Mohon tunggu...
Muslifa Aseani
Muslifa Aseani Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Momblogger Lombok

www.muslifaaseani.com | Tim Admin KOLOM | Tim Admin Rinjani Fans Club

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[100HariMenulisNovel] #26 Aluy

13 April 2016   15:43 Diperbarui: 13 April 2016   15:50 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="DokPri: Kembang Kertas dari halaman rumah ibu."][/caption]Tarik ulur sikap ibunya membuat Baiq makin penasaran. Sekalian, pertemuan besar dengan keluarga Aluy, mertuanya dan Ranti disusunnya.

(Epilog Aluy 25)

Rasa-rasanya aku harus memanfaatkan kegalauan ibu. Sekali waktu mencegahku dekati Ranti, sekarang tiba-tiba memintaku mengundangnya. Mengapa tak sekalian diramaikan dengan mengundang juga orang tua mas Bagas, juga keluarga Aluy? Mungkin tak harus di rumah. Di salah satu lesehan di kota Mataram atau restauran yang paling dekat dari rumah keluarga Aluy, minimalkan resiko penolakan jika lokasi berbuka jauh dari rumah. Tak sadar jentikkan jari, pikiran dan permintaan yang kupikir baik ini harus diutarakan. Demi sempurnakan prasangka, aku sejiwa dengan ibu.

Aluyyyyyyy, bantu aku yakinkan umi dan abahmu. Aku dan ibu akan mengundang orangtuamu berbuka bersama. Resto terdekat dari rumahmu dan favorit orangtuamu yang mana ya? Terakhir aku hanya ke lesehan baru di pinggir Mataram. Buruan mbalesnyaaaa..

Aku tinggalkan pesan suara di chat kontak WA Aluy. Berikutnya, edit beberapa kata dan tanda baca, pesan yang mirip kukirim ke mas Bagas dan Ranti. Aku yakin akan dapatkan persetujuan dari mereka bertiga. Ibu? Aku hanya harus meyakinkannya agar mau semalam menginap di hotel favoritnya di Mataram. Jika perlu, beramai-ramai dengan Paman Muis sekeluarga. Sepanjang hari itu, wajahku cerah karena senyuman lebar yang enggan segera menghilang.

***

“Kamu sehat kan? Aku masih tak tahu cara sampaikan undanganmu dengan tepat. Maksudku, jika benar bersama keluarga suamimu dan Ranti, duh Baiq. Gimana dong?”

“Ish, umi dan abah tidak perlu tahu kalau akan ada Ranti dan orang tua mas Bagas. Nanti biar aku yang kenalkan mereka semua pas sudah berkumpul. Ayolah, begini-begini kemampuan PRku masih bagus koq. Itu juga resep rahasia buku-bukuku laris.”

Memaksa Aluyface time, video chat gawai Iphone, aku merayunya habis-habisan agar mau membantuku meyakinkan orangtuanya.

“Paksaanmu nggak banget. Empat kotak bakpia pathok coklat dan duren paketkan ke sini. Pilih opsi kirim tercepat!”

Sudah lah bermata lebar, Aluy masih harus bulatkan dua matanya saat katakan kalimat ini. Lima jari kananku merapat dan tertempel di dahi, sanggupi syarat mudah Aluy.

Menjelang waktu makan malam, mas Bagas langsung menyergapku dengan pertanyaan beruntun.

“Yakin orang tuaku juga harus hadir? Itu berarti aku yang harus temani mereka berangkat dan pulang dari Malang, Lombok. Orang tua Aluy juga? Bahkan Ranti? Seramai itu, apa ibu bisa nyaman?”

Persis selepas menutup pintu kamar, sembari membantu mas Bagas lepaskan dasi dan jasnya, pun senyum lebar yang hangat aku yakinkan ia bahwa ideku sama sekali tak salah.

“Kan mas juga yang bilang, makin hari aku makin sejiwa dengan ibu. Kehangatan keluarga Aluy, juga lembutnya mamah Widya pasti akan memikat ibu. Ranti juga jadi tahu keluarga besar kita. Mas sudah tahu, bagiku, keluarga Aluy kuanggap keluarga besarku juga. Iya kan?”

Demi tatapi binar mata serta senyum hangatku, tak urung mas Bagas hadirkan senyum juga.

“Baiklah. Kalau istriku yang cantik menjadi bahagia, pastinya aku akan rasakan yang sama.”

“Alhamdulillah. Sebagai hadiah, malam ini resep capcay budhe Parti aku ganti dengan pelengkap seafood. Favorit mas Bagas. Segera turun selepas mandi ya…?”

“Siap istri cantik…”

Kecup jauh ditiupkan dan aku membalas dengan kedipan mata.

Belum ada balasan dari Ranti. Satu telepon panjang besok pagi kuharapkan segera beroleh jawab dari undanganku. Kalau pun menolak, aku pastikan akan menjemputnya ke rumah. Menculik adik sendiri dan dua anaknya tentu bukan kejahatan serius. Nanti aku akan memintanya menjadi pengacaraku, jika sampai menjadi kasus hukum. Malam itu, aku terlelap dalam senyum lebar nan hangat.

--Bersambung--

*Selong 13 April

Rangkaian cerita sebelumnya: ALUY - Bab 1: KEPERGIAN.

#21 | #22 |#23 | #24 | #25

Olah diksi ini meramaikan Event Tantangan 100 Hari Menulis Novel Fiksiana Community Kompasiana.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun