"Kata saya, biarin aja deh. Kalau saya mengikuti sarannya, ya saya nggak mau, secara nggak langsung saya menghamba sama tuh tuyul. Saya bilang, saya pasrahin sama Allah aja," katanya.
"Meski disimpan di dompet atau di laci lemari bakal hilang juga?" tanya saya.
"Iya, Bu. Ngambilnya nggak banyak, selembar, selembar, kan yang punya duit ngggak begitu engeh," katanya.
"Bener Bu. Saya aja nih kan habis dapat uang dari suami. Saya hitung dong di depan suami berapa pasti jumlahnya. Terus saya simpan. Besoknya saya mau pake buat belanja eh kok nggak ada duit selembar. Saya tanya suami, bilangnya nggak ambil. Ini udah beberapa kali kejadian," timpal Ibu Arfach.
"Kejadiannya kapan itu? Baru-baru ini atau bagaimana?" tanya saya penasaran.
"Kira-kira tiga minggu lalu deh," ungkapnya.
"Oh, masih baru dong itu mah," kata saya.
Ibu RT yang mendengarkan sama terherannya dengan saya. Antara percaya dan tidak percaya. Dia menduga tuyul mungkin tahu kalau dirinya tidak memiliki uang banyak. Entahlah.
"Saya sih belum pernah kejadian ya, nggak punya uang banyak juga," katanya seraya tersenyum.
"Percaya nggak percaya sih, masa ada orang yang pelihara tuyul di kompleks yang sebagian besar warganya berpendidikan dan beragama. Kalau di kampung-kampung, mungkin iya, lha ini di kota. Tapi ya saya mengalami sendiri, sering kejadian," timpal Ibu Ambar.