Mohon tunggu...
nialutfiyana
nialutfiyana Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menulis

Selanjutnya

Tutup

Sosok Pilihan

Verbal Abuse dalam Perspektif Q.S Al - Hujurat Ayat 11 - 12 : Membahas Kasus Gus Miftah

14 Desember 2024   15:49 Diperbarui: 21 Desember 2024   16:15 252
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gus Miftah dengan Penjual Es Teh ( sumber : oposisicerdas.com)

Dakwah mengandung arti mengajak, memanggil, terhadap  jiwa-jiwa yang fitrah untuk kembali ke agama Islam yang disebarluaskan secara damai tanpa ada paksaan untuk mengikutinya, karena agama Islam,  agama yang rahmatan lil - `alamin rahmat bagi seluruh umat. Mulana Miftah Habiburrahman sering disapa dengan Gus Miftah membawakan dakwahnya dengan cara yang ceplas-ceplos dan  berbeda dengan yang lain, disisi lain Gus Miftah yang dijuluki sebagai Presiden para pendosa, karena bisa mendamaikan orang  yang terjerumus didunia malam, sehinga  bertaubat. Seseorang dari dunia  hitam ke dunia putih itu butuh proses untuk menggapai dijalan yang benar, semua orang pasti mempunyai masa lalu, tinggal kita membingkai hal itu dengan positif atau negatif.

Sesuai dengan claim awal Gus Miftah dari awal, beliau berdakwah kepada kaum marjinal (lebih khusus pekerja dunia malam). Dari club ke club hingga ke tempat pijat plus plus beliau menyampaikan dakwahnya. Ide awal Gus Miftah memberikan dakwah bermula kepada kaum marjinal, itu saat beliau melaksanakan shalat di mushala sekitar Pasar Kembang, area lokalisasi di Yogyakarta. Di sana, ia aktif mengadakan kajian agama rutin yang diikuti oleh pekerja dunia malam. Gus Miftah berkata, para pekerja dunia malam kesulitan mendapatkan akses ilmu keagamaan ketika hendak mengaji di luar. 

Beliau berangkat dari keresahan pekerja malam karena tidak mendapatkan akses belajar ilmu agama. Tentunya bahasa kelompok seperti itu berbeda dengan masyarakat pada umumnya maupun orang yang sudah belajar agama.

Tradisi dakwah dari dunia malam hingga ke masyarakat secara luas membuat Gus Miftah terlihat "Kaget" dengan bahasa yang digunakan. Bagaimana tidak, yang awalnya cenderung menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami orang - orang yang bekerja di dunia malam, tapi itu tidak berlaku ketika harus diterapkan ke masyarakat luas.

Seharusnya Gus Miftah lebih memahami siapa target dakwahnya, harus menggunakan metode seperti apa, menggunakan bahasa yang bagaimana, dan harus bersikap seperti apa. Ketika sudah berilmu sebagai pendakwah juga harus memahami sasaran dakwahnya dalam kondisi apa dan cocok tidak dengan materi yang disampaikan. Bukan sasaran dakwah yang memahami pendakwah.

Sunhaji penjual es teh di Magelang, Jawa Tengah (sumber : Intan Aliva Khansa/kumparan) 
Sunhaji penjual es teh di Magelang, Jawa Tengah (sumber : Intan Aliva Khansa/kumparan) 
Lagi - lagi Gus Miftah, dalam berbaagai klarifikasi dan banyak pembelanya berkata bahwa "dakwahnya Gus Miftah memang seperti itu". Hal ini sama sekali tidak bisa dibenarkan! Tujuannya untuk bercanda, tapi apakah yang bersangkutan ikut tertawa? Apakah ikut senang dengan candaan Gus Miftah itu? Kembali lagi karena basic beliau berdakwah di tempat pekerja malam, mungkin hanya "guyonan" beliau yang seperti itu akan diterima dikalangan mereka.

Aksi Gus Miftah terhadap pedagang Es Teh


Berdasarkan video yang viral, Gus Miftah tampak menghentikan seorang pedagang es usai dirinya dicolek oleh KH Usman Ali yang duduk di sebelahnya. Ia memanggil pedagang es tersebut dan membuat pedagang tersebut berdiri diam di tengah-tengah para peserta acara.

Gus Miftah kemudian bertanya, apakah dagangan penjual es itu sudah laku. Saat itulah, ia mengeluarkan kata-kata kasar terhadap pedagang es tersebut. 

"Es tehmu jik okeh ra? Masih? Yo kono didol, g*blok! (Es tehmu masih banyak atau tidak? Masih? Ya sana dijual, g*blok!)" kata Gus Miftah sembari diiringi tawa para hadirin acara tersebut.

Belum selesai menghujani pedangang es tersebut dengan kata-kata kasar, Gus Miftah melanjutkan candaannya. Ia menyebut sudah takdir jika barang dagangan penjual itu tidak laku.

"Dol en ndisik, ngko lak rung payu yo wes, takdir (Jual dulu, nanti kalau masih belum laku, ya sudah, takdir)," lanjut Gus Miftah.

Sementara itu, pedagang es teh yang mendapat kata-kata kasar dari Gus Miftah hanya terdiam di tengah-tengah para hadiri yang tertawa. Banyak orang yang lantas bersimpati kepada pedagang es teh itu.

Di sisi lain, kritikan dan kecaman publik mengarah kepada Gus Miftah dan orang-orang yang terekam menertawakan pedagang tersebut.

Vebal Abuse dalam Perspektif Al Qur`an Surah Al - Hujurat Ayat 11 - 12 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١١

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim"

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ۝١٢
 

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang"
 

Berdasarkan Q.S Al - Hujurat ayat 11 - 12, bentuk - bentuk verbal abuse yang terdapat di dalam ayat tersebut terdapat 6 bentuk yaitu mengolok - olok, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk, berperasangka buruk, mencari kesalahan orang lain, dan menggunjing.

Verbal abuse yang dilakukan oleh Gus Miftah, yang menyebut seorang penjual es teh dengan kata "g*blok" termasuk bentuk mencela. Hal tersebut menjadi sorotan publik dan memunculkan perdebatan. Penggunaan kata "g*blok" yang berarti bodoh atau tidak cerdas telah dianggap merendahkan martabat orang lain dan bisa menyakiti perasaan.

Dalam perspektif Q.S Al - Hujurat, Ayat 11 -12, verbal abuse yang telah dilakukan oleh Gus Miftah dengan menyebut penjual es teh "g*blok" adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip - prinsip islam tentang menjaga adab dan etika adalam berbicara. 

Islam mengajarkan agar umatnya tidak merendahkan atau mencela orang lain dengan kata - kata kasar. Sebagai seorang tokoh agama, Gus Miftah seharusnya memberikan contoh yang baik dalam berbicara dan berinteraksi dengan sesama, sehingga tidak menimbulkan perpecahan atau rasa sakit hati.


INGAT !

Siapapun bisa menjadi Verbal Abuse, baik public figure, pendakwah, artis bahkan kita sendiri. Jadi, jagalah ucapanmu agar tidak menggores hati saudaramu.

Daftar Pustaka :

Jurnal Elementaria Edukasia
Volume 3 No 2 Tahun 2020
p-ISSN 2615-4625
e-ISSN 2655-0857
247 Kekerasan Verbal (Verbal Abuse) Dan Pendidikan Karakter
Edo Dwi Cahyo, Fertilia Ikashaum, Yuliandita Putri Pratama
KEKERASAN VERBAL (VERBAL ABUSE) DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Edo Dwi Cahyo, Fertilia Ikashaum, Yuliandita Putri Pratama
Institut Agama Islam Negeri Metro


Q.S Al - Hujurat Ayat 11 - 12

DAKWAH GUS MIFTAH DISEBUAH KELAB MALAM DISARKEM YOGYAKARTA

June 2023

AL-IDZAAH Jurnal Dakwah dan Komunikasi 5(1):47-56

DOI: 10.24127/al-idzaah.v5i1.3388

Oleh : Nia Lutfiyana, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Bahasa dan Sastra Arab/Semester 1

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun