Mohon tunggu...
Yuni Astuti
Yuni Astuti Mohon Tunggu... Perawat - Perawat, sedang belajar merawat hati anak dan keluarga

sedang belajar menulis, ibu dari 4 orang anak, perawat, yun.astuti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Perlukah Anak Dikenalkan Uang Sejak Dini?

19 Oktober 2014   23:46 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:27 66
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_367555" align="aligncenter" width="544" caption="Ilustrasi / Dok.multibenefit"][/caption]

Berapa uang saku yang diberikan kepada anak kita setiap harinya? Pas, lebih atau kurang dengan kebutuhan mereka? Memang, terkadang kita terlalu kasihan melihat anak-anak kita jika uang sakunya terlalu ngepres. Inilah, yang secara tidak langsung mengajarkan kepada anak tidak menghargai uang. Karena dengan mudah mereka mendapatkan uang setiap hari tanpa harus bersusah payah.

Bahkan, yang lebih tidak bener lagi jika kita tidak terlalu peduli apakah uang saku anak kita habis ataukah tersisa. Anak akan terbiasa menggunakan uang tanpa ada rasa tanggung jawab.

Beruntung saya, ketika anak-anak masih duduk di bangku TK, ada aturan bahwa anak tidak diperbolehkan membawa uang saku. Akan tetapi diwajibkan membawa bekal. Sehingga anak tidak akan jajan di luar sekolah ketika jam istirahat. Mereka membuka bekal masing-masing sebagai ganti uang saku.

Bagi anak-anak saya, tidak membawa uang saku saat sekolah, saat masih TK, tidak terlalu bermasalah. Karena saya belum mengenalkan uang kepada anak saya, sampai mereka menjelang masuk Sekolah Dasar. Jadi anak-anak saya tidak mengetahui nilai nominal uang. Mana yang seribu, mana yang limaratus rupiah. Tidak tahu sama sekali. Yang dia tahu hanyalah bentuk uang, kertas atau logam, tetapi tidak mengetahui nilai masing-masing uang.

Saya mulai mengenalkan nilai uang dan mengajarkan cara penghitungannya, ketika membeli sesuatu, saat menjelang masuk Sekolah Dasar. Di bangku SD mereka boleh membawa uang saku. Dan, lagi-lagi saya beruntung. Ada batasan jumlah uang saku yang dibawa sekolah. Tiga tahun yang lalu hanya diperbolahkan membawa uang saku maksimal 2000 rupiah. Jika ketahuan lebih, maka sisa uang tersebut  wajib  dimasukkan ke kotak infaq.

Segala sesuatu pasti ada nilai positif dan negatifnya. Demikian juga jika anak tidak mengetahui nilai uang.

Positifnya, anak menjadi tidak suka jajan sembarangan. Anak akan selalu minta ijin dulu jika ada tukang siomay, bakso, penthol atau yang lain. Dan selanjutnya saya menemani mereka membeli, tentu saja jajan yang saya yakin tentang kebersihannya.

Karena anak tidak tahu bagaimana cara menghitung jumlah uang jika ada kembaliannya. Anak juga cenderung tidak terlalu seneng uang, atau dalam bahasa populernya "mata duitan".

[caption id="attachment_367539" align="aligncenter" width="300" caption="Berbagai nilai uang dalam rupiah (dokpri)"]

14137118621481773443
14137118621481773443
[/caption]

Bukan bermaksud menyombongkan anak-anak saya, yang terjadi dengan anak-anak saya demikian adanya. Ini saya perhatikan ketika kami pulang ke kampung halaman, mudik istilahnya. Meskipun kampung halaman tidak terlalu jauh, ikut memakai istilah mudik he..he..

Ketika di kampung anak-anak seusia anak saya banyak juga. Dan ternyata sudah menjadi kebiasaan bahwa pada saat anak-anak bermain mereka selalu nggegem (menggenggam) uang. Ada yang seribu, dua ribu bahkan ada yang sampai lima ribu rupiah. Uang sejumlah itu sudah lumayan cukup bahkan lebih. Karena memang di kampung masih ada jajanan yang harganya 500 rupiah. Kalau 5000  rupiah, bisa dapat jajanan berapa itu..? Belum lagi saat pagi, sekolah bawa uang saku sendiri. Ketika sore pergi mengaji, bawa uang lagi...! wadhuh....! bisa-bisa dompet para ibu langsung kempes...! Pesss...!

Bisa dihitung, jika sehari satu anak menghabiskan uang jajan antara  5000-10.000 rupiah sehari. Bagaimana jika anaknya ada dua, tiga atau mungkin lebih. Berapa rupiah yang harus dikeluarkan hanya sekedar untuk beli jajanan yang belum tahu kepastian kebersihannya ? Apalagi sebagian besar dari ibu mereka tidak bekerja. Betapa pusingnya jika kecil-kecil sudah "mata duitan" ?

Duit yang digembol (dibawa kemana-mana) anak-anak tersebut biasanya dibelanjakan ketika saat bermain, kemudian ada penjual jajanan yang lewat.

Karena anak-anak saya tidak terbiasa membeli jajan sendiri,  ketika ada banyak penjual jajanan yang bolak-balik lewat di depan rumah, nggak ngaruh buat mereka.

Sampai ada kerabat yang bilang, "anakmu hebat ya...banyak bakul (penjual) tapi gak kepengen jajan.."  Ya karena sudah terbiasa gak "bisa beli" he..he..

Tapi ada negatifnya juga lho... Ketika saya minta tolong membeli sesuatu untuk keperluan dapur misalnya, anak-anakku gak berani.  Takut bingung dengan jumlah kembaliannya. Gaswat....!!  saya harus memberinya uang pas sesuai dengan harga barang. Untung kalau banyak uang pecahan. Aduh..repot juga rupanya...!!  Untuk mengantisipasi, saya berikan catatan kecil. Dan biasanya, tetangga yang punya toko sudah paham, dituliskan harga disamping nama barang dan skalian jumlah uang kembalian. Jadi, seandainya ada kekeliruan saya bisa mengeceknya kembali.

Bagaimana dengan bunda...? berbagi juga ya, jika ada pengalaman yang lebih bermanfaat..

Salam hangat,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun