pori-pori raganya, perlahan udara biru berhembus masuk dalam tiap sumsum tulang dan daging badannya.Â
Doa ia nafaskan di setiap pori-pori jiwanya, perlahan udara biru berhembus masuk dalam tiap nafas batinnya. Â Doa dan harapan Srikunti teraduk dalam cawan , keberanian dan tekad ia ikat erat. Srikunti lahir kembali, menjadi "The Lady" sejati, alhamdulillah.
Srikunti telah menjadi sejatinya "The Lady" . Perlahan ia asah pisau "otak"nya, ia kumpulkan dari serpih-serpih ilmu di kitab dan buku. Ia serap suara para alim , ia aduk pendapat para cerdik pandai hingga ia senantiasa tenang dan berisi.Â
Perlahan ia asah pisau "rasa"nya, ia amati tiap denyut emosi sekelilingnya. Ia hayati denyut hidup di jengkal kota, ia resapi denyut nafas di pori desa. Perlahan ia asah pisau "asa"nya, ia langkahkan kaki rancang gerak buat sekelilingnya. Ia jalankan tangan dan kakinya, untuk lahirkan asa yang berguna buat sesama. "The Lady" sejati benar-benar lahir dan siap mewakili anak negri.Â
Srikunti adalah "The Lady" yang siap mengabdi olah nafas rasa dan langkah untuk diramu menjadi sajian nikmat buat rakyat. Sajian yang ia ramu dengan komposisi gula garam rempah yang pas, sehingga ia "Srikunti" menjadi sejatinya "The Lady". Â Eudaimonia[2] bersemayam di jiwanya, Srikunti anggun menari siapkan langkah mengabdi untuk anak negri.
Sukajaya, 20072018 (Jam 01.00)