Anies Baswedan adalah salah satu Gubernur DKI Jakarta yang menjabat pada tahun 2017-2022. Beliau adalah seorang aktivis dan politisi Indonesia. Anies Baswedan lahir di Kuningan, Jawa Barat pada 7 Mei 1969. Anies melakukan pengabdian di dunia pendidikan melalui Gerakan Indonesia Mengajar yang ia dirikan pada tahun 2010. Program ini didirikan dengan tujuan mengirimkan pemuda-pemudi yang hebat untuk mengajar di pulau terpencil. Anies pernah menjabat menjadi seorang rektor di Universitas Paramadina pada usia 38 tahun. Saat menjabat menjadi rektor, Anies Baswedan menggagas beberapa inisiatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Puncak karier Anies Baswedan terjadi saat tahun 2014, dimana beliau diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam kabinet kerja 2014-2019.
Selain di dunia pendidikan, beliau juga berhasil mendapatkan banyak penghargaan dan mengikuti banyak konferensi di luar negeri. Berikut adalah beberapa penghargaan yang pernah diraih oleh Anies Baswedan yaitu, beliau termasuk ke dalam jajaran pahlawan transportasi dunia 2021 atau disebut 21 heroes 2021 dan berhasil membuat platform layanan digital Jakarta Smart City (JAKI) dimana program JAKI ini mendapatkan penghargaan sebagai “best in future of digital innovation” dalam ajang IDC Future Enterprise Awards 2021.
Beliau merupakan sosok yang cerdas dan penuh dengan ide yang cemerlang untuk memimpin Ibu Kota Jakarta. Namun, dibalik kecerdasan dan kehebatan beliau saat memimpin DKI Jakarta, beliau juga masih mendapatkan banyak kritikan dari masyarakat. Pasalnya, Anies sering membuat kebijakan kontroversial yang membuat perdebatan umum berkepanjangan.
Selama Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, beliau menghadapi permasalahan kesehatan salah satunya adalah COVID-19, dimana masalah tersebut membuat Anies mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi saat itu khususnya di Ibu Kota Jakarta.
Pada akhir tahun 2019, dunia mendapatkan permasalahan baru dimana masalah tersebut berawal dari Negara China tepatnya di Kota Wuhan. Permasalahan ini tidak hanya terjadi di China saja, tetapi juga menyebar secara cepat ke negara-negara lain. Permasalahan yang dihadapi kali ini berupa virus yang menyerang pernafasan dan virus ini disebut sebagai Covid 19. Penyakit Covid 19 ini memberikan gejala seperti penyakit pada umumnya, sehingga sulit untuk mengidentifikasi dan membedakan apakah terkena virus Covid 19 atau hanya penyakit biasa.
Beberapa gejala yang dapat dirasakan biasanya timbul secara bertahap, sehingga awal terinfeksi tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, sakit tenggorokan, hilang penciuman dan pembauan atau ruam kulit.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, cara penyebaran virus ini melalui droplet saluran pernapasan dan terjadi kontak secara dekat dengan orang yang telah terinfeksi. Awal ditemukannya metode penyebaran virus ini ketika mulai diterapkannya penggunaan masker dan adanya kebijakan untuk menjaga jarak sejauh 2 meter. Seperti yang kita ketahui, virus ini juga menyebar sampai ke Indonesia sehingga menjadi salah satu negara yang ikut mengalami pandemi Covid-19 selama 2019-2022. Kasus pertama Covid-19 yang muncul di Indonesia dikonfirmasi pada 2 Maret 2020.
Awalnya kasus Covid 19 yang terjadi saat itu dua pasien, yakni seorang perempuan yang berusia 31 tahun bernama Sita Tyasutami (pasien 1) dan ibunya yang 64 tahun yang bernama Maria Darmaningsih (pasien 2). Kasus penularan pertama berawal setelah pasien 1 melakukan kontak dekat dengan seorang Warga Negara Jepang yang ternyata positif COVID-19 saat diperiksa di Malaysia pada malam Valentine, 14 Februari 2020. Pasien 1 kemudian merasa kurang enak badan dan mengeluhkan gejala yang mirip COVID-19, seperti batuk, sesak, dan demam. Setelah dinyatakan positif COVID-19, pasien 1 langsung dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso. Pasien 2 yang merupakan ibu dari pasien 1 juga tertular setelah melakukan kontak dekat dengan anaknya dan didiagnosa mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebelum akhirnya diidentifikasi terinfeksi Covid-19.
DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara pun menjadi daerah yang paling banyak terjangkit Covid-19 karena mobilitas penduduknya sangat tinggi dibanding dengan daerah-daerah lain. Merespons dari banyaknya kasus Covid-19 yang terjadi di DKI Jakarta, Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta mulai mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menangani kasus ini. Kecepatan dan ketepatan penanganan wabah COVID-19 sangat bergantung pada proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin.
Dalam menangani kasus COVID-19, Anies Baswedan menggunakan pendekatan integratif untuk mengimplementasikan kebijakan yang ia buat, dimana kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada kesehatan tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan ekonominya terhadap masyarakat. Berbagai kebijakan dilakukan oleh Anies Baswedan untuk menangani kasus Covid-19 diantaranya, pembentukan Tim Tanggap Covid-19 pada 1 Maret 2020 yang bertugas membantu pemerintah dalam menangani dan mencegah penyebaran wabah, meluncurkan situs corona.jakarta.go.id dimana melalui situs ini masyarakat dapat mengetahui dokumen-dokumen kebijakan, seperti surat-surat atau instruksi gubernur yang mengatur pembatasan kegiatan masyarakat dan angka positif kasus COVID-19.
Selanjutnya, Anies Baswedan meniadakan kegiatan belajar tatap muka, menghentikan operasional kegiatan di kantor, dan menutup tempat-tempat hiburan. Anies Baswedan juga mengubah skala prioritas anggaran untuk mengalokasikan dana yang lebih besar dalam menangani wabah COVID-19. Segala bentuk penanganan untuk menghadapi wabah Covid-19 telah dilakukan oleh beliau, hal tersebut membuktikan bahwa beliau memiliki sifat inovatif dalam menanggapi kasus COVID-19 dan mengadopsi kebiasaan baru untuk mengurangi kenaikan angka COVID-19.
Adanya kontribusi beliau dalam mengeluarkan beberapa kebijakan yang ternyata kebijakan tersebut memiliki dampak signifikan terhadap penanganan Covid-19, salah satunya yaitu dampak dari kebijakan ganjil-genap yang masih berlaku hingga saat ini sehingga memberikan efek lain berupa berkurangnya kemacetan, meningkatnya kualitas udara dan mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi publik.
Anies Baswedan merupakan sosok pemimpin yang kemampuan keterampilannya patut dicontoh, salah satunya adalah keterampilan konseptual. Hal ini didukung oleh perencanaan strategis yang beliau lakukan dalam penanganan kasus COVID-19 dimana Anies Baswedan sangat peka dan paham bagaimana kondisi lingkungan yang sedang ia pimpin. Dengan kebijakan atau program yang telah dilaksanakan oleh Anies Baswedan selama masa krisis Covid 19 di Kota Jakarta, dapat dilihat jika beliau menggunakan beberapa gaya kepemimpinan.
Berbicara mengenai gaya kepemimpinan, Anies Baswedan dikenal dengan gaya kepemimpinan partisipatif, dimana ia selalu mendorong partisipasi dari masyarakat untuk menangani wabah pandemi. Pengertian dari gaya kepemimpinan partisipatif itu sendiri merupakan gaya kepemimpinan yang tidak melihat jabatan dari suatu individu, sehingga memiliki kekuasaan yang sama dan dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, terdapat ciri-ciri dari gaya kepemimpinan ini yaitu menerapkan budaya diskusi yang terbuka, sehingga seorang pemimpin dapat membantu dan melibatkan seluruh masyarakatnya dalam membuat keputusan serta seorang pemimpin akan meningkatkan kolaborasi dan dengan adanya perbedaan pengalaman atau ide yang berbeda akan membuahkan hasil kerja yang maksimal. Dari ciri-ciri yang sudah disebutkan dapat dilihat bahwa Anies Baswedan selalu memberikan informasi mengenai perkembangan kasus COVID-19 dan merangkul masyarakat untuk bersama-sama dalam mematuhi protokol kesehatan melalui berbagai media sosial.
Selain itu, Anies Baswedan menggunakan pendekatan situasional untuk memungkinkan kebijakan yang fleksibel dan responsif sesuai dengan kondisi yang berubah-ubah pada saat itu. Pendekatan situasional ini memiliki pengertian yaitu pendekatan kepemimpinan yang menekankan pentingnya pemimpin untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi dan kondisi yang ada di lingkup organisasi tersebut. Pendekatan situasional ini memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya yaitu, menuntut pemimpin untuk menjadi fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan, tidak hanya berperan sebagai pemimpin, namun juga sebagai mentor bagi anggotanya, dan memiliki komunikasi yang efektif karena komunikasi menjadi kunci untuk kepemimpinan situasional.
Beliau juga sering melakukan blusukan untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat, mendengarkan keluhan dan aspirasi dari mereka, ikut melaksanakan kegiatan sosial seperti kerja bakti, dan masih banyak yang lain. Gaya komunikasi yang digunakan beliau melalui media sosial maupun blusukan langsung membuktikan bahwa beliau menggunakan gaya kepemimpinan situasional dan beliau memiliki rasa kepedulian terhadap masyarakatnya.
Diketahui pula selama masa pandemi, Anies Baswedan menggunakan gaya kepemimpinan transformasional. Gaya kepemimpinan ini berfokus kepada hubungan pemimpin dengan masyarakatnya. Dimana gaya kepemimpinan transformasional ini pemimpin harus mampu memotivasi, menginspirasi, serta memperhatikan masyarakatnya.
Hal ini dibuktikan saat masa pandemi, Anies menginspirasi dan memotivasi masyarakat yang terkena COVID-19 untuk meyakini bahwa virus ini bisa musnah. Anies juga bekerjasama dengan media pers dan media masa dimana hal tersebut mempunyai peran penting bagi masyarakat untuk sarana membangkitkan kesadaran pemerintah serta masyarakat agar bisa mengendalikan virus Covid-19 bersama sama.
REFERENSI
https://www.academia.edu/35713425/Teori_Kepemimpinan_Situasional
7 Penghargaan Internasional Bergengsi Anies Baswedan - KapanLagi.com
https://www.gramedia.com/literasi/biografi-anies-baswedan/
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI