Hari keenam Ramadan yang cukup cerah. Walau geluduk dan hujan sempat mengguyur kotaku tadi siang. Selepas asar, aku segera bersiap untuk berjualan.
Bismillah, semoga berkah.
Bermacam minuman serba lima ribu kubawa dengan kresek besar. Kutata dengan rapi di meja lipat, dan tersenyum menanti pembeli. Sambil tak lupa terus berzikir dalam hati, agar hati tak terusik dengan apa pun yang terjadi.
Mau laris atau tidak, kuserahkan semua kepada Yang Maha Kuasa.
Satu persatu para pejalan mulai berdatangan. Mereka jalan-jalan sore untuk ngabuburit, menanti magrib datang. Ada yang hanya melirik jualanku, ada pula yang pandangannya lurus, menatap ke depan. Dan berlalu begitu saja.
Pedagang cireng dan kentang spiral di dekatku mulai dikerubungi pembeli. Aku ikur bersyukur, melihat bestie-bestieku sibuk melayani.
"Berapa ini, Teh?" seorang anak kecil seusia anakku datang. Ia menunjuk es jelly lumut rasa melon. Salah satu tangannya memegang lengan ayahnya.
Aku menyambutnya dengan tersenyum.
"Lima ribu, Neng. Mau?"
Si anak menatap ayahnya.
"Pah, mau!"
Tangan kecilnya, menggoyang-goyangkan lengan sang Ayah.
"Boleh!" sang Ayah mengangguk.
"Beli satu, Teh!" si anak mengambil satu jelly.
"Baik, Neng!"
Kambil kresek kecil, kumasukkan jelly lumut itu. Anak itu menerimanya dengan riang.
Si Ayah mengangsurkan uang lima ribu, yang kuterima dengan penuh rasa syukur.
Mereka pun berlalu. Berturut-turut pembeli datang. Mereka membeli jelly buatanku. Alhamdulillah, tujuh buah jelly telah diambil pembeli. Uang tiga puluh lima ribu tampak menyesak di dompetku.
Seorang berbadan kekar, mendekati mejaku. Dia menyodorkan secuil kertas bertuliskan angka lima ribu.
"Uang keamanan, Bu!" katanya tanpa basa-basi.
"Oh, iya, sebentar, Pak!" segera kucabut uang lima ribu dari dompet, kuniatkan sebagai sedekah, dan kuserahkan kepadanya. Dia mengangguk hormat, lalu menuju bestieku lainnya.
Tak lama kemudian, datang pula seorang bapak menenteng sapu lidi, mendekatiku.
"Maaf, Bu, uang kebersihan dua ribu!" ucapnya sopan.
"O, ya, sebentar, Pak."
Kucari uang recehan, alhamdulillah ada uang pas, segera kuberikan dengan niat sedekah.
"Terima kasih, Bu!"
"Sama-sama, Pak!" jawabku ramah.
Si Bapak penyapu, mendatangi bestieku yang lainnya, dia berpindah dari satu pedagang ke pedagang lainnya.
Selalu ada uang keamanan untuk para penjual dadakan. Kalau di d pinggir jalan ini termasuk murah. Waktu hari pertama puasa, aku berjualan di tempat yang strategis. Uang keamanan tujuh puluh ribu rupiah, dan uang kebersihan tujuh rupiah perhari. Hanya sampai hari kelima saja bertahan di sana, karena hujan terus mengguyur. Akibatnya, daganganku tak laku.
Alhamdulillah, hari ini Allah memberi rezeki kepada kami, para pedagang dadakan di pinggir jalan. Walau sedikit, tetap harus disyukuri. Bahkan, kami masih bisa berbagi dengan para penjaga keamanan dan petugas kebersihan.
Menjelang magrib, hujan rintik-rintik turun. Suasana mulai sepi. Aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Begitu pun yang lainnya.
Dagangan kumasukkan ke kresek, dan kuletakkan di gantungan motor. Meja kulipat, dan kuselipkan di kaki.
"Bu, masih ada es lumutnya!"tiba-tiba seseorang datang, saat aku menstarter motorku.
"Oh, ada, Neng!"
Buru-buru kuumatikan motor, dan kuambil kresek.
"Mau beli rasa apa, Neng?" tanyaku.
"Saya beli semuanya, Bu!" ujarnya ramah.
Aku tertegun.
"Semuanya ada berapa bungkus, Bu?" si Neng bertanya lagi, karena melihatku bengong
"Oh, ada 23 lagi, Neng!" aku tergagap. Kusodorkan kresek berisi jelly kepadanya.
"Baik, Bu. Berapa semuanya?
"Semuanya Rp 115.000,00. Neng. Tetapi Ibu beri diskon, jadi Rp 100.000,00 saja!"
Si Neng tersenyum lebar.
"Wah, makasih, Bu. Ini uangnya!"
Kuterima uang seratus ribu. Si neng pun pamit, dan bergegas menaiki mobil yang menunggunya.
Kupandangi kepergian si Neng. Tadi aku lupa menanyakan untuk apa jelly sebanyak itu. Duh, mungkin saja dia akan berbagi takjil. Masya Allah, sungguh gadis cantik yang baik hati.
Dalam hati kuucap syukur yang tak terhingga, atas keajaiban yang kudapat hari ini. Bersedekah sedikit, sungguh berlipat balasannya
Alhamdulillah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI