Di satu sisi memberikan semangat atau emosi positif dalam kondisi gagal mencapai target jelas diperlukan namun di sisi lain hal tersebut akan membuat anggota tim kita tidak mengetahui apa yang harus ditingkatkan.
Mengapa Seorang Pemimpin Jangan Sampai Menyebarkan Optimisme Palsu?
Sebenarnya berlebihan dalam memberikan emosi positif atau optimisme palsu bukanlah hal baru.
Di era digital dan sosial media saat ini dengan mudah kita menemukan contoh-contoh optimisme palsu bertebaran di setiap media sosial.
Media sosial tentunya memberikan bridging yang sangat besar terhadap tumbuh suburnya permasalahan mental ini.
Dengan mudahnya kita menemukan konten-konten dalam bentuk teks ataupun media lain yang membuat seolah-olah emosi negatif itu tidak lagi penting.
Optimisme palsu adalah racun yang sangat berbahaya tidak hanya bagi si pemimpin itu sendiri namun juga kepada anggota timnya.Â
Fatamorgana ini memberikan keyakinan bahwa setiap orang termasuk diri kita sebagai pemimpin harus selalu memberikan aura dan spektrum positif.
Bahkan optimisme tetap harus ada di tengah-tengah kegagalan tragis pencapaian target. Optimisme tetap harus ada walaupun semua rencana gagal total.
Pemimpin yang seperti ini akan selalu memaksakan rasa optimisme yang dangkal dan berpikir semua baik-baik saja walaupun kenyataan di lapangan sangat berbeda.
Hal ini tentunya tidak tepat dilakukan oleh seorang pemimpin. Ketika situasi pencapaian target tidak tercapai harusnya selalu ada evaluasi dan bukan memaksakan selalu ceria, selalu positif, selalu sukses, dan seakan-akan semua terkendali.