Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penggiat Budaya | Pekerja Sosial

Orang biasa yang menulis hal-hal biasa

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Guru di NTT Harus Pandai Memanjat Pohon

25 November 2021   20:47 Diperbarui: 3 Desember 2021   09:02 595
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi belajar mengajar. (sumber: unsplash.com/@dead____)

Mereka akan berjuang sedapat mungkin mereka lakukan, pohon pun mereka akan panjat.

Pada hari ini, 25 November 2021, Indonesia merayakan Hari Guru Nasional dengan tema "Bergerak dengan hati, pulihkan pendidikan". 

Perayaan tahun ini sebagai bentuk pengakuan terhadap guru sebagai aktor utama dalam usaha memulihkan pendidikan yang sempat ambruk karena pandemi. Juga, sebagai bentuk penghormatan bahwa tanpa guru Indonesia tidak melangkah sejauh yang kita nikmati saat ini.

Namun, berdasarkan tema ini, ada indikasi bahwa guru dituntut untuk mengajar dengan sungguh-sungguh dan jangan bersungut-sungut. 

Mengajar dengan sungguh-sungguh yang dimaksud adalah mengajar dengan penuh kasih sayang, penuh ketulusan, penuh kejujuran, mengajar layaknya orang tua dan anak dan bila perlu selalu membawa mereka dalam doa. 

Proses pendidikan seperti ini dipercaya membawa pemulihan terhadap pendidikan sebuah bangsa. Karena kebaikan yang ditularkan bukan kejahatan yang akan membunuh pendidikan itu sendiri.

Proses pendidikan seperti ini penulis saksikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu kisah inspiratif yang sempat viral di media terjadi di Fatutasu, Miomaffo Barat, Timor Tengah Utara (TTU), NTT. 

Seorang guru berjalan kaki berjam-jam menuju sejumlah rumah siswanya untuk memberikan pelajaran menggunakan satu unit laptop berinternet.

Kisah lain datang dari bagian barat Flores, Manggarai, tepatnya di SD Langgo Satarmese. Seorang guru harus rela memanggul siswanya demi mendapatkan sinyal internet untuk mengikuti Asesemen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

Seorang guru memanggul muridnya untuk mendapatkan sinyal internet | Dokumen IG @nttupdate
Seorang guru memanggul muridnya untuk mendapatkan sinyal internet | Dokumen IG @nttupdate

Masih di daratan Flores, para guru Sekolah Dasar Inpres 92 Bean, Buyasuri, Lembata harus ke kebun memikul genset untuk mendapatakan jaringan internet demi mengisi survei lingkungan belajar secara online.

Di SMP Negeri 11 Poco Ranaka Timur, para siswa dipimpin oleh guru mendaki gunung Golo Ros untuk mengikuti ANBK. Di daerah lain, guru harus masuk keluar rumah untuk mengajar selama pandemi karena kesulitan akses jaringan telepon.

Beberapa kisah di atas merupakan sebagian kisah dari ratusan kisah yang tidak terekspos oleh media. Dan ini adalah kenyataan yang pernah dialami oleh penulis dimana mengajar di sekolah yang tidak memiliki akses internet dan listrik. Jangankan itu, akses buku bacaan pun masih susah.

Kondisi-kondisi seperti ini menuntut guru untuk melakukan lebih. Sehingga ketika tema bergerak dengan hati diusung dalam perayaan hari guru, sejatinya guru-guru di NTT bergerak melampaui hati mereka. 

Ada tenaga dan materi yang harus dikorbankan. Bahkan aset mereka seperti keluarga pun harus ditinggalkan demi menjalankan tugas sebagai seorang guru.

Meski demikian, ketidakadilan bagi guru masih saja tercipta. Berdasarkan Data BPS tahun 2019, guru di NTT adalah guru dengan gaji paling rendah bahkan ada yang digaji 85ribu per bulan. Ada yang 100ribu, ada yang 200ribu per bulan.

Artinya ada dua persoalan di NTT yang perlu diselesaikan. Akses jaringan internet dan kesejahteraan guru.

Khususnya untuk kesejahteraan guru, baru-baru ini pemerintah merekrut ratusan pegawai non PNS sebagai upaya menyetarakan kesejahteraan guru. 

Akan tetapi masih banyak yang belum lolos seleksi karena tidak memenuhi nilai ambang batas atau passing grade.

Artinya status guru honorer yang selama ini dipersoalkan belum selesai. Seharusnya kebijakan dalam penggunaan dana operasional sekolah memberikan kesejateraan yang layak kepada guru honorer meskipun ia tidak lolos seleksi guru P3K atau ASN.

Dilain sisi, pemerintah menerapkan kebijakan yang tidak memihak kepada kondisi sekolah maka guru-guru harus berjuang lebih ekstra, seperti beberapa kisah yang disebutkan pada awal tulisan ini.

Kebijakan kementrian pendidikan sebaiknya kontekstual dengan keadaan sekolah, atau setidaknya memberikan hak otonom kepada dinas pendidikan bahkan kepada sekolah untuk mengatur rumah tangganya sesuai dengan konteks yang mereka alami.

Karena umumnya para guru patuh pada sistem karena mereka ingin menyelamatkan nasib anak-anak didik mereka sehingga ketika pemerintah menerapkan metode yang tidak bisa terapkan, mereka akan berjuang sedapat mungkin mereka lakukan, pohon pun mereka akan panjat.

Salam!

Kupang, 25 November 2021
Neno Anderias Salukh

Bacaan terkait: Satu; Dua; Tiga; Empat; Lima

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun