Digital transformation pada dasarnya adalah penggunaan sistem digital dalam organisasi, bisnis, pendidikan, kesehatan dan lainnya secara efisien. 'Adaptasi' merupakan kata kunci untuk membudayakan pola penggunaan sistem digital di tengah masyarakat.
Adaptasi ini bukanlah hal mudah, di mana Indonesia merupakan negara kepulauan, jangkauan yang luas dengan 37 provinsi yang belum semuanya bisa akses internet dan belum semua teredukasi dengan teknologi.Â
Perlu dipersiapkan terlebih dahulu perangkat bangunan 'platform digital'Â dan tentu ini membutuhkan waktu untuk mengakselerasi seluruh sistem atau disebut dengan digital infrastructure.Â
Ada 3 hal penting dalam membangun adaptasi untuk transformasi ini, di antaranya participation (berpartisipasi-berkontribusi dalam tujuan yang sama), remediation (mengubah budaya lama ke arah inovasi budaya), dan bricolage (tetap memanfaatkan apa yang sudah ada untuk membentuk hal baru).Â
Tiga pilar ini tentu saja diharapkan dapat bersama-sama mendukung Super App yang digagas oleh pemerintah melalui kerja kolaboratif, adaptif dan efisien.
Ketiga, membangun prinsip inklusifitas dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Beralihnya kita pada Super App, bukan berarti mengesampingkan prinsip inklusifitas dan tanggung jawab sosial kita.Â
Dalam arti, pemindahan dunia 'fisik' ke dunia 'digital', bukan kemudian menjadikan kita sebagai 'pribadi' yang berbeda. Melainkan tetap menjadi diri sendiri dengan 'identitas' kita sebagai pribadi manusia, yakni 'makhluk sosial' dengan rasa 'empati dan emosional'.
Adapun tanggung jawab sosial-lingkungan di sini adalah, penting ke depan kita mulai memikirkan, bagaimana Super App juga bisa berkontribusi dalam management risk dampak sosial dan lingkungan.Â
Seperti halnya ketika kita, memesan ojek online melalui aplikasi, mungkin kita mulai berkontribusi pada pelepasan karbon yang dihasilkan dari 'transportasi' yang kita pesan.Â
Atau bagaimana kemudian kita turut berkontribusi pada pengurangan sampah plastic yang menjadi pembungkus 'barang' yang kita pesan melalui aplikasi. Ataukah mungkin kita juga bisa mulai berkontribusi dengan 'mengadopsi pohon' yang memberikan 'oksigen' melalui aplikasi, bahkan juga bersinergi dengan pola 'management waste'Â sebagai bentuk kontribusi kita terhadap tanggung jawab dari Super App.
Tiga hal di atas patut kita renungkan bersama, mulai menyusun strategi dalam membangun ekosistem Indonesia menuju digital life. Paling tidak harapannya 'sinergi dan kolaborasi' masih menjadi dua kata utama kita menuju pada Indonesia lebih baik.Â