Mohon tunggu...
Nelwiza
Nelwiza Mohon Tunggu... Guru - Guru Kelas 7

Guru Kelas 7

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Wahai Guruku

24 November 2024   22:36 Diperbarui: 24 November 2024   22:44 56
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Tiada kata terucap sudah 

Lambaian tangan lelah lunglai 

Hanya doa tiada henti dikeheningan malam 

Tanah kuburan subur tumbuhi hilalang

Puluhan tahun tak terulang kembali 

Batu nisan kian berlumut hijau menyelimutinya  

Namun Budi bahasa mu kian melekat di hati 

Nasehat kian kokoh di pikiran suci 

Kata demi kata masih terngiang di daun telingaku 

Raut wajah saat bengis pun terbayang sudah 

Seakan daku masih di bangku sekolah 

Kapur putih tertoreh di depan mata hamparan papan tulis berwarna hitam dikala itu 

Wahai guruku tercinta keikhlasan membuat diri bahagia sampai saat ini 

Motivasi dan inspirasi mu membuat daku seperti sekarang ini 

Tercampakkan kebodohan mada lali 

Tercabik cabik perasaan ku tatkala cilotehmu mengudara 

Semua itu berbuah manis 

Terima kasih wahai guruku tercinta 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun