Etnomatematika diperkenalkan oleh matematikawan bernama D'Ambrosio pada tahun 1977 yang berasal dari Brasil. Etnomatematika menurut D'Ambrosio adalah budaya baik berupa kesenian, pakaian adat, bahasa, isyarat, bahkan dari segi makanan dan minuman serta banyak lagi yang lainnya yang berkaitan dengan konsep-konsep matematika seperti aktivitas mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain, menentukan lokasi, dan lain sebagainya.Â
Dari pendapat yang dikemukakkan oleh penemu etnomatematika, peneliti menggarisbawahi pada budaya yang mencakup makanan sebagai media untuk menggambarkan konsep-konsep matematika. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah peneliti lakukan, ditemukan beberapa konsep matematika yang terdapat pada jajanan tradisional khas Betawi.
Etnomatematika pada jajanan tradisional khas Betawi merupakan gabungan dari budaya khas Betawi yang dalam hal ini adalah kerak telor, kue ape, kue dongkal, kue rangi dan dodol betawi dengan konsep-konsep matematika. Tidak hanya sebatas jajanan tradisional khas Betawi saja yang dapat dikaitkan dengan konsep matematika, tetapi segala hal yang berkaitan dengan budaya suatu daerah yang kental dengan ciri khasnya. Baik itu makanan khas, pakaian adat, tarian adat, rumah adat maupun kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Hal ini selaras dengan pendapat Bishop yang mengatakan bahwa "Matematika merupakan suatu bentuk budaya. Matematika sebagai bentuk budaya, sesungguhnya telah terintegrasi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dimanapun berada" (dalam Huda, 2018: 221). Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing, begitu juga dengan suku Betawi yang memiliki ciri khas atau budaya yang unik.
Salah satu budaya Betawi yang cukup unik dan populer adalah jajanan tradisionalnya. Kerak telor, kue ape, kue dongkal, kue rangi dan dodol betawi adalah sebagian kecil jajanan tradisional khas Betawi yang masih ada dan cukup unik untuk dipelajari dan digali lebih mendalam. Kerak telor dan kue ape merupakan jajanan yang dibuat dengan alat yang berupa wajan berbentuk bulat sehingga bentuk dari kedua jajanan tersebut mengikuti media pembuatannya. Meskipun secara umum tidak ada ketentuan baik bentuk maupun ukuran dari kerak telor dan kue ape, tetapi secara turun temurun jajanan tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan. Sehingga bentuk dari kerak telor dan kue ape dapat dikaitkan dengan konsep matematika yakni pada geometri bangun datar.Â
Selain itu, geometri ruang juga dapat dikaitkan dengan kue dongkal, kue rangi dan dodol betawi. Dengan cetakan khusus berbentuk kerucut untuk membuat kue dongkal dan berbentuk oval atau setengah silinder untuk membuat kue rangi. Sedangkan bentuk dari dodol betawi beragam, ada yang berbentuk silinder, balok maupun kubus sesuai dengan keinginan dari pembuatnya.
Konsep dalam geometri membahas tentang titik, garis dan bidang. Geometri sering digunakan untuk mengukur bangun datar maupun bangun ruang. Dalam penerapannya, geometri sering kali digunakan untuk mengukur tinggi bangunan, volume air, luas tanah dan untuk mengetahui posisi benda mati lainnya. Dalam hal ini konsep geometri dikaitkan dengan jajanan tradisional Betawi antara lain pada kerak telor, kue rangi, kue dongkal, kue ape dan dodol betawi.Â
Sejalan dengan pendapat Nur'aini yang mengatakan bahwa "Geometri merupakan salah satu bidang dalam matematika yang dianggap paling sulit untuk dipahami. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah pendekatan untuk lebih detail bagaimana mempelajari konsep geometri. Salah satunya dengan pendekatan etnomatematika pada produk kuliner sebagai media pembelajaran dalam memahami konsep geometri" (dalam Choeriyah, 2020: 214) Berikut ini konsep-konsep yang dapat diterapkan dalam memahami geometri bangun datar maupun bangun ruang.Â
Pertama pada bentuk kerak telor berbentuk bulat (lingkaran). Diameter pada kerak telor adalah 14 cm, sehingga luas dari kerak telor adalah 154 cm dan kelilingnya 44 cm. Diameter pada kue ape adalah 10 cm, sehingga luasnya adalah 78,5 cm dan keliling kue ape adalah 31,4 cm. Dodol betawi berbentuk tabung dengan diameter 5 cm dan tingginya 15 cm, sehingga volume adalah 294,375 cm. Kue dongkal berbentuk kerucut dengan diameter 25 cm dan tingginya 30 cm, sehingga volume adalah 4.906,25 cm. Kue rangi berbentuk setengah oval (elips) berdiameter masing-masing 7 cm dan 2 cm, luasnya didapat 22 cm dan keliling kue rangi adalah 14,13 cm.
Selain konsep geometri, konsep matematika yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah perbandingan. Secara matematika perbandingan berarti sebuah pernyataan kesamaan antara dua rasio yang biasa ditulis sebagai  =  [a : b = c : d] (Hamidah, dkk 2017:2). Konsep perbandingan sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari dan tanpa disadari masyarakat telah belajar hal tersebut. Seperti dalam pembuatan jajanan tradisional khas Betawi juga terdapat perbandingan untuk mengetahui ukuran atau takaran yang sesuai, sehingga dengan mengetahui perbandingan tersebut akan menghasilkan produk jajanan yang berkualitas.Â
Proses pembuatan jajanan Betawi membutuhkan waktu yang beragam, seperti dalam pembuatan kerak telor yang membutuhkan waktu 4 menit dan kue rangi 2 menit. Hal ini dapat dipraktikkan menggunakan perbandingan  atau bisa ditulis dengan a : b, a merupakan pembanding pertama yakni kerak telor dan b adalah kue rangi. a = 4 dan b = 2 sehingga perbandingannya adalah 4 : 2. Apabila bilangan tersebut bisa disederhanakan, maka sederhanakan ke bentuk yang terkecil. Hasilnya adalah 2 : 1, dari sini bisa disimpulkan bahwa 2 lebih besar dari 1 (2 > 1). Dapat disimpulkan bahwa jajanan yang membutuhkan waktu lebih lama adalah kerak telor dengan perbandingan 2 : 1.
  Sama seperti mencari perbandingan waktu pembuatan jajanan Betawi, perbandingan takaran untuk membuat kerak telor juga dapat dicari dengan langkah-langkah yang telah disebutkan di atas. Pertama, perhatikan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerak telor yakni beras ketan 3 sendok, kelapa sangrai 2 sendok, telur 1 butir (1 sendok) dan bumbu-bumbu penyedap 1 sendok. Karena bahan pembuat kerak telor terdiri dari 4 macam, maka perbandingannya adalah a : b : c : d, a = beras ketan, b = kelapa sangrai, c = telur dan d = bumbu. Jadi perbandingannya adalah 3 : 2 : 1 : 1. Tidak diperlukan penyederhanaan lagi karena hasil perbandingan sudah menunjukkan bilangan yang paling sederhana.
Selanjutnya konsep matematika pada jajanan tradisional khas Betawi adalah persamaan linier. Persamaan linier tidak hanya dipelajari oleh siswa dalam sekolah saja tetapi dalam menghitung keuntungan dan pendapatan penjualan, para penjual secara tidak langsung juga telah menerapkan konsep persamaan linier. Contoh kasus penjual kue dongkal membeli bahan-bahan seperti tepung beras, kelapa, gula dan garam menghabiskan uang sebesar Rp 70.000,00. Dengan modal tersebut penjual kue dongkal dapat menghasilkan 10 potong kue dongkal. Keuntungan yang diinginkan oleh penjual adalah sebesar Rp 3000,00 tiap potongnya.Â
Dari kasus tersebut dapat dihitung dengan persamaan linier dengan cara konsep persamaan linier. Sehingga dapat diperoleh harga jual kue dongkal tiap potongnya adalah Rp Rp 10.000,00. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Huda "Seorang produsen kue jajanan pasar (Walginah) membuat dan menjual 250 lemper dan 350 arem-arem. Jika biaya produksi lemper 1000, harga jual 1400 dan biaya produksi arem-arem 1200, harga jual 1500. Sehingga diperoleh keuntungan Walginah dalam satu hari adalah sebesar Rp 205.000,00 (Huda, 2018: 226).
Konsep matematika lainnya adalah aritmatika atau dikenal dengan operasi hitung merupakan cabang ilmu matematika tertua. Keempat operasi hitung yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian sering digunakan dalam kegiatan sehari-hari baik dalam pendidikan maupun kegiatan sosial lainnya. Di bidang perdagangan, aritmatika juga dipakai untuk menghitung keuntungan atau pendapatan bersih, diskon, bunga, pajak hingga perbandingan.Â
Perhitungan keuangan dalam perdagangan tersebut sering dikenal dengan sebutan aritmatika sosial. Hal ini selaras dengan pendapat Kurniawan & Fitriani bahwa "Aritmatika sosial adalah isi didalam matematika yang menjelaskan tentang cara menghitung keuangan pada kegiatan jual beli atau perdagangan maupun bisnis" (dalam Isnawati & Rosyana, 2021: 676). Contoh kasus pada penjualan kerak telor dengan harga jual Rp 25.000,00 dengan keuntungan 60%. Penjual dapat mencari harga bahan baku atau modal dari penjualan kerak telor dengan konsep aritmatika yakni membagi harga jual dengan persentase keuntungan ditambah 100%, sehingga ditemukan modal awalnya adalah Rp 15.625,00.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H