Bukan berarti aku pamrih dengan segala yang telah aku lakukan, tetapi sifat egoisku sebagai manusia, berontak secara alamiah. Mungkin aku harus meredam segala perasaan berontak ini. Dan kamu anggap apa aku selama ini? Aku tidak akan rela jika kamu mengatakan teman, kamu selalu mencariku untuk menahanmu. Aku tidak akan rela jika kamu mengatakan sahabat, sahabat yang baik tidak akan melupakan sahabatnya disaat bahagia. Lalu apa? Aku juga tidak tau dan tidak mau tau.
Lihat saja,
Ketika kamu sedang bahagia, kita kembali seperti tidak saling mengenal. Mungkin memang lebih baik kamu bersedih saja terus dan sebelum kamu bahagia kembali, catat siapa yang selalu ada disaat kamu terpuruk.
Apa itu terlalu sulit? Tidak kan?
Yah, mungkin aku yang terlalu egois. Terlalu merindukan kebahagiaan hingga menginginkan kebahagiaan orang lain hilang.
Seharusnya aku ikhlas menjalani ini, bukankah seharusnya aku senang bisa membuat orang yang berharga bagiku bisa kembali tertawa dan meraih bahagianya? Walaupun aku hanya menjadi tokoh sampingan di ceritamu dan hanya bisa menikmati “keringatku” dari balik layar?
Tuhan, ajari aku tentang keikhlasan. Ajari aku tentang kesabaran, atau mungkin saat ini Tuhan sedang mengajariku tentang kehidupan. Atau mungkin aku sedang diingatkan jika Tuhan memiliki rencana yang lebih indah dan aku hanya perlu sabar menunggu?
Berbagai kemungkinan telah berkelebat dalam benakku. “Kapan aku bisa bahagia seperti dia atau dia atau dia??” adalah pertanyaan yang mendominasi di otakku kini. Tapi aku harus mengerti posisiku, siapa aku dan konsekuensi dari posisi yang telah aku lakoni.
Setidaknya aku harus tersenyum karena pernah menjadi bagian darimu dan pernah menjadi tokoh yang bisa membuatmu kembali tersenyum.
Selamat tinggal.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H