Kaidah fikih adalah prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh para ahli hukum Islam dalam menetapkan hukum berdasarkan sumber-sumber utama syariah, yaitu Al-Quran dan Hadis. Salah satu kaidah yang cukup penting adalah "Adat Itu Dipertimbangkan dalam Menetapkan Hukum" atau dalam bahasa Arabnya dikenal sebagai "Al-'Adah Muhakkamah". Kaidah ini menegaskan bahwa adat atau kebiasaan masyarakat dapat menjadi pertimbangan dalam proses penetapan hukum Islam, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Esai ini akan menguraikan konsep dasar kaidah tersebut, relevansinya dalam penetapan hukum, serta implikasinya dalam konteks masyarakat modern.
Pengertian Adat dalam Kaidah Fikih
Adat dalam konteks kaidah fikih merujuk kepada kebiasaan atau tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Adat bisa berupa praktik, ucapan, atau sikap yang sudah umum diterima oleh komunitas tertentu. Dalam hukum Islam, adat dikategorikan menjadi dua: adat shahihah (adat yang benar) dan adat fasidah (adat yang buruk). Adat shahihah adalah adat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, sedangkan adat fasidah adalah adat yang bertentangan dengan hukum Islam dan karenanya tidak dapat dijadikan dasar hukum.
Dasar-Dasar Kaidah Adat dalam Syariah
Penggunaan adat sebagai pertimbangan dalam menetapkan hukum memiliki dasar yang kuat dalam syariah. Beberapa dalil dari Al-Quran dan Hadis menunjukkan bahwa Islam memperhatikan kondisi dan kebiasaan masyarakat dalam penetapan hukum. Misalnya, Al-Quran menyebutkan dalam Surah Al-A'raf ayat 199 Â Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Ambillah yang mudah, perintahkan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." Ayat ini mengisyaratkan perlunya mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat dalam penetapan hukum.
Dan firman Allah yang lain:
  Â
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut". (Qs. Al-Nisa [4]: 19
Selain itu, dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabdaÂ
"Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka di sisi Allah juga baik." Hadis ini memberikan ruang bagi umat Islam untuk mempertimbangkan adat dan kebiasaan mereka dalam memahami dan menetapkan hukum, selama adat tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam.
Relevansi Kaidah Adat dalam Penetapan Hukum
Relevansi kaidah ini sangat penting dalam penetapan hukum karena memberikan fleksibilitas bagi syariah untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi dan budaya yang berbeda-beda.
Berikut beberapa alasan mengapa kaidah ini relevan dalam penetapan hukum:
1. Mengakomodasi Keberagaman BudayaDunia Islam terdiri dari berbagai negara dan komunitas dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kaidah adat memberikan fleksibilitas bagi para ahli hukum untuk menetapkan hukum yang sesuai dengan kondisi lokal. Sebagai contoh, cara berpakaian antara masyarakat Arab dan masyarakat Indonesia berbeda. Dalam menetapkan hukum tentang busana Muslim, adat setempat dapat dipertimbangkan untuk menentukan standar yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sekaligus menghormati budaya lokal.
2. Mempermudah Implementasi HukumMengikuti adat setempat dapat mempermudah penerimaan dan pelaksanaan hukum syariah oleh masyarakat. Hukum yang dipaksakan tanpa mempertimbangkan kebiasaan dan tradisi lokal bisa menemui penolakan atau sulit diterapkan. Dengan mempertimbangkan adat, hukum menjadi lebih relevan dan diterima oleh masyarakat.
3. Memperkuat Prinsip KeadilanSalah satu tujuan utama syariah adalah mewujudkan keadilan. Dengan mempertimbangkan adat, hukum Islam dapat diterapkan dengan lebih adil sesuai dengan konteks sosial dan budaya setempat. Misalnya, dalam hal transaksi bisnis, adat lokal yang sudah diakui dapat dijadikan dasar dalam menentukan syarat dan ketentuan yang adil bagi kedua belah pihak.
Implikasi Kaidah Adat dalam Masyarakat Modern
Dalam masyarakat modern, kaidah adat memiliki beberapa implikasi penting yang dapat membantu dalam menjaga relevansi hukum Islam. Berikut adalah beberapa implikasi tersebut:
1. Dinamika Sosial dan Perubahan Adat
Adat adalah konsep yang dinamis dan dapat berubah seiring waktu. Para ahli hukum Islam harus selalu mengamati perubahan dalam masyarakat untuk memastikan bahwa hukum yang ditetapkan tetap relevan. Sebagai contoh, perkembangan teknologi dan komunikasi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara bertransaksi. Para ulama harus mempertimbangkan adat-adat baru yang muncul dalam konteks transaksi online dan digital.
2. Tantangan GlobalisasiGlobalisasi membawa pengaruh budaya asing yang bisa mempengaruhi adat setempat. Dalam menghadapi pengaruh ini, ulama harus mampu memilah mana adat yang sesuai dengan syariah dan mana yang tidak. Mereka harus bijak dalam menerima atau menolak pengaruh asing berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Contoh nyata adalah dalam hal gaya hidup dan konsumsi, di mana pengaruh Barat sangat kuat. Para ulama perlu mempertimbangkan sejauh mana adat-adat baru ini bisa diterima tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam.
3. Integrasi Hukum Nasional dan Syariah
Di beberapa negara Muslim, hukum nasional berusaha untuk mengintegrasikan syariah dengan hukum adat dan hukum positif. Kaidah adat bisa menjadi jembatan yang menghubungkan ketiga sistem hukum ini. Sebagai contoh, di Indonesia, hukum adat masih dihormati dan digunakan dalam banyak aspek kehidupan. Dengan mempertimbangkan adat, hukum syariah bisa diintegrasikan dengan hukum nasional tanpa menghilangkan identitas dan keunikan budaya lokal.
Contoh Aplikasi Kaidah Adat dalam Hukum Islam
Berikut beberapa contoh aplikasi kaidah adat dalam penetapan hukum Islam:
1. Perkawinan
Dalam hukum perkawinan, adat memainkan peran penting dalam menentukan berbagai aspek, seperti mahar, upacara pernikahan, dan adat istiadat lainnya. Di Indonesia, adat pernikahan berbeda antara suku Jawa, Sunda, Minangkabau, dan lainnya. Meskipun prinsip-prinsip dasar syariah tetap dipegang, detail pelaksanaan bisa berbeda sesuai dengan adat setempat.
2. Transaksi Ekonomi
Dalam transaksi ekonomi, seperti jual beli dan sewa menyewa, adat setempat sering kali dijadikan acuan dalam menetapkan syarat dan ketentuan. Misalnya, dalam jual beli tanah di pedesaan, adat setempat mungkin menentukan cara pembayaran dan proses penyerahan yang berbeda dengan yang ada di kota. Hukum Islam akan mempertimbangkan adat ini selama tidak bertentangan dengan prinsip keadilan dan tidak ada unsur riba.
3. Penyelesaian SengketaDalam penyelesaian sengketa, adat lokal bisa dijadikan dasar dalam proses mediasi atau arbitrase. Banyak komunitas Muslim yang masih menggunakan hukum adat dalam menyelesaikan perselisihan, dengan para pemuka adat atau tokoh agama berperan sebagai mediator. Proses ini sering kali lebih diterima oleh masyarakat karena dianggap lebih dekat dengan nilai-nilai dan kebiasaan merekap.
Penyimpulannya Kaidah "Adat Itu Dipertimbangkan dalam Menetapkan Hukum" memiliki peran penting dalam menjaga relevansi dan fleksibilitas hukum Islam. Dengan mempertimbangkan adat, para ahli hukum dapat menetapkan hukum yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat lokal tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar syariah. Dalam konteks modern, di mana dinamika sosial dan pengaruh global semakin kuat, kaidah ini membantu menjaga keselarasan antara tradisi dan kemajuan, serta antara lokalitas dan globalitas. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang kaidah adat dan penerapannya yang bijak sangat diperlukan untuk memastikan hukum Islam tetap relevan dan diterima oleh masyarakat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI