Mohon tunggu...
Siti Najla Hanaaus Sholihah
Siti Najla Hanaaus Sholihah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Formulasi Kebijakan Directive on Single-Use Plastics di Eropa

1 Juni 2024   16:17 Diperbarui: 2 Juni 2024   09:38 82
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari masih marak dilakukan oleh masyarakat di berbagai penjuru dunia, salah satunya di Benua Eropa. Plastik merupakan salah satu penyebab utama dari kerusakan lingkungan. 

Dengan menggunakan plastik sekali pakai secara berlebih akan menyebabkan pencemaran tanah maupun air, merusak ekosistem laut, merusak sirkulasi ekonomi, mendorong dunia ke perubahan iklim, bahkan juga bisa berbahaya bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan suatu regulasi atau kebijakan untuk mengatur penggunaan plastik sekali pakai dalam masyarakat.

Salah satu kebijakan yang diterapkan untuk mencegah penggunaan plastik berlebih adalah kebijakan Directive on Single-Use Plastics yang dibentuk oleh Uni Eropa. Kebijakan ini diterbitkan pada 12 Juni 2019 yang bertujuan untuk menjadi pencetus dalam perlawanan terhadap sampah laut dan polusi plastik. Plastik sekali pakai dapat didefinisikan sebagai suatu produk yang terbuat dari plastik dan tidak dirancang atau dijual untuk digunakan beberapa kali dalam masa pakainya. 

Karena setiap negara anggota diamanatkan untuk segera mencapai hasil dari kebijakan ini, setiap negara anggota diwajibkan untuk mentransposisi kebijakan ini ke dalam hukum nasional mereka sebelum 3 Juli 2021. Hasilnya, kebijakan ini sudah mulai efektif digunakan di sebagian besar negara Uni Eropa untuk mencegah penggunaan plastik berlebih serta mengurangi limbah plastik.

TAHAP FORMULASI PEMBENTUKAN ALTERNATIF KEBIJAKAN

Sebelum kebijakan Directive on Single-Use Plastics diberlakukan, kebijakan ini melalui berbagai proses pembuatan. Salah satunya adalah proses formulasi kebijakan. Formulasi kebijakan adalah tahap dari proses pembuatan kebijakan di mana tindakan alternatif dipilih untuk permasalahan yang terjadi di masyarakat. Berikut akan dijelaskan proses dari formulasi kebijakan Directive on Single-Use Plastics di negara anggota Uni Eropa untuk mencapai berbagai alternatif kebijakan yang paling tepat.

Pertama adalah menganalisis tujuan utama dari kebijakan ini sebagai arah untuk mencapai tujuan kebijakan yang tepat sasaran dan efektif. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mencegah dan mengurangi dampak lingkungan dan kesehatan manusia dari produk plastik, terutama plastik sekali pakai serta mendorong pergeseran ke arah ekonomi yang lebih sirkular. 

Cara mengukur keberhasilannya adalah dengan pengurangan persentase penjualan produk plastik sekali pakai, peningkatan daur ulang produk plastik sekali pakai, serta pengurangan sampah plastik di lingkungan.

Kedua adalah menelaah biaya dari pembentukan kebijakan Directive on Single-Use Plastics. Biaya memiliki peran yang penting dalam pembentukan kebijakan. Estimasi biaya yang digunakan dalam kebijakan ini relatif besar. Hal ini disebabkan oleh pengembangan alternatif produk baru, proses daur ulang produk plastik sekali pakai, serta strategi kampanye edukasi kebijakan ini memerlukan biaya yang cukup besar.

Ketiga adalah menganalisis kendala dari pembentukan kebijakan ini. Kendala utama yang akan dialami adalah penolakan dari pelaku industri. Para pelaku industri akan merasa kebijakan ini merugikan mereka. Selain itu, biaya juga termasuk salah satu kendala dari pembuatan kebijakan ini, seperti biaya yang cukup besar untuk mendukung penelitian dan pengembangan produk alternatif yang dapat menghambat adopsi secara luas.

Kendala lain yang mungkin ditimbulkan dari penerapan kebijakan ini adalah keterbatasan fasilitas negara untuk mendaur ulang kapasitas volume plastik yang banyak serta kurangnya teknologi yang memadai untuk mendaur ulang jenis plastik tertentu atau mengolah bahan alternatif.

Selain itu, ketergantungan masyarakat terhadap produk plastik sekali pakai juga menjadi salah satu kendala dalam penerapan kebijakan ini. Masyarakat akan merasa sulit untuk move on dari penggunaan plastik sekali pakai karena penggunaan plastik sekali pakai praktis dan nyaman. 

Keempat adalah menelaah waktu yang digunakan untuk penerapan kebijakan Directive on Single-Use Plastics. Waktu yang digunakan sejak penerapan kebijakan ini adalah kurang lebih 5 tahun dari tahap riset hingga transposisi ke hukum nasional dan penyesuaian oleh industri. Di tahun ke-6, kebijakan ini mulai di implementasikan oleh seluruh negara anggota dan akan dilakukan monitoring, penegakan, dan evaluasi secara berkala.

Kelima adalah menganalisis efek samping dari penerapan kebijakan ini. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penerapan kebijakan ini adalah pada awal penerapan kebijakan tersebut pelaku industri akan sulit menyesuaikan diri dan menimbulkan kontroversi karena biaya yang dikeluarkan cukup besar sehingga tidak mudah bagi mereka untuk berpindah dari memproduksi plastik ke produk alternatif baru.

PERUMUSAN OPSI KEBIJAKAN

Setelah melakukan analisis alternatif kebijakan, langkah selanjutnya adalah perumusan opsi kebijakan. Perumusan opsi kebijakan dapat dianalisis menggunakan teknik curah gagasan. Teknik perumusan opsi kebijakan dengan curah gagasan dapat dilaksanakan melalui diskusi, forum, maupun konferensi secara formal atau informal. Selain itu, diskusi dapat dilakukan dengan pakar, konsultan, maupun masyarakat untuk menyaring berbagai opini atau perspektif yang digunakan untuk pertimbangan keputusan. 

Metode ini tepat digunakan dalam perumusan kebijakan Directive on Single-Use Plastics karena Dalam forum diskusi ini semua pendapat dari para pihak akan didengarkan dan dipertimbangkan untuk mengukur alternatif kebijakan mengukur alternatif kebijakan yang paling tepat untuk menyelesaikan permasalahan terkait hal ini. Kemudian, alternatif kebijakan ini akan diurutkan menurut tingkat keefektifannya. 

Formulasi kebijakan Directive on Single-Use Plastics bertujuan untuk memilih alternatif terbaik yang dapat digunakan untuk mengatasi isu penggunaan produk plastik sekali pakai yang berlebihan di negara anggota Uni Eropa. Walaupun berbagai alternatif telah dipilih dan diterapkan, kebijakan ini tetap membutuhkan evaluasi dan perubahan untuk penyempurnaan agar dapat berjalan dengan baik dan diterima oleh masyarakat.

Sumber:

Poggemann, T. (2024, January 24). Single-use plastic directive in the European Union. Reverse Logistics Group. https://rev-log.com/key-considerations-for-epr-in-the-new-year-2/#:~:text=The%20Directive%20(EU)%202019%2F,towards%20a%20more%20circular%20economy.

Single-use plastics. Environment. (n.d.). https://environment.ec.europa.eu/topics/plastics/single-use-plastics_en

EU restrictions on certain single-use plastics. Environment. (n.d.-a). https://environment.ec.europa.eu/topics/plastics/single-use-plastics/eu-restrictions-certain-single-use-plastics_en

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun