Mohon tunggu...
novianggiana
novianggiana Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

mahasiswa dari kampus Polbangtan Medan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pembuatan Trichoderma sebagai Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Tanaman Cabai

27 Januari 2025   17:30 Diperbarui: 27 Januari 2025   17:28 32
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Budidaya komoditas pertanian, seperti cabai, menjadi sektor penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat. Namun, selalu ditemukan hambatan yang menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan hasil produksi pada tanaman cabai adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama, patogen, dan gulma. Setiap musim tanam, penyakit utama yang sering ditemukan pada tanaman cabai adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp.

Penyakit ini dapat mengakibatkan penurunan hasil sampai 50 persen lebih dan dapat terjadi sejak tanaman di lapangan sampai tanaman dipanen. Pengendalian penyakit antraknosa umumnya masih menggunakan pestisida kimia karena dianggap lebih mudah dan efektif. Namun, penggunaan pestisida kimia dalam jangka waktu yang panjang akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan maupun manusia. Oleh karena itu, diperlukan usaha pengendalian secara hayati yang dapat dilakukan untuk mengurangi residu terhadap penggunaan pestisida kimia.

Trichoderma, sp merupakan cendawan (fungi) yang termasuk dalam kelas ascomycetes, dimana Trichoderma, sp banyak ditemukan di dalam tanah hutan maupun tanah pertanian atau pada tunggul kayu. Trichoderma sp. adalah jamur antagonis yang dapat digunakan sebagai pengendali hayati penyakit antraknosa pada tanaman. Trichoderma sp. dapat mengendalikan penyakit antraknosa karena sifatnya yang hiperparasit dan aktivitas selulotiknya.

Alat dan Bahan Membuat Trichoderma

Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat starter Trichoderma dari rumpun bambu, yaitu:

Wadah bersih

Nasi dingin 1 -2 mangkuk (ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan)

Bambu 3 ruas (lebih bagus yang baru ditebang)

Tali/karet untuk pengikat

Kain bersih

Sendok bersih

Toples bersih

Alat dan bahan yang digunakan dalam perbanyakan Trichoderma, yaitu :

Wadah bersih

Nasi dingin

Biang trichoderma

Sendok

Kain bersih

Tali/karet untuk pengikat

Cara membuat biang Trichoderma

Siapkan wadah yang akan digunakan untuk mengisolasi trichoderma.

Masukkan akar bambu yang sudah diambil dari hutan atau kebun bambu, akar bambunya tidak perlu dibersihkan, biarkan sisa tanah menempel pada akar bambu. Kemudian masukkan ke wadah sampai sepertiga bagian.

Kemudian tebar nasi secara merata diatas akar bambu.

Tutup permukaan nasi menggunakan daun bambu.

Selanjutnya tutup wadah menggunakan kain dan diikat dengan karet agar serangga tidak bisa masuk.

Tunggu 5-15 hari sampai tumbuh jamur putih, dan hijau tua.

Cara membuat perbanyakan Trichoderma

Siapkan wadah yang akan digunakan untuk perbanyakan Trichoderma..

Masukkan nasi dingin kedalam wadah perbanayakan.

Ambil biang Trichoderma menggunakan sendok bersih .

Tabur biang Trichoderma diatas nasi kemudian ratakan.

Selanjutnya tutup wadah menggunakan kain dan diikat dengan karet agar serangga tidak bisa masuk.

Tunggu 7 hari sampai jamur hijau tua menjadi membanyak diatas permukaan nasi.

Pengaplikasian jamur Trichoderma 

Trichoderma sp sangat efektif dalam upaya pencegahan serangan Patogen (preventif). Jadi aplikasinya akan jauh lebih efektif sebelum tanaman diserang. Hal yang perlu diperhatikan saat aplikasi trichoderma adalah jangan mencampur nya dengan pupuk ataupun pestisida kimia karena dikhawatirkan Trichoderma sp bisa mati. Lebih aman jika dicampur dengan pupuk kompos, karena pupuk kandang atau pupuk kompos sangat mendukung perkembangan jamur-jamur yang menguntungkan tanaman termasuk Trichoderma sp.

Trichoderma digunakan untuk pengendalian antraknosa dengan cara:

Penyemprotan: Semprotkan Trichoderma ke tanah atau sekitar perakaran dan batang tanaman dengan menggunakan sprayer.

Perlakuan benih: Campurkan 6-10 gram bubuk Trichoderma per kilogram benih sebelum disemai.

Perlakuan pembibitan: Aplikasikan 10-25 gram bubuk Trichoderma per 100 meter persegi bedengan pembibitan.

Berikut adalah beberapa kandungan dan cara kerja jamur Trichoderma sp. dalam pengendalian antraknosa:

Sifat hiperparasit: Jamur Trichoderma sp. memiliki sifat hiperparasit terhadap jamur patogen.

Aktivitas selulotik: Jamur Trichoderma sp. memiliki aktivitas selulotik.

Mekanisme mikroparasit: Jamur Trichoderma sp. memiliki mekanisme mikroparasit yang terdiri dari menempel, membelit, dan menembus hifa jamur patogen.

Membentuk hifa: Spora jamur Trichoderma sp. menempel pada jamur lain dan membentuk hifa yang mengikat dan menggulung jamur lain hingga mati.

Menghasilkan zat asam: Jamur Trichoderma sp. menghasilkan zat asam yang dapat melarutkan elemen jejak yang tidak larut dalam tanah.

Meningkatkan pertumbuhan tanaman: Jamur Trichoderma sp. dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Dengan penggunaan rutin secara berkala pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma, sp akan memberikan mafaat yang lebih baik daripada pupuk dan fungisida kimia.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun