Mohon tunggu...
Nikodemus Yudho Sulistyo
Nikodemus Yudho Sulistyo Mohon Tunggu... Dosen - Menulis memberikan saya ruang untuk berdiskusi pada diri sendiri.

Saya bergabung di Kompasiana sekedar untuk berbagi mengenai beragam hal. Saya menyenangi semua yang berhubungan dengan bahasa, sosial, budaya dan filosofi. Untuk konten yang berhubungan dengan kritik sastra, dapat juga ditonton di kanal YouTube saya yang bisa diklik di link profil.

Selanjutnya

Tutup

Sosok Pilihan

Gibran, Anak Muda dan Etika

24 Januari 2024   09:48 Diperbarui: 24 Januari 2024   10:08 357
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: https://static.gatra.com/foldershared/images/2024/msw/01-Jan/gibran_debat_iva.jpg

Ada banyak hal menarik di kontestasi Pemilu tahun ini. Selain memiliki lebih dari dua pasang capres dan cawapres, banyak fenomena politik yang seru untuk dibahas dan diperbincangkan. Namun, yang menjadi perhatian saya secara pribadi adalah event debat antara capres dan cawapres yang selalu menyisakan banyak hal menarik bahkan fenomenal. Setiap sesi debat selesai, internet terutama media sosial selalu dipenuhi dengan beragam komentar dan perdebatan lainnya. Uniknya, perdebatan tersebut tidak hanya membahas dari sisi isi atau tema, melainkan juga masuk ke ranah tata cara, perilaku dan etika para kontestan debat.

Hal menarik yang saya, dan banyak warga negara Indonesia, perhatikan adalah munculnya Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu cawapres. Sosok Gibran sebagai anak kandung Presiden Jokowi yang diusung Gerindra dan koalisinya sejak awal sudah menimbulkan polemik. Ada banyak yang mempertanyakan permasalahan konstitusional serta, lagi-lagi, etika.

Begitu juga ketika perdebatan terakhir antar cawapres, Gibran melakukan sebuah tindakan di atas panggung debat yang bagi beberapa orang dianggap berlebihan, tidak etis, dan bahkan melanggar aturan debat.

Saat itu, Gibran sedang memberikan pertanyaan kepada cawapres Mahfud MD, tetapi kemudian respon dari Gibran adalah dengan menambahkan sebuah gestur tertentu. Gestur yang digunakan Gibran inilah yang menjadi sorotan. Tidak hanya ramai di media sosial seperti X (yang dahulu adalah Twitter), tetapi juga beragam media, termasuk media asing.

Dilansir dari Kompas (Sumber), media asing ikut menyoroti gestur Gibran tersebut. Media Singapura, Channel News Asia menyoroti sikap Gibran yang dinilai kasar selama debat berlangsung. Gibran menunjukkan gestur merunduk dan berpura-pura mencari barang yang hilang ketika merespon jawaban cawapres Mahfud MD. Ia juga mengatakan, "Saya mencari jawaban Prof Mahfud. Saya sedang mencari, kok saya tidak menemukan jawabannya?". Hal ini juga dianggap tidak lebih dari gimik belaka.

Media Nikkei Asia dan South China Morning Post juga mengkritisi Gibran karena dianggap sengaja menggunakan istilah tidak umum agar terlihat cerdas, serta menggunakan pertanyaan tipuan yang menjebak.

Oleh sebab itu, isu etika menjadi semakin mengemuka karena selain gestur, dalam mempersiapkan dan memberikan pertanyaan kepada lawannya, Gibran cenderung diangga merendahkan dan kurang menghormati.

Dari sudut pandang lain yang bertentangan, saya melihat bahwa tidak sedikit pihak yang mendukung bahkan mengapresiasi tindakan Gibran ini. Gibran dianggap mampu 'mengimbangi' para cawapres lain yang lebih senior dan terutama cawapres Mahfud MD yang memili titel Profesor di depannya. Gesturnya yang dianggap kurang hormat dan tidak bertatakrama itu malah seakan menunjukkan semangat orang muda. Di luar, Gibran dikenal sebagai sosok yang sopan dan beratatakrama, tetapi di atas panggung debat, ia menjadi buas karena semua sosok dianggap sama dan merata, yaitu cawapres. Maka, persoalan etika kembali harus dipertanyakan karena panggung tersebut adalah panggung debat dimana setiap orang memang harus 'menyerang', mengkritisi, dan bahkan mengalahkan argumentasi lawan.

Tidak hanya itu, bagi mereka yang membela Gibran menjelaskan bahwa kritik terhadap Gibran dirasa tidak adil. Pertama, hanya karena Gibran lebih muda, perihal etika menjadi isu. Padahal, sebelumnya, capres Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo juga dianggap tidak memiliki etika ketika bersama-sama 'menyerang' capres Prabowo Subianto.

Etika pada dasarnya merujuk pada cabang ilmu filsafat  yang membahas tentang konsep benar dan salah (Sumber). John Rawls dalam bukunya yang berjudul A Theory of Justice, menjelaskan bahwa harus ada keseimbangan antara hak-hak individu seperti kebebasan, dengan prinsip atau hukum bersama di dalam kehidupan masyarakat. Ini maksudnya adalah bahwa setiap manusia pasti terikat dengan aturan-aturan dimana ia hidup. Inilah yang disebut etika.

Diluar pendapat saya pribadi, mendukung capres dan cawapres nomor urut berapa, saya hanya akan coba mendapatkan nilai-nilai tertentu dari isu ini serta berusaha menyimpulkannya.

Gibran bagi beberapa pihak dianggap mewakili kaum muda yang cerdas dan bersemangat. Tentu ini ada benarnya. Kaum muda masih memiliki idealisme yang didukung oleh fisik dan semangat mereka yang prima serta membara. Kaum muda masih mampu update dengan isu-isu terkini, memandang dan menginterpretasikan beragam hal dengan perspektif berbeda. Gibran seakan menjadi 'pahlawan' bagi kaum muda yang memiliki sifat dan semangat yang sama. Semangat yang besar ini masalahnya memberikan hal buruk lain, seperti kurangnya tata krama, kasar dan tidak etis.

Yang saya khawatirkan sebenarnya bukan pada performa Gibran di atas panggung debat tempo hari, melainkan lebih pada para pemuda yang menonton debat tersebut. Akan menjadi masalah bila kurangnya tata krama, kasar dan ketidaketisan tersebut tidak dianggap serius dan bahkan tidak diacuhkan sebagai pembenaran sifat mereka yang terlalu bersemangat tersebut.

Terlalu sederhana bila melihat gestur dan perilaku Gibran di atas panggung debat sebagai simbol atau representasi kaum muda Indonesia. Saya sedikit mewajari perilaku Gibran tersebut sebagai bagian dari performa alias penampilan di panggung, yang memang tujuannya sangat politis, kontestasi pemilihan umum tentunya. Namun, kita seagai kaum muda tidak bisa menggunakan contoh Gibran tersebut sebagai pembenaran atas perilaku negatif dan buruk kita, atau kaum muda.

Kita sebagai masyarakat, khususnya kaum muda, harus mampu mengambil pelajaran dari kejadian ini, tidak peduli apakah mendukung capres dan cawapres nomor urut 2 tersebut atau tidak. Jangan sampai perilaku buruk dan negatif, tidak etis dan tidak bertatakrama secara ekstrem dicarikan pembenarannya. Ketika seorang anak muda kurang ajar kepada orang yang lebih tua, diluar konteks atau isi dari masalahnya, dibenarkan hanya karena anak muda tersebut terkesan cerdas atau bersemangat. Kita harus mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Etika tidak harus selalu dipuja, tetapi sama sekali bukan untuk dihina.

Namun, bagaimanapun juga, saya dengan percaya diri mengatakan bahwa kontestasi Pemilu kali ini bisa dianggap sehat dan aman, paling tidak bila dibandingkan dengan Pemilu-Pemilu sebelumnya yang masih kental dengan nuansa perpecahan dan politik identitas. Semoga ketika pencoblosan yang akan segera dilakukan nanti juga berjalan dengan lancar, aman dan adil. Event debat di ajang Pemilu kali ini saya anggap sangat sehat, terlepas dari kualitas para calon. Dengan debat tersebut kita dapat melihat dengan lebih baik siapa calon yang memiliki kualitas, integritas, dan niat yang baik untuk membangun bangsa dan negara.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun