Mohon tunggu...
Nining SuryaNingsih
Nining SuryaNingsih Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Hai temen-temen semua selamat datang di profil saya, dan terimakasih telah mengunjungi situs ini

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Lenyapnya Suara Rakyat: Media Dibajak

18 Mei 2022   09:34 Diperbarui: 18 Mei 2022   09:56 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Negara Indonesia, meskipun kebebasan pers sudah cukup terjamin, namun kepemilikan pers masih menjadi suatu masalah yang serius. Media dan pers masih banyak di kuasai oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan politik, sehingga menggunakan media sebagai jalan aksi permainan politiknya. Sudah seharusnya pers dan media bersikap netral dan adil dalam memberitakan sebuah isu, tidak memihak kepada siapapun, dan bertindak membela kepentingan public.

Baru-baru ini kasus pengeroyokan terhadap Ade Armando menjadi trending topik di media sosial. Kasus ini telah menenggelamkan aksi demo mahasiswa pada tanggal 11 April 2022 yang lalu. 

Para mahasiswa turun untuk mewakili masyarakat, dan menyuarakan aspirasinya terkait tuntutan Jokowi 3 periode atau wacana penundaan pemilu 2024, hingga isu harga sembako yang semakin melunjak ini pun lenyap seketika oleh kasus pengeroyokan yang di alami oleh Ade Armando.

 Padahal aksi demo mahasiswa ini lah yang lebih penting untuk di bahas, karena hal ini menyangkut dengan pemerintah, bukan tentang penganiayaan atau pengeroyokan terhadap Ade Armando.

Jelas sudah isu Ade Armando yang di bahas ini masuk kedalam pengalihan isu. Banyak sekali media yang menerbitkan pemberitaan Ade Armando ini, terlihat dari postingan yang di keluarkan oleh berbagai media sangat menggebu-gebu terkait pengulikan kasus Ade Armando. 

Ada beberapa hal yang menyebabkab media lebih tertarik untuk mengangkat kasus pengeroyokan terhadap Ade Armando, di bandingkan melirik aksi besar-besaran Mahasiswa pada 11 April kemarin. Penulis akan menulis beberapa alasan tersebuat dalam uraian berikut ini :

Pertama, para media di negara kita ini sudah tertutup atau sudah kebanyakan dibungkam oleh pihak pemerintahan, banyak media dalam hal meliput suatu kasus itu mencari bahan yang menjual, bukan lagi tentang menyuarakan suara rakyat.

Kedua, Kasus Ade Armando sendiri, sudah disiapkan jauh-jauh hari sebagai upaya untuk mengalihkan isu dan perhatian masyarakat Indonesia. Ade Armando dihadirkan ditengah-tengah aksi seolah-olah dia mendukung aksi mahasiswa, padahal dia hanya bahan untuk pengalih perhatian terutama pihak media. 

Lalu dia menyampaikan pendapatnya melalui wawancara langsung dilapangan ketika aksi, dan anehnya mengapa para reporter memilih dia bukan mahasiswa yang sedang melakukan aksi??

Banyak masyarakat yang sudah mengetahui sosok Ade Armando ini, beliau adalah seorang kontrovesi, yang di sebut-sebut juga sebagai penista agama. Maka dari itu, banyak wartawan yang meliput dan menjadikan dia sebagai narasumber yang bisa di jadikan sebagai bahan berita yang hendak di terbitkan. 

Karena dia seorang kontroversi, akan menjadi menarik minat para pembaca untuk mencari tahu isi berita yang ada di dalamnya. Banyak sekali media yang mencari isu kontroversi untuk menjual kepada masyarakat, karena media sudah mengetahui tingkat ketertarikan masyarakat kepada media itu sendiri.

Sudah jelaskan bahwa itu merupakan setingan agar perhatian masyarakat teralihkan dan para demonstran juga teralihkan perhatiannya ke Ade Armando. Serta orang-orang yang mengeroyok dia tersebut bukanlah peserta aksi melainkan orang yang sudah disediakan dari awal, buktinya orang-orang tersebut biarpun sudah diketahui identitasnya tapi tidak ada tindakan lebih lanjut dari pihak kepolisian. 

Dari hal ini jelas sudah bahwa kasus ini merupakan pengalihan yang disiapkan oleh pemerintah untuk mengalihkan pikiran masyarakat dalam penundaan pemilu.

Perubahan framing ini seharusnya sangat fatal jika dikaitkan dengan hukum etika jurnalistik. Media terkesan lebih banyak menonjolkan kekerasan yang di lakukan masa dari pada tuntutan yang di perjuangkan oleh mahasiswa untuk masyarakat. UU No.4 pasal 6 tahun 1999 tentang pers. 

Bahwa wartawan Indonesia tidak boleh menyalah gunakan profesi dan tidak menerima hak suap dari siapapun itu, karena wartawan dan media yang di Indonesia itu termasuk ke dalam independent.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun