Mohon tunggu...
Nurul Mutiara R A
Nurul Mutiara R A Mohon Tunggu... Freelancer - Manajemen FEB UNY dan seorang Blogger di www.naramutiara.com

Seorang Perempuan penyuka kopi dan Blogger di http://www.naramutiara.com/

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Buang Sampah Sembarangan? Perlunya Mendidik Anak tentang Peduli Lingkungan

11 November 2023   18:11 Diperbarui: 12 November 2023   07:07 303
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Dimana ada manusia-manusia tak berakal menjejak, disitulah ada sampah-sampah berserakan"

Menikmati perjalanan naik kereta api ditemani segelas kopi panas dan pemandangan laut memang punya sensasi tersendiri. Apalagi bila menjelang sore tiba, jingga mentari di atas kerlipan air laut menjadi alasan penumpang lebih memilih duduk dekat jendela. 

Sensasi ala 'anak Indie' itulah yang bisa dirasakan ketika menumpang kereta api dari arah Pekalongan menuju Semarang. Keindahan langit dan laut berpadu sempurna, terlihat melalui kaca jendela.

Namun dalam tulisan ini, saya tidak akan bicara banyak mengenai penumpang di dalam kereta, melainkan justru dari luar kereta yakni tentang para pengamat dan pecinta kereta api yang berada di lingkungan sekitar rel. 

Sumber gambar : Facebook KAI/fotografer oleh Rio Prabowo
Sumber gambar : Facebook KAI/fotografer oleh Rio Prabowo

Mendekati Stasiun Plabuan di Kecamatan Grinsing, terdapat tebing buatan bernama Bukit Pandang Menara Senja. Tak jarang, tempat tersebut dijadikan pecinta kereta api sebagai spot mengambil foto.

Tak hanya estetika hasil jepretan yang didapat, tapi juga rasa bahagia karena bisa healing melalui keindahan ciptaan-Nya. Tersuguh pemandangan senja di atas laut.

Tapi, seiring viralnya Bukit Pandang Menara Senja sebagai tempat "mangkal para pemotret", orang yang datang kesana bukan hanya dari kalangan pecinta fotografi kereta saja, tetapi juga masyarakat umum.

Imbasnya, Bukit Pandang Menara Senja yang semula terlihat bersih, berubah menjadi tempat yang dipenuhi sampah plastik. Tanpa rasa bersalah, anak-anak hingga orang dewasa melempar begitu saja gelas minuman hingga kresek ke turunan tebung. 

Salah satu video dari warganet sempat merekam seorang anak yang membuang sampah di area tersebut. Kemudian, mendapat ucapan pedas dari beberapa warga di sekitar yang melihatnya

Eh, kok gampang bener ya buang sampah, padahal disediakan tempat sampah lho! 

Masalah sampah memang masih jadi problematika pelik yang dihadapi oleh masyarakat kita. Kebiasaan menyepelekan hingga tak ada didikan khusus dari orang tua sejak kecil, membuat anak-anak hingga orang dewasa mau melemparkan sampah mereka di tempat umum. 

Padahal sejak kecil diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Itu artinya, kebersihan adalah hal wajib yang harus dijaga karena dari kebersihan, iman seseorang bisa terlihat. 

Ketika orang tua memiliki anak. Tantangan yang dimiliki bukan hanya membesarkan mereka dengan finansial cukup tetapi juga pendidikan karakter. 

Karakter seorang anak dibangun mulai dari orang tuanya. Jika seorang anak dididik untuk menjaga kebersihan, tak membuang sampah sembarangan, maka pemandangan kotor di tempat umum tak akan pernah ada.

Ilustrasi membersihkan sampah (Pixabay/chaiyananuwatmongk )
Ilustrasi membersihkan sampah (Pixabay/chaiyananuwatmongk )

Saya rasa, jika anak telah dibekali pengetahuan mengenai kebersihan, ia akan bersalah ketika membuang sampah sembarangan. 

Pun dengan pemadangan di Bukit Pandang Menara Senja. Seandainya para visitor yang datang sadar akan penjagaan terhadap lingkungan, maka mereka enggan untuk mengotori.

Hingga kemudian, ada sebuah video dari PT KAI yang memperlihatkan anak-anak muda membersihkan sampah-sampah di lokasi. Mereka berasal dari komunitas pecinta kereta api (rail fans) asal Batang, Jawa Tengah. Berikut videonya di instagram,


Anak-anak muda itu kemudian mendatangi para penjual dan memberi trash back. Mereka juga meminta para penjual untuk mengarahkan pembeli agar membuang sampah di trash back yang diberikan.

Apakah manjur? Tentu saja manjur, orang-orang tak berani membuang sampah lagi, tapi secara jangka panjang, saya tidak tahu. 

Menikmati wilayah yang bagus secara gratis apabila tidak diimbangi kesadaran membuang sampah secara benar memang riskan memunculkan kerusakan.

Jujur, saya sendiri termasuk orang yang selalu mengantongi sampah plastik apabila tak ada tempat sampah. Menunggu lokasi yang disediakan tempat sampah, baru buang.

Mengapa saya selalu melakukannya? Sebab, saya sadar bahwa menjaga kebersihan lingkungan itu tugas bersama. Terasa bersalah aja jika mau "Makwerrr" membuang sampah begitu saja.

Dear para orang tua dan calon orang tua, yuk mulai ajarkan anak-anak tentang menghargai lingkungan. Salah satu cara sederhana adalah mengajak mereka untuk membuang sampah pada tempatnya. 

Harapannya, 10,15 dan 30 tahun kedepan, generasi Indonesia adalah anak-anak muda yang menghargai bumi dan tempat tinggalnya. Yuklah, kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?

Salam hangat dari Nurul Mutiara RA

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun