Cinta Seorang Ayah: Kisah Anto dan Kedua Putrinya
Perpisahan yang Menyakitkan
Anto duduk di ruang tamu kontrakannya, matanya memandang kosong ke arah jendela. Cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela tidak mampu mengusir kegelapan yang menyelimuti hatinya. Bayangan perpisahan dengan Tuti terus menghantui pikirannya. Meski perpisahan ini adalah keputusan bersama, rasa sakitnya masih teramat nyata.
Tuti: "Kita harus berpikir tentang masa depan anak-anak, Anto. Mereka butuh stabilitas," kata Tuti dengan suara serak, mengingat percakapan terakhir mereka.
Anto: "Aku tahu, Tuti. Tapi aku tidak bisa bayangkan hidup jauh dari mereka," jawab Anto dengan suara yang bergetar.
Awal yang Baru
Hari pertama Anto di kontrakannya yang baru. Segala sesuatunya terasa asing dan sepi. Tidak ada lagi suara tawa kedua putrinya yang biasanya menyambutnya saat pulang kerja. Hanya ada kesunyian yang membuatnya merasa hampa.
Anto (berbicara sendiri): "Apakah ini harga yang harus aku bayar? Kehilangan keluarga hanya untuk mendapatkan ketenangan?"
Pertemuan Pertama Setelah Perpisahan
Anto bertemu dengan putri-putrinya, Nia dan Lia, untuk pertama kalinya setelah perpisahan. Mereka bertemu di taman, tempat yang sering mereka kunjungi dulu.
Nia: "Ayah, kenapa kita tidak tinggal bersama lagi?" tanya Nia dengan mata besar yang penuh pertanyaan.