Mohon tunggu...
Nahar Ayu Muthmainnah
Nahar Ayu Muthmainnah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Walisongo State Islamic University | Math Education XXI | My Scout My Life

Bukan tentang siapa tapi tentang apa Ig: @naharayu_ Email: nanaynahar20@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerbung Pilihan

Not Only This World (1)

19 Juni 2023   06:28 Diperbarui: 19 Juni 2023   07:05 149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerbung. Sumber ilustrasi: pixabay.com/Yuri B

Pagi ini banyak wartawan yang datang ke tempat syuting hanya untuk bertanya dengan seorang gadis yang berparas cantik. Mereka begitu penasaran dengan kehidupan baru yang gadis itu pilih.

"Hidup ini memang tidak mudah. Penuh liku, dan liku itu adalah variasai kehidupan manusia. Namun jauh sebelum aku muallaf, liku itu aku anggap seperti pedang yang menusuk jiwaku dan membawaku ke lubang kegalauan dan kemusyrikan. Bagiku 25 tahun aku hidup hanya sia-sia, karena aku jauh dari Tuhanku-Allah SWT-. Saat ini aku akan menjalani kehidupan baruku seperti bayi yang baru di lahirkan di dunia" ujar gadis itu.

Semua wartawan menyimak semua penjelasannya, beberapa dari mereka ada yang saling bertatap dan ada juga sebagian yang mengangguk-anggukan kepala mereka.

"Apa kak Vania yakin dengan keputusan kakak memakai hijab?"

"Tidak takutkah kak Vania jika kehilangan job syuting karena memakai hijab?"

"Kak Vania kan mempunyai tubuh yang indah, rambut yang membuat semua orang iri, kenapa kakak memilih untuk menutup itu semua?" pertanyaan yang bertubi-tubi dari para wartawan.

"Sekarang saya seorang muslim, sudah sepantasnya seorang muslimah itu menutup auratnya. Dan soal pekerjaan, saya tidak takut jika harus kehilangan job syuting saya. Saya yakin Tuhan telah menakdirkan rezeki untuk saya dan pekerjaan yang lain buat saya. Saya memang muallaf tapi saya belajar untuk memperbaiki diri dan menjadi seorang muslimah sesuai dengan yang di tentukan oleh agama saya."

Semua pertanyaan dari wartawan membuat Vania mengingat masa-masa itu, dimana dia mendapatkan sebuah kehinaan dan hidayah. Iya, namanya Vania Keisya, akrab di panggil Vania. Dia merupakan anak dari seorang pengusaha besar di Indonesia, ayahnya bernama Dito Wirawan. Dan ibunya bernama Kirana, dia seorang desaigner ternama. Mereka tinggal di Jakarta, kota yang penuh kebebasan namun membuat sesak. Tapi, orang tua Vania sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka juga jarang pulang. Sedangkan Vania adalah seorang model yang terkenal. Vania memiliki bentuk tubuh yang ideal, warna kulit yang putih bercahaya, dan rambut yang hitam berkilau membuat semua orang iri padanya. Banyak orang yang kagum dengannya. Karena itu Vania selalu memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Dia berfikir "Untuk apa aku menutupi tubuhku jika semua orang menyukainya?"

***

Vania memang punya segalanya, harta, tahta, cinta, semuanya dia punya. Dia selalu menghabiskan waktunya untuk pemotretan, clubbing, hung out, dan shopping. Dia tidak pernah kekurangan harta, temannya pun banyak. Baginya membeli mobil baru layaknya membeli sebuah mainan harga ratusan ribu. Bahkan dengan uang dia mampu membayar sebuah salon termewah dan terkenal di dunia khusus untuk dirinya pribadi.

Hari ini hari yang sangat melelahkan bagi Vania, cuaca yang panas dan pekerjaan yang menuntutnya untuk terus berdiri di outdoor membuat dirinya jengkel. Karena itu dapat merusak kulit putihnya yang bercahaya. Hari sudah malam, dan Vania masih di lokasi pemotretan bersama temannya. Namanya Vino, dia merupakan salah satu kaum adam yang menyukai Vania.

"Vin, ini sudah malam. Ayo kita pulang" ajak Vania.

"Yaelah Van, baru jam sepuluh, biasanya juga pulang jam satu jam dua. Gimana kalau kamu ikut aku dulu" tawar Vino.

"Kemana?"

"Udah, tenang aja pasti kamu suka kok!"

"Tapi Vin, aku capek banget hari ini" rengek Vania.

"Aku jamin deh, setelah sampai tempatnya capek kamu akan hilang. Percaya deh Van!" bujuk Vano.

"Hmmm... Okelah ayo kita berangkat."

Jam sepuluh malam masih di luar rumah bagi mereka hal yang biasa. Karena itu sudah menjadi kebiasaan yang mereka lalui, baik dari segi karir maupun dunia pergaulan yang bebas. Bukan seperti anak-anak desa yang dibatasi jam malamnya. Yang kemana-mana harus ada izin, tidak boleh berduan dengan laki-laki yang bukan muhrim, dan harus pulang sebelum jam sembilan.

Tepat pukul satu dini hari, seorang gadis telah mengahabiskan waktunya di salah satu club langganannya. Dia tidak berhenti meracau, memaki, dan membanggakan dirinya. "Brengsek kau, aku benci sama kamu! Aku bukan wanita murahan yang seenaknya bisa kau mainkan! Aku ini model, aku punya segalanya. Aku wanita yang dihormati!" begitu  racaunya.

Gadis itu Vania, saat ini dia sedang meluapkan amarahnya. Bahkan dia minum tidak tanggung-tanggung. Dia sudah benar-benar kalab, bahkan make up yang menghiasi wajah cantiknya tak beraturan. Rambut yang biasanya tergerai indah, kini terlihat sangat kusut. Dia tertawa menangis secara bersamaan. Pikirannya menerawang kejadian beberapa jam yang lalu.

Di tengah perjalanan mobil Vino berhenti di jalan yang sepi. Vania yang merasa badannya capek hanya diam dan tetap memejamkan mata. Dia pikir sudah sampai atau mungkin mobil Vano mogok. Tidak ada yang perlu dia khawatirkanpikirnya.

"Van, bangun!"

"Sudah sampai?"

"Sudah, yuk turun!"

"Ini dimana sih Van, sepi amat. Mana di tengah hutan gini lagi. Memang ada apa di dalam sana?" Yang ditanya malah diam saja, bahkan Vano terus menuntun Vania masuk ke tengah hutan. Hingga mereka sampai kesebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu.

"Ngapain kesini? Kamu jangan macam-macam Vin!" kata Vania dengan khawatir.

Tanpa aba-aba, Vino mendorong tubuh Vania dengan kasar hingga dia terjatuh, " Vania Keisya, model yang cantik dengan tubuh yang menawan."

"Maksud kamu apa? Jangan berani ya kamu sama aku! Aku bisa ..."

"Bisa apa sayang? Nuntut? Teriak? Atau apa? Aku tidak takut!"

Vania yang mendengar itu semua mulai takut, dia berusaha untuk bangun. Namun usahanya gagal. Dia kalah cepat dengan cowok sialan itu. Vino membekap mulut Vania dengan lakban hitam yang sepertinya sudah ia siapkan, dan tangan Vania yang terikat. Hampir saja dia bisa menyentuh tubuh Vania, namun Vania berhasil melawan dengan kedua kakinya yang tidak terikat. Dia menggunakan kesempatan itu untuk kabur dan bersembunyi di tengah gelapnya hutan.

***

Bersambung

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun