9.Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Lawrence Kohlberg adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal dengan teorinya mengenai perkembangan moral. Kohlberg mengembangkan teori ini sebagai lanjutan dari pekerjaan Jean Piaget tentang perkembangan moral anak-anak. Teori Kohlberg berfokus pada cara individu membuat keputusan moral dan bagaimana proses berpikir moral berkembang seiring bertambahnya usia. Kohlberg mengemukakan bahwa perkembangan moral tidak hanya terjadi secara bertahap, tetapi juga melalui tingkat-tingkat yang saling berkaitan.
Menurut Kohlberg, perkembangan moral seseorang berlangsung dalam enam tahapan yang terbagi dalam tiga tingkat yang berbeda: tingkat pra-konvensional, tingkat konvensional, dan tingkat pasca-konvensional. Setiap tingkat mencerminkan pola berpikir yang lebih kompleks dan lebih mendalam mengenai moralitas dan keadilan. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg:
1. Tingkat Pra-Konvensional
Tingkat ini biasanya terjadi pada anak-anak usia dini hingga sekitar usia 9 tahun. Pada tingkat ini, pemikiran moral didasarkan pada penilaian yang sangat langsung tentang hadiah dan hukuman. Anak-anak dalam tahap ini lebih memikirkan konsekuensi pribadi dari tindakan mereka, tanpa banyak mempertimbangkan norma sosial atau pandangan orang lain.
Tahap 1: Kepatuhan dan Hukuman
Pada tahap pertama ini, anak-anak mendasarkan keputusan mereka pada penghindaran hukuman. Mereka memahami bahwa jika mereka berperilaku buruk, mereka akan dihukum, dan jika mereka berperilaku baik, mereka akan dihindari dari hukuman. Oleh karena itu, moralitas mereka terfokus pada kepatuhan terhadap otoritas dan aturan.
Tahap 2: Kepentingan Pribadi dan Tukar-Menukar
Pada tahap kedua, anak-anak mulai memahami konsep pertukaran atau keuntungan pribadi. Mereka melihat moralitas dalam bentuk "tukar-menukar," di mana mereka melakukan sesuatu yang baik dengan harapan mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan sebagai imbalannya. Misalnya, seorang anak mungkin mematuhi aturan hanya untuk mendapatkan hadiah atau pujian.
2. Tingkat Konvensional
Pada tingkat konvensional, individu mulai mengembangkan pemahaman moral yang lebih kompleks yang mencakup kepentingan sosial dan norma-norma kelompok. Ini adalah tahap yang biasanya terjadi pada remaja dan dewasa muda, meskipun bisa berlanjut sepanjang hidup seseorang.
Tahap 3: Konformitas Sosial dan Kehendak Baik
Pada tahap ketiga, individu mulai berpikir lebih dalam mengenai peran sosial dan bagaimana tindakan mereka mempengaruhi hubungan dengan orang lain. Mereka berusaha untuk diterima dalam kelompok sosial mereka dan mengikuti norma-norma sosial untuk mempertahankan hubungan yang baik. Keputusan moral didasarkan pada keinginan untuk mendapatkan persetujuan atau menghindari ketidaksepakatan. "Menjadi orang baik" menjadi hal yang penting pada tahap ini.
Tahap 4: Hukum dan Orde
Pada tahap keempat, individu mulai memahami pentingnya aturan dan hukum dalam menjaga ketertiban sosial. Mereka percaya bahwa untuk menjaga stabilitas masyarakat, setiap orang harus mematuhi aturan yang ada, bahkan jika mereka tidak setuju dengan aturan tersebut. Moralitas pada tahap ini berfokus pada pelaksanaan hukum dan kewajiban sebagai anggota masyarakat.
3. Tingkat Pasca-Konvensional
Pada tingkat pasca-konvensional, individu mengembangkan pemikiran moral yang lebih abstrak dan berbasis pada prinsip universal tentang keadilan dan hak asasi manusia. Ini adalah tingkat moralitas yang lebih tinggi dan lebih reflektif.
Tahap 5: Kontrak Sosial dan Hak Asasi Manusia
Pada tahap kelima, individu mulai memahami bahwa hukum dan aturan adalah kontrak sosial yang dibuat untuk kepentingan bersama. Meskipun mereka menghargai aturan, mereka juga mengakui bahwa hukum harus dipertimbangkan dalam konteks hak asasi manusia dan keadilan sosial. Jika hukum tidak memenuhi prinsip-prinsip moral universal, maka hukum tersebut harus ditentang. Individu dalam tahap ini memahami bahwa kepentingan individu dan masyarakat dapat saling berkonflik dan perlu diimbangi.
Tahap 6: Prinsip Etika Universal
Tahap keenam adalah tahap moral tertinggi, di mana individu berpegang pada prinsip moral yang lebih tinggi, seperti keadilan, hak asasi manusia, dan kesetaraan. Moralitas pada tahap ini bersifat universal dan tidak tergantung pada peraturan sosial atau budaya tertentu. Individu yang berada pada tahap ini akan membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip etika yang berlaku secara global, bahkan jika itu mengarah pada pengorbanan pribadi atau konflik dengan hukum yang ada.
Kesimpulan
Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg menawarkan pemahaman yang mendalam mengenai cara berpikir moral individu berkembang seiring waktu. Kohlberg berargumen bahwa perkembangan moral adalah proses yang bertahap dan berurutan, yang mencakup pemahaman tentang aturan dan hukum, serta pemikiran moral yang lebih kompleks terkait dengan hak asasi manusia dan keadilan. Meskipun banyak kritik yang muncul terhadap teori ini, khususnya yang terkait dengan bias budaya dan gender, teori Kohlberg tetap menjadi fondasi penting dalam kajian psikologi perkembangan dan etika.
Kohlberg juga menyarankan bahwa pendidikan moral yang baik dapat membantu individu untuk berkembang lebih jauh ke tingkat moral yang lebih tinggi, dengan membantu mereka mengembangkan pemikiran kritis tentang keadilan dan etika. Dengan demikian, pemahaman tentang perkembangan moral ini dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan moral dan pembentukan karakter pada anak-anak dan remaja.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H