Secara khusus di Iran yang melakukan pelonggaran pembatasan sosial sejak 11 April 2020, mengalami peningkatan jumlah kasus harian pada tiga minggu berikutnya setelah pelonggaran diberlakukan. Kondisi ini kurang lebih sama dengan melonjaknya kasus harian di DKI Jakarta pada empat minggu sejak mulai diberlakukan PSBB transisi.
Beberapa bulan yang lalu, ketika pemerintah pusat mulai mengumumkan era new normal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi daripada new normal. PSBB transisi merupakan pilihan pertama mengingat Jakarta yang merupakan pusat penyebaran Covid-19 belum sepenuhnya bebas dari lilitan virus corona.
Memang secara umum wilayah DKI Jakarta sudah menjadi hijau kuning yaitu jumlah kasus Covid-19 menurun, bahkan tidak ada lagi di beberapa wilayah. Akan tetapi, kewaspadaan terhadap lonjakan penyebaran perlu diantisipasi, perlu masa transisi menuju kondisi aman, sehat, produktif mengingat ada wilayah yang masih dikategorikan zona merah.Â
Selain kewaspadaan, menurut Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, penerapan PSBB transisi adalah bentuk ketidaksiapan Pemprov DKI Jakarta menuju era new normal. Karenanya perlu PSBB transisi sebagai periode edukasi, periode pembiasaan terhadap pola hidup sehat, pola hidup yang aman, pola hidup yang produktif sesuai dengan protokol Covid-19.
"Periode ini menjadi periode transisi. Saya katakan tadi menuju kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Periode ini juga adalah periode edukasi, periode pembiasaan terhadap pola hidup sehat, pola hidup yang aman, pola hidup yang produktif sesuai dengan protokol Covid-19," ujar Anies.
Karena itu, Pada masa PSBB transisi tersebut, Pemprov DKI melonggarkan aturan PSBB seperti memperbolehkan aktivitas perkantoran dan tak ada pembatasan waktu operasional untuk transportasi umum dengan mematuhi protokol kesehatan (Covid-19).
Namun, PSBB transisi berakhir buruk setelah peningkatan jumlah kasus dalam dua bulan terakhir mengalami trend peningkatan.Â
Sejak PSBB Transisi diterapkan, peningkatan kasus baru masih terlihat normal seperti pada saat PSBB Total dengan 147 kasus per hari atau 4.115 kasus dalam waktu satu bulan.
Kondisi ini berbeda setelah periode berikutnya. Rupanya masa transisi satu bulan tersebut mempercepat laju peningkatan kasus baru, sejak Perpanjangan PSBB transisi dari tanggal 3 sampai 16 Juli, rata-rata kasus baru yang terjadi per hari meningkat menjadi 271 kasus.
Kemudian angka tersebut naik pada perpanjangan masa PSBB transisi berikutnya yaitu 287 per hari. Tren peningkatan ini semakin menjadi-jadi hingga awal September 2020, kasus harian melampaui angka 1000.
Merespon hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta menarik rem darurat dengan menerapkan kembali PSBB Total seperti awal pandemi. Data dan kebijakan Pemprov DKI sebagai bukti bahwa PSBB Transisi gagal total dalam upaya penanganan Covid-19.
Berdasarkan hal tersebut, apakah era new normal yang diterapkan pemerintah akan berhasil?
Juni 2020 lalu, media melaporkan kegagalan penerapan new normal di sejumlah negara yaitu Iran, Meksiko, Pakistan dan India.
Secara khusus di Iran yang melakukan pelonggaran pembatasan sosial sejak 11 April 2020, mengalami peningkatan jumlah kasus harian pada tiga minggu berikutnya setelah pelonggaran diberlakukan.
Kondisi ini kurang lebih sama dengan melonjaknya kasus harian di DKI Jakarta pada empat minggu sejak mulai diberlakukan PSBB transisi.
Direktur Eksekutif Center for Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine FKUI-RSCM, Tifauzia Tyassuma mengatakan bahwa tidak ada satupun negara yang berhasil menerapkan new normal tanpa menyelesaikan masalah kesehatan terlebih dahulu seperti negara-negara yang disebutkan sebelumnya.
"Negara-negara yang telah menerapkan new normal itu semua gagal. Sebut saja mana negara yang menerapkan new normal dan berhasil? Nggak ada satupun. Kalau kita bilang Vietnam, dari awal mereka melakukan langkah intervensi kesehatan mereka luar biasa bagus. Karena itu jumlah mortalitas mereka sangat kecil. Kenapa? Karena dari awal intervensi mereka tepat. Begitu juga dengan Malaysia," kata Tifauzia kepada kumparan.
Sementara Presiden Joko Widodo mengumumkan penerapan kebijakan new normal di Indonesia pada 15 Mei lalu. Penerapan tersebut di saat kurva pandemi di Indonesia belum menunjukkan tanda penurunan sejak April 2020.
Sementara cakupan tes Covid-19 dengan menggunakan apus tenggorokan di Indonesia juga tergolong rendah sedunia. Proporsi tes di Indonesia jauh lebih rendah dibanding negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Juga, jumlah infeksi Covid-19 Indonesia juga tergolong yang tertinggi di dunia.
Kembalinya PSBB di Jakarta menunjukkan bahwa Indonesia menerapkan era new normal pada saat masalah kesehatan belum diselesaikan. Oleh karena itu, kita jangan kaget jika era new normal di Indonesia akan gagal dan kebijakan darurat militer akan diterapkan.
Salam!!!
referensi:Â satu;Â dua;Â tiga;Â empat;
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI