Hehe, itu kalau menulis dengan tema. Simbok kan terbiasa hanya menulis remeh temeh di kebun tanpa perlu pendalaman berarti. Kembali sering semangat petok berkotek di awal, tinggal perampungan ganti fokus jadi terlewat.
Indikasi yang terendus oleh naluri tajam penulis Dee Lestari. Beliau mengingatkan, biasakan target tamat. Artinya apa yang diawali mari dituntaskan jadi tulisan tamat.
Nah tentunya sangat berbeda dengan teman-teman yang melakukan kegiatan kepenulisan sebagai bagian hidup. Menyediakan waktu menulis dan draf langsung tamat. Mencatat ide saat menunggu kereta dan menyelesaikan di kesempatan berikutnya. Tanpa perlu berkotek terlalu ribut.
Beliau sudah memiliki budaya tradisi menulis. Menjadi kesukaan yang dilakukan dengan disiplin. Indikator hasil dari proses jadi acuannya.
Ini bukan masalah ketersediaan waktu. Lebih kepada komitmen kebiasaan merampungkan atau menamatkan apa yang dimulai. Menghasilkan butir telur kemilau dari tanda berkotek.
Adakah sahabat yang memiliki naluri berkotek? Jangan ikuti jejak Simbok, berkotek ramai tanpa telur nyata. Mari sesekali periksa folder draf. Syukur bila kosong artinya bakal telur sudah terwujud. Berkotek tanda si blirik bertelur.
Beberapa draf yang tersimpan di folder masih bisa diproses lanjut. Untuk artikel yang berbasis hardnews dapat dipoles menjadi model artikel feature. Beberapa calon mentah dapat dibersihkan. Biar petarangan siap dengan telur baru.
Mari berkotek. Petok...petok... menambah telur di petarangan.
Catatan: alamak... sulitnya menulis humor. Apresiasi untuk sahabat pengisi kanal ini, berbagi tawa inspirasi. Salam petok...petok... (JM, 2022)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H