Di perjalanan pulang, Ainay memutuskan untuk berhenti sejenak lantas memakan sebisanya waluh kukus di tangannya. Sisa waluh lainnya terjatuh dan masuk ke selokan selama perjalanan pulang dari mushola.Â
Di rumah, ketika si ibu bertanya dengan semangat perihal siapa saja yang menghabiskan waluh. Ainay berbohong dengan menyebutkan satu per satu nama temannya.Â
Semenjak saat itu, Ainay mengungkapkan bahwa ia tak pernah makan waluh lagi. Baginya, cerita mengenai waluh menjadi semacam luka gores yang sukar untuk sembuh dan selalu mengenang.Â
Keinginan untuk Berbagi meski Hidup Sederhana
Pertama kali membaca cerita dari Ainay, saya merasa begitu terhantam. Hati saya sedih dan luka. Saya membayangkan bocah sekecil itu harus berbohong demi menjaga perasaan ibunya.Â
Ibu Ainay adalah potret perempuan yang meskipun tak berpunya namun berhati emas. Dia tahu hanya memiliki simpanan waluh di dapur. Dan ia berkeinginan membagikan makanan yang menurutnya bakal disukai karena rasanya yang manis dan lembut.Â
Namun kenyataannya berbeda, anak-anak di mushola tempat Ainay mengaji lebih memilih makanan lainnya. Sebab menurut mereka, dari segi wujud dan warna, waluh kukus memang meragukan.Â
Mungkin akan berbeda bila yang disajikan kolak waluh yang dimasukan ke plastik kecil-kecil.Â
Sampai saat ini, cuitan anak perempuan itu masih legend sebagai kisah paling menyedihkan. Ribuan retweet memenuhi postingannya tersebut.Â
Bagi saya, ibu Ainay adalah sosok yang menginspirasi. Dibalik keterbatasan finansial keluarga, beliau masih sempat berpikir untuk memberi makanan kepada orang-orang yang bertadarus.
Pun dengan Ainay, saya bisa melihat kepolosan seorang bocah yang hanya ingin membuat lega ibunya. Saya sempat membayangkan bila menjadi dirinya.Â