Mohon tunggu...
Najmie Zulfikar
Najmie Zulfikar Mohon Tunggu... Administrasi - Putra : Hamas-ruchan

Pe[ngen]nulis | Konten Kreator YouTube | Channel : James Kalica

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Panen Raya Jagung, Regulasi Distribusi Perlu Direvitalisasi

21 Februari 2019   07:46 Diperbarui: 21 Februari 2019   12:14 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rasidi, petani jagung Desa Tegowanu Wetan, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah (Jateng) beristirahat usai memanen jagung, Minggu (14/10/2018). Ia mengaku puas dengan hasil panen jagung pada musim kemarau 2018 yang harga jualnya menguntungkan.(Dok. Humas Kementerian Pertanian RI)

Akhir bulan Januari menandai awal panen raya tanaman jagung dengan musim tanam waktu kemarau. Petani di desa Putatnganten, Kecamatan Karangrayung -- Grobogan disibukkan dengan aktivitas memanen jagung yang melimpah. 

Bahkan untuk memanennya tidak cukup hanya dengan empat orang saja. Hal ini karena hamparan lahan yang sangat luas dan hasil jagung yang bebas dari gangguan hama. Sehingga hasil yang diperoleh begitu melimpah. Meskipun ada beberapa jagung yang tetap terkena serangan hama.

Dalam satu lahan yang dimiliki oleh petani sekitar satu hektar. Bahkan dalam satu musim petani mampu menggarap lahan 3-4 hektar. Lahan ini dahulunya merupakan perluasan lahan kering yang kemudian digunakan untuk tanaman jagung di lahan hutan dengan metode tumpang sari. Status kepemilikan lahan menggunakan sistim sewa lahan dari pihak Perhutani.

Dengan adanya kondisi seperti ini sangat menguntungkan kedua belah pihak baik itu pihak pertama maupun kedua. Mengapa hal tersebut saling menguntungkan? Pertama, pihak Perhutani merasa terbantu dengan adanya petani yang menggarap lahan dan menekan angka illegal loging dari pembalakan liar. 

Fungsi pengawasan dan manajemen tata kelola pohon baik yang sudah ada maupun dalam masa reboisasi (penghijauan) menjadi lebih mudah diawasi dan terpantau. Kedua, petani dapat memperluas ekpansi hasil pertanian dan menambah indek pendapatan serta memperkuat ketahanan pangan di pedesaan.

Hamparan lahan yang terjal dan berkelok-kelok mengharuskan petani memanen jagung dengan cara yang sangat konvensional, meskipun ditengah-tengah moderenisasi alat pertanian yang  sudah diimplementasikan dibeberapa daerah. 

Seperti halnya di Kecamatan Modo, Lamongan sebagai salah satu sentra penghasil jagung di Jawa Timur, atas instruksi menteri pertanian dalam mendukung keberpihakan pemerintah kepada petani telah disepakati pula bantuan alat pertanian modern yang telah dibagikan berupa 5 unit alat panen, 10 traktor roda empat dan 20 drayer (mesin penggiling) untuk mendukung kemudahan pertanian.

Memberdayakan Tetangga

Kondisi medan yang tidak memungkinkan untuk dicapai mesin pemanen jagung, membawa berkah tersendiri untuk para tetangga. Disaat musim panen seperti ini, para tetangga diberdayakan sebagai tenaga kerja untuk membantu memanen jagung. Upah yang diberikan lumayan cukup sebagai pengisi kekosongan waktu jika tidak ada kegiatan yaitu sebesar Rp. 40.000.

Walaupun hal itu tidak sebanding dengan perjuangan serta kondisi riil yang dihadapi di lapangan. Begitulah cara masyarakat dalam  berbagi dan menjaga marwah sebagai makhluk sosial.

Kebijakan dari Kementan dalam menetapkan besaran pokok harga jagung di petani minimal Rp 3.150 per kg pada awal pemerintahan memberikan suntikan semangat yang sangat berarti. Guna menaikan produktivitas jagung terhadap petani. 

Namun, kondisi ini harus diimbangi dengan masa tanam yang berkala agar kelak dikemudian hari tidak terjadi over supply yang dapat mengakibatkan harga jual melemah karena stok barang melimpah.

Buntut dari kebijakan pemerintah yang telah menetapkan harga pokok jagung, benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh para petani. Di tahun 2019, Harga jagung di tingkat petani saat ini untuk tongkol berkisar antara Rp. 2.000-2.200 per kg, pipil basah Rp 3.500 -- 3.800 per kg, dan pipil kering Rp 4.800 -- 5.000. 

Capaian keberhasilan ini menjadi yang pertama selama masa panen yang pernah dilalui. Pasalnya harga tahun sebelum-sebelumnya berada pada kisaran harga Rp. 3.150- Rp. 3.500 pipil basah per kg dan pipil basah Rp. 3.600-Rp. 4.000 per kg.

Peranan ini tidak terlepas dari Penyuluh Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) dibawah naungan Kementan yang telah membantu mendistribusikan benih, mengawal dan mendampingi para petani dalam menjaga dan meningkatkan produksi pertanian. Demi terwujudnya kedaulatan pangan nasional.

Regulasi Distribusi

Sebagai salah satu sentra produsen pakan ternak di Kabupaten Grobogan tentu membutuhkan supply jagung  yang sangat tinggi sebagai bahan utama dalam pembuatannya. Langkah konkret keberpihakan pemerintah terhadap petani selanjutnya perlu merevitalisasi regulasi distribusi di tingkat pusat antara Kementan dan Bulog untuk saling bersinergi. 

Kementan sebagai kreator lapangan dan Bulog sebagai gudang produksi. Seperti halnya disampaikan oleh Mentan, Amran Sulaiman menuturkan "Kami berharap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani saat panen raya seperti ini, sehingga dapat menjadi buffer stock,".

Kehadiran Bulog sebagai gudang produksi belum termanfaatkan secara optimal. Dalam praktiknya supply bahan baku masih didominasi oleh pihak swasta. Kehadiran bulog diharapkan dapat mengakomodir hasil dari petani dan mendistribusikannya pada produsen pakan ternak. Melalui regulasi dan sistem pengawasan yang terorganisir akan mengakibatkan kestabilan harga dan stok kebutuhan. 

Seandainya nanti pemerintah harus mengambil kebijakan impor akibat ketersediaan stok yang kurang mumpuni dalam mencukupi kebutuhan skala nasional, nasib para petani tidak akan terjun bebas. Karena pada dasarnya, nasib petani ditentukan oleh harga jual hasil tersebut.

Bukan tidak mungkin, jika regulasi distribusi ditata dan dikelola dengan baik oleh pemerintah, nasib petani akan sejahtera dan tercapai kedaulatan pangan nasional. Secara otomatis tidak akan ada lagi petani yang membuang hasil panennya dibuang di jalanan karena harga anjlok di pasaran yang marak terjadi di beberapa daerah.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun