Saya menduga tradisi main keras itu masih terjaga, atau setidakya tersisa di sudut-sudut pasar tradisional. Mereka merasa harus  fight untuk   survive, salah satu cara nya ya harus main keras. Karena mungkin hanya lapak itulah sumber pendapatan.Â
Belum lama ini di pasar induk, saya menyaksikan seorang  pedagang tempe baku pukul dengan pemilik toko gerabah. Penyebabnya, pemilik toko merasa penjual tempe makin merangsek masuk ke teras nya  ketika berjualan.
c. Mereka hidup dalam dunia  mereka sendiri
Ini jaman minimarket. Yang khas, pelayan minimarket sesibuk apapun dia, selalu menyapa dengan dengan : "selamat datang di ....(sebut nama retail), selamat berbelanja," Â kepada para pembeli.
Semua paham, itu adalah stratetgi pemasaran yang sengaja diterapkan. Seandainya para pedagang pasar tradisional yang selama ini galak ke pembeli,  ada waktu untuk menengok pola pelayananan a la  minimarket dan menerapkannya, maka wajah pasar tradisional, mungkin akan jauh lebih ramah.
===================
Ada dilema ketika kita ingin sekedar bernostalgia ke pasar tradisional, atau yang  lebih sosial oriented,  ingin memberdayakan para pedagang kecil di tengah gempuran peritel modern, tetapi ternyata sambutannya kurang enak. Butuh hati sekuat baja, hehehe lebay, untuk menerima perlakuan kurang baik para bakul galak.
Pemerintah sepertinya sedang gencar meningkatkan kualitas bangunan fisik pasar tradisonal. Satu persatu, dinaikkan status menjadi pasar tradisional modern. Tujuannya, menarik minat masyarakat untuk kembali berbelanja ke pasar tradisional dan  meningkatkan kenyamanan proses jual beli.
Namun mungkin masalah kualitas pelayanan  luput dari perhatian. Suasana "kebatinan" dalam komunikasi jual beli juga perlu diperbaiki, seiring dengan perbaikan sarana prasarana pasar.  Siapa yang bisa dan bertanggung jawab merubah kondisi ini?
* Tulisan ini pengalaman pribadi, tak kurang tak lebih. Â Bukan bermaksud menyudutkan pihak mana pun.
Salam.