"Rumah aku jauh dari sini, lho?"
"Kan saya yang menawarkan, berarti saya sudah siap dengan resikonya dong" Aruni hanya bisa tersenyum karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan hal seperti ini kepadanya
***
"Salah gak sih kalau sejujurnya aku masih ingin mendengarkan banyak hal darimu?"
Mahes menggeleng seakan paham maksud Aruni barusan "Ngga kok, karena saya juga maunya begitu"
Padahal ini hanya sebuah pertemuan yang entah akan ada pertemuan berikut atau tidak, tapi semesta mampu membuat keduanya merasa saling membutuhkan satu sama lain, berawal dari kejadian tak disengaja sampai kenyamanan yang datang tiba-tiba tanpa aba-aba.
Mereka bilang cara jatuh cinta antara seorang wanita dan laki-laki itu berbeda, kalau laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertamanya seperti seorang pegawai yang keheranan melihat pengunjung tokotoko buku itu sibuk memilih buku, justru pengunjung toko buku tersebut jatuh cinta saat pertama kali percakapan mereka tentang sebuah filosofi sepatu sebagai Mahesa dan Aruni.
"Aku senang mendengarmu bercerita Mahes"
"Saya juga senang mengenal pendengar baik sepertimu, tapi saya gak tau apa kita bisa ketemu lagi atau nggak?"
***
Aruni dan Mahesa sepakat bahwa tak akan saling berbagi sosial media ataupun nomor telepon masing-masing, semua yang terjadi adalah takdir.
Kalau bukan karena takdir mungkin saja tadi Aruni langsung pulang selepas sibuk memilih buku yang ternyata nihil hasilnya dan ia tak pernah mendengar filosofi sepatu yang dibicarakan oleh Mahesa sang pegawai toko buku, sedangkan Mahesa hanya akan berdiam diri ditoko buku tanpa merasakan sensasi kehangatan ketika seseorang mendengarkan dengan baik apa yang disampaikannya. Pertemuan yang beberapa jam itu mampu membuat mereka saling jatuh cinta, meski begitu Aruni dan Mahesa juga harus mengikuti jalannya takdir jika mereka memang dua orang yang ditakdirkan bersama maka itu akan terjadi, karena jika terlalu dipaksakan bisa saja kisah ini tidak lagi menjadi sebuah kisah manis.