Mohon tunggu...
Riqko Nur Ardi Windayanto
Riqko Nur Ardi Windayanto Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Nasib, Pendekatan Biokultural, dan Pemertahanan Bahasa Indonesia

28 Oktober 2021   15:30 Diperbarui: 28 Oktober 2021   15:34 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Konstitusi pada Pasal 36 UUD 1945 telah mengabsahkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang dalam praktiknya, ia juga menjadi bahasa nasional. 

Akan tetapi, konstitusi itu berkontradiksi dengan peristiwa ketika negara memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan yang di dalamnya, negara tidak menjelaskan sama sekali bahasa apa yang dimaksud untuk diwajibkan dalam pembelajaran di skala pendidikan tinggi. Kontradiksi ini memperlihatkan bahwa agenda nasional warga negara ialah menonton pertunjukkan paradoksal. 

Kita menghendaki nasib bahasa Indonesia bisa dirawat oleh negara, tetapi ada persoalan struktural—terutama politik—yang tidak sejalan dengan kehendak itu. Padahal, bahasa merupakan manifestasi empat konsensus bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI (Syam dalam Siregar, 2018). 

Selain itu, perjalanan bahasa juga mencerminkan perjalanan bangsa. Hal itu karena di dalam bahasa Indonesia yang lahir dari janin bahasa “Melayu Revolusioner” telah merekam cerita abadi bangsa ini, baik secara historis, kultural, maupun intelektual (Anderson, 2000; Bhabha, 1990).  

Hari-hari ini, bahasa Indonesia menghadapi tantangan internal dan eksternal. Internalitas tampak pada tersisihkannya bahasa Indonesia sebagai subjek ilmu pengetahuan karena dianggap “sudah mampu berbahasa Indonesia”. Memang, sejauh ini belum ada riset-riset kebahasaan yang komprehensif, yang mampu menunjukkan persepsi masyarakat Indonesia terhadap bahasa Indonesia. 

Namun, secara sosiolinguistis, dapat dipostulatkan bahwa ketersisihan itu mencerminkan rendahnya sikap kebanggaan berbahasa (Salam, 2021; Thomas dan Wareing, 2007). Sementara itu, secara eksternal, terjadi intrusi kultural berupa masuknya bahasa-bahasa asing, baik secara formal maupun informal, di kalangan masyarakat, seperti bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan terakhir, bahasa Cina. 

Persoalan struktural, terutama nonkebahasaan, seperti ekonomi, politik luar negeri, sosial, dan relasi internasional, menjadi konstelasi faktor yang justru membentangkan “karpet merah” bagi kedatangan bahasa-bahasa tersebut. Masyarakat seakan-akan harus bisa berbahasa asing sebagai warga dunia. Selain itu, gejala ini juga tampak pada masifnya penggunaan bahasa-bahasa asing di berbagai papan linguistik atau ranah publik karena dianggap berprestise (Salam, 2010; Kusumaningsih, 2018).

Menjadi Pemenang di Tengah Perang Ketidakmungkinan

Menyikapi problem kebahasaan perlu memperhatikan konteks masyarakat global yang semakin terjerembab dalam modernisme dan kapitalisme. Kontestasi ideologis membentuk keyakinan publik bahwa menguasai bahasa asing bukan hanya syarat, melainkan cara untuk menguasai arena politik, ekonomi, sosial, dan budaya global. Situasi ini merefleksikan bahwa sejatinya, sangat tidak mungkin jika mengatasi masalah kebahasaan dengan melawan, apalagi berupaya menyingkirkan bahasa-bahasa asing yang telanjur berkembang pesat di masyarakat. Ketidakmungkinan ini menghadirkan situasi yang dilematik karena pada saat yang sama, kita berhasrat mempertahankan bahasa Indonesia, sedangkan pengaruh bahasa-bahasa asing itu semakin besar. Sejak memasuki rezim Orde Baru hingga titik Reformasi, misalnya, penyerapan bahasa-bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia terjadi secara sporadis yang memperlihatkan bahwa repertoar kebahasaan kita tergantung dan ditentukan oleh bahasa-bahasa asing (Jalal, 2001).

Dalam pada itu, penulis memandang pendekatan biokultural sebagai jalan ideal yang perlu ditempuh dalam rangka pemertahanan bahasa Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan pemertahanan bahasa merupakan konsep teoretis untuk mengatur kesetiaan, kebanggaan, dan kesadaran berbahasa untuk menjaga kesinambungan bahasa Indonesia (Spolsky, 2012). Sementara itu, pendekatan biokultural berpijak pada karakteristik masyarakat Indonesia sebagai komunitas berbahasa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural-multikultural (Parekh, 2008). 

Masyarakat Indonesia yang berbineka mengimplikasikan bahasa yang beraneka dan kompleks. Dalam hal itu, pendekatan biokultural menawarkan wacana bahwa bahasa-bahasa ibu di Indonesia begitu beraneka, kompleks, dan plurilinguistis (plural) sehingga dapat menjadi sumber pemerkaya bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa ibu, atau disebut bahasa-bahasa daerah, merepresentasikan keberagaman estetika, intelektual, budaya, dan nilai keilmuan berbagai kelompok masyarakat Indonesia (Maffi, 2000; Crystal, 2000; Nickel, 1995; Blake, 2002).

Pendekatan biokultural menekankan agar negara membuka ruang akademik dengan memfasilitasi riset-riset kebahasaan sebagai bentuk praksis dari pendekatan ini. Riset-riset tersebut perlu dilakukan dengan mengeksplorasi dan menelusuri kelompok-kelompok budaya di masyarakat yang terikat menurut suku, agama, budaya, mata pencaharian, dan berbagai domain-domain sosial budaya. Lapian (2007) pernah melakukan riset pada masyarakat maritim. 

Risetnya memperlihatkan betapa nelayan sangat kaya dengan berbagai kosakata tentang angin. Para nelayan memiliki istilah-istilah untuk menyebut jenis-jenis angin, baik ditinjau dari arah datang, ciri pergerakan, intensitas, waktu kedatangan, arah tujuan, dan dampaknya terhadap kegiatan melaut. Kosakata ini tentu berbeda dengan masyarakat di lingkungan urban yang barangkali hanya mengenal beberapa istilah jenis angin, seperti angin putting beliung, angin topan, dan angin kencang. Dengan demikian, istilah-istilah kebahasaan dari masyarakat lokal bisa diserap dan ditelusuri untuk diinternalisasikan sebagai kekayaan bagi bahasa Indonesia.

Contoh dari Lapian hanyalah contoh tunggal pada nelayan. Suhandano (2004), dalam disertasinya, memaparbentangkan bahwa petani di Yogyakarta memliki banyak kosakata untuk menyebut jenis-jenis tanaman dalam bahasa Jawa. Bahkan, tanaman-tanaman itu banyak yang belum memiki penyebutan dalam bahasa Indonesia. 

Dengan demikian, kata-kata dari bahasa Jawa tersebut dapat ditelusuri untuk diolah ke dalam bahasa Indonesia. Dua contoh itu memperlihatkan bahwa pengembangan bahasa Indonesia yang berpijak pada kekayaan bahasa-bahasa daerah semestinya menjadi konsep teoretis-filosofis dalam pengambilan kebijakan bahasa. Alih-alih memperkaya kata serapan dari bahasa asing, negara harus mempromosikan dan memanfaatkan keanekaragaman biokultural sebagai gudang pengetahuan dan keunikan budaya dari berbagai kelompok masyarakat di Indonesia (Spolsky, 2012).

Dalam pemertahanan bahasa Indonesia, sejarah yang perlu diingat adalah bahasa ini lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap bahasa-bahasa kolonial—terutama bahasa Belanda. Bahasa itu merupakan pembentuk spirit nasionalis-pragmatis  untuk membangun nasionalisme (Sumarsono, 2002). Dengan demikian, untuk menata ideologi nasionalis tersebut, pemertahanan bahasa bukanlah berakar pada bahasa-bahasa asing, melainkan kembali pada “rumah” kita sendiri, yaitu bahasa-bahasa lokal.

 Hal itu tidak hanya memungkinkan bahasa Indonesia tetap bertahan, tetapi sekaligus membentuk masyarakat yang mampu mengembangkan bahasa dan memompa gairah untuk tetap setia menggunakan bahasa Indonesia. Kesetiaan itulah yang pada gilirannya akan membentuk kebanggaan berbahasa dan terus berupaya mengelola atau merencanakan pengembangan bahasa ke depannya.

Merawat Nasib Bahasa, Meruwat Keutuhan Bangsa

Tulisan ini telah menegosiasikan wacana alternatif mengenai pemertahanan bahasa Indonesia dengan menimbang konteks internal dan eksternal yang mendeterminasikan nasib kebahasaan kita. Kendati masalah itu terus ada, pemertahanan bahasa Indonesia adalah suatu keniscayaan dan konsekuensi budaya yang tak tersangkalkan. Apakah pendekatan biokultural bisa menjamin nasib baik bahasa di hari-hari depan berikutnya? Pertanyaan itu adalah teka-teki yang mesti dipecahkan oleh negara dan pemerhati bahasa. Namun, pada intinya, ia bisa menjadi ikhtiar kultural kita untuk merawat nasib bahasa dalam rangka meruwat keutuhan bangsa.

Tulisan ini merupakan juara kedua dalam Politic Cup 2021, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Judul semula tulisan ini ialah "Merawat Nasib Bahasa, Meruwat Keutuhan Bangsa: Pendekatan Biokultural sebagai Kajian Awal dalam Pemertahanan Bahasa Indonesia". Diunggah dengan sedikit revisi teknis. 

Anderson, B. R. O. (2000). Kuasa Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Bhabha, H. K. (1990). Narrating the Nation. London: Routledge.

Blake, M. (2002). Diversity, Survival, and Assimilation. Journal of Contemporary Legal Issues, 12(2), 637–660.

Crystal, D. (2000). Language Death. Cambridge: Cambridge University Press.

Jalal, M. (2001). Nasionalisme Bahasa Indonesia dan Kompleksitas Persoalan Sosial Politik. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, XIV(1), 81–92.

Kusumaningsih, D. (2018). Superioritas Bahasa Asing di Ruang Publik yang Menggerus Nasionalisme Bangsa. Jakarta.

Lapian, A. B. (2017). Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Depok: Komunitas Bambu.

Maffi, L. (2000). Linguistic and biological diversity: The inextricable link. In Rights to Language: Equity, Power, and Education (pp. 17–22). Mahwah: Lawrence Erlbaum Associates.

Nickel, J. (1995). The value of cultural belonging: Expanding Kymlicka’s theory. Dialogue, 33, 635–642.

Parekh, B. (2008). Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik. Yogyakarta: Kanisius.

Salam, A. (2010). Bahasa Indonesia, Perubahan Sosial, dan Masa Depan Bangsa. Humaniora, 22(3), 266–272.

Salam, A. (2021). Kesalahan dan Kejahatan dalam Berbahasa. Yogyakarta: Gambang Buku Budaya.

Siregar, R. (2018). Bahasa Indonesia Jaga Keutuhan NKRI. Retrieved from Sindonews.com website: https://nasional.sindonews.com/berita/1291485/15/bahasa-indonesia-jaga-keutuhan-nkri

Spolsky, B. (2012). The Cambridge Handbook of Language Policy. Cambridge, New York, Melbourne, Madrid, Cape Town, Singapore, São Paulo, Delhi, Mexico City: Cambridge University Press.

Suhandano. (2004). Klasifikasi Tumbuh-Tumbuhan dalam Bahasa Jawa. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sumarsono. (2002). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Lembaga Studi Agama, Budaya, dan Perdamaian (SABDA) dan Pustaka Pelajar.

Thomas, L., & Wareing, S. (2007). Bahasa, Masyarakat dan Kekuasaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun