Tahap Sensorimotor (0-2 tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai merasakan ketidaknyamanan ketika mendengar tangisan bayi lain, meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami emosi tersebut.
Tahap Praoperasional (2-7 tahun): Anak mulai menunjukkan respons emosional terhadap perasaan orang lain. Mereka mungkin menangis ketika melihat orang lain menangis, meskipun pemahaman mereka tentang situasi tersebut masih terbatas.
Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun): Di tahap ini, anak-anak mulai dapat memahami perspektif orang lain dengan lebih baik dan mampu membedakan antara perasaan mereka sendiri dan perasaan orang lain.
Tahap Operasional Formal (11 tahun ke atas): Remaja dan dewasa muda dapat berpikir abstrak dan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka terhadap orang lain. Mereka dapat merasakan empati yang lebih dalam dan kompleks.
Faktor yang Mempengaruhi Empati
Hoffman juga menyoroti beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan empati:
Lingkungan Keluarga: Keluarga yang mendukung dan hangat dapat membantu anak-anak mengembangkan empati. Ketika orang tua menunjukkan empati, anak-anak cenderung meniru perilaku tersebut.
Pengalaman Sosial: Interaksi dengan teman sebaya dan pengalaman di lingkungan sosial lainnya juga berperan penting. Anak-anak yang terlibat dalam kegiatan kelompok cenderung memiliki tingkat empati yang lebih tinggi.
Budaya: Nilai-nilai budaya dapat mempengaruhi bagaimana empati dipandang dan dipraktikkan. Dalam beberapa budaya, empati mungkin lebih dihargai dan didorong dibandingkan dengan yang lain.
Empati dan Moralitas
Hoffman berpendapat bahwa empati memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan moralitas. Ketika individu dapat merasakan dan memahami perasaan orang lain, mereka lebih mungkin untuk bertindak dengan cara yang mempertimbangkan kesejahteraan orang lain. Ini menjadi landasan bagi tindakan altruistik, di mana seseorang bertindak demi kepentingan orang lain tanpa mengharapkan imbalan.