Mohon tunggu...
Nina Sulistiati
Nina Sulistiati Mohon Tunggu... Guru - Senang menulis, pembelajar, senang berbagi ilmu

Pengajar di SMP N 2 Cibadak Kabupaten Sukabumi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

September Tak Harus Ceria

7 September 2024   19:59 Diperbarui: 7 September 2024   20:01 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber depositphotos.com

Malam itu hening, hanya suara jam dinding yang terdengar sayup. Rina terbaring lemah di kamarnya, tubuhnya demam sejak kemarin. Suara anak-anaknya terdengar di ruang tamu, diselingi tawa dan obrolan ringan suaminya dengan mereka, membuat hatinya semakin terasa hampa. Tak ada yang mengetuk pintu, tak ada yang bertanya apakah ia butuh sesuatu. Tak ada yang peduli.  

Hari ini seharusnya menjadi hari istimewa. Hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-26. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, suaminya tak ingat. Anak-anak pun tak peduli. Sejak awal pagi, ia menunggu ucapan sederhana, bahkan sekadar senyuman atau sapaan lembut dari mereka. Namun, semua hanya angan.

Rina teringat masa-masa awal pernikahannya dengan Arman. Dulu, perhatian Arman tak pernah kurang. Setiap detik terasa penuh cinta. Mereka membangun rumah tangga dengan harapan yang tinggi. Anak-anak mereka tumbuh di tengah kebahagiaan keluarga kecil yang sempurna. Tapi seiring waktu, perhatian itu pudar. Anak-anak semakin sibuk dengan dunia mereka sendiri, dan Arman? Ia seperti orang asing di dalam rumah mereka.

Rina mencoba berbicara dengan suaminya. "Mas, kamu masih ingat, kan, hari ini hari apa?" tanyanya pelan, berharap ada percakapan yang bermakna. Namun Arman hanya melirik sebentar, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

"Hari ini? Ah, biasa saja. Ada apa memangnya?" jawab Arman tanpa benar-benar memikirkan pertanyaannya. Suaranya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Hati Rina terasa seperti diremas. Setetes air mata nyaris jatuh, namun ia menahannya. "Tidak ada," ujarnya lirih, memilih untuk diam dan menelan kekecewaan yang semakin dalam. Ia menunduk, menyadari harapan-harapannya perlahan hancur.

Saat sakit yang mendera tubuhnya semakin membuatnya lemah, batinnya ikut terseret dalam kesedihan yang mendalam. Rina mulai bertanya-tanya, di mana salahnya? Apakah ia terlalu bergantung pada suami dan anak-anaknya? Apakah cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan? Mengapa saat ia sedang membutuhkan, mereka tak ada di sampingnya? Apa yang terjadi jika mereka sakit? Sebagai seorang ibu, Rina pasti memberikan perhatian khusus, merawat mereka, menyiapkan makanan, minuman serta obat disela-sela kesibukannya bekerja. Dia selalu menyempatkan waktu untuk mereka kapan pun. Tapia pa yang terjadi saat dirinya yang sedang terbaring sakit?

Malam ini saat semua penghuni rumah sudah tertidur lelap, Rina menulis surat singkat di meja samping ranjangnya. Tangannya bergetar, tetapi ia tahu, ini saatnya:

Baca juga: Doa dan Harapan

"Aku pergi. Jangan mencariku. Aku butuh waktu untuk merenung dan menemukan kembali arti hidup. Jaga diri kalian. -- Ibu."

Ia mengemas beberapa pakaian ke dalam tas kecil, mengenakan jilbab, dan meninggalkan rumah tanpa suara. Sebelum benar-benar melangkah keluar, ia memandangi rumah yang telah ia tempati selama bertahun-tahun. Matanya beralih ke foto keluarga yang terpajang di ruang tamu. Rina mengusapnya dengan lembut sebelum akhirnya melangkah pergi.

Malam itu, Rina memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren milik sahabatnya yang terletak di pinggiran kota. Di sana, ia ingin mencari ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang selama ini menyesakkan dadanya.

Di pesantren, ia menemukan kedamaian yang selama ini hilang. Ia berdoa, memohon petunjuk kepada Sang Pencipta. Setiap dzikir yang ia lantunkan, terasa seperti melepaskan beban yang selama ini menghimpitnya. Ia belajar bahwa hidupnya selama ini terlalu bergantung pada cinta manusia. Ia selalu berharap pada perhatian dan kasih sayang dari suami dan anak-anaknya, sementara ia melupakan sumber cinta yang paling hakiki.

Rina menyadari bahwa kekecewaannya karena salah dirinya sendiri. Ia yang terlalu mengikatkan hatinya pada mereka, berharap penuh tanpa menyadari bahwa manusia, sebesar apapun cintanya, memiliki keterbatasan. Suami dan anak-anaknya hanyalah manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan dan kelalaian. Cinta sejati, pikirnya, hanya ada pada Allah Swt.

"Ya Allah, aku terlalu bergantung pada mereka. Aku lupa bahwa hanya Engkaulah yang tak pernah mengecewakanku. Aku terlalu menuntut dari mereka, padahal Engkau selalu ada, meski aku sering melupakan-Mu," bisiknya, sambil memejamkan mata, menahan air mata yang kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena rasa syukur. Rina mengadu, menumpahkan segala keluh kesahnya

Ia menarik napas panjang, seolah beban berat yang selama ini ia pikul telah terlepas. "Sekarang aku sadar, aku harus menggantungkan cinta dan hidupku hanya kepada-Mu," gumamnya.

Di pesantren itu, Rina menemukan kembali jati dirinya. Ia mulai menerima bahwa manusia tidak akan selalu bisa memenuhi segala harapan. Ia belajar untuk lebih mandiri dalam mencintai dan menyayangi dirinya sendiri, tanpa harus menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Di dalam diamnya, ia telah belajar bahwa cinta sejati tak akan pernah mengkhianati, selama ia menambatkannya kepada Yang Maha Kuasa.

Cibadak, 6 September 2024

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun