Kakek datang beberapa saat sebelum magrib. Kami pun duduk melingkar menghitung uang hasil kerja kakek. Wah, banyak sekali uangnya! Kami pun diberi THR oleh Kakek.
"Alhamdulillah, jazakallah khair, " kami semua mendoakan Kakek.
Meski lelah, Kakek terlihat sangat bahagia.
Tak lama kemudian, terdengar suara beduk berbunyi
"Allohu akbar allohu akbar."
Suara azan bekumandang. Serentak kami mengucap syukur, berdo'a dan langsung berbuka puasa.
Tiba-tiba aku merasa sedih, teringat baju lebaran yang takkan kudapatkan. Aku hanya memandangi semua yang sedang sibuk takjil.
"Sakit?"
Emih, sebutan untuk nenekku, segera menghampiriku yang duduk mematung.
Aku menunduk, menyembunyikan air mata yang tiba-tiba keluar.
"Loh, kenapa nangis?"
"Kamu sedih?"
Aku menggeleng. Rasanya malu mengeluarkan isi hatiku.
"Ana mau salat duluan, ya, Mih!"
Tanpa menunggu jawaban Emih, aku segera ke kamar mandi dan berwudu.
Dengan lunglai aku masuk kamar, dan duduk di tepian dipan. Hatiku sangat kosong. Pandanganku mengitari kamar, dan tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdegup karena kaget.
Wah, baju siapa itu?
Kulihat baju baru tergantung di paku dinding kamar dan masing-masing diberi nama: A Bari, Teh Dini, Teh Ana, dan Ati.
Kugosok mataku, kucubit pipiku. Duh, sakit! Berarti aku gak mimpi!
Horeeee...
"Ibu, ini baju lebaranku?" aku berseru riang.
Kuambil baju dengan tempelan namaku, kuhampiri semua yang masih berbuka puasa. Senyumku terkembang.
Semua memandangku dengan heran.
"A Bari juga dapet baju lebaran, loh!" seruku.
A Bari menghentikan makannya.
"Mana?"tanyanya semringah.
"Tuh, di kamar!"
"Horeee...!"
A Bari, Teh Dini dan Ati segera menghambur ke dalam kamar, dan mendapati baju lebarannya.
"Wah, ini bajuku!" semua ribut dengan baju masing-masing.
Rupanya Ibu menggantung baju lebaran kami, saat kami ngabuburit tadi. Wah, suprise banget!
"Iya, itu baju lebaran kalian," ujar Ibu sambil tersenyum tulus.
Ibu, Emih serta Kakek memandangi kami yang mencoba baju lebaran berikut dengan tatapan bahagia.
Kuhampiri ibu dan kupeluk dia dengan penuh rasa terima kasih
"Makasih, Bu! Ana janji gak batal puasa lagi!"
Ibu memelukku dengan penuh kasih sayang.
"Iya! Kan Ana sudah besar, malu kalau batal puasa!" katanya sambil membelai kepalaku.
"Kecuali kalau sakit, atau dalam perjalanan jauh, boleh batal!" jelas Ibu.
Aku mengangguk mengerti.
Malam itu, kami sangat bahagia mendapat hadiah baju lebaran berikut sepatu baru. Ternyata Ibu tetap memberi aku dan A Bari baju lebaran, meski kami pernah sengaja batal puasa. Hehehe
Bahkan saking senangnya, A Bari tidur sambil mengenakan sepatu baru serta memeluk baju lebarannya.
Dia tertidur pulas, senyum bahagia menghiasi bibirnya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H