Mohon tunggu...
Mulaviani Fatimah Azhar
Mulaviani Fatimah Azhar Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Seorang mahasiswa yang menyukai budaya dan Perjalanan

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Kilas Perjalanan di Museum Ullen Sentalu

11 September 2024   17:03 Diperbarui: 11 September 2024   17:09 162
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu Spot Foto di Museum Ullen Sentalu.

Dibalik pepohonan rindang di dekat kaki Merapi, berdiri gagah Museum Ullen Sentalu. Entah alasan apa yang melatarbelakangi pemilihan tempat untuk mendirikan museum tersebut. Sempat ragu rasanya ketika sepeda motor yang kukendarai berbelok ke jalan kecil yang penuh dengan pepohonan. 

Untung saja, seorang lelaki paruh baya yang aku asumsikan sebagai juru parkir museum mendekatiku dan berkata “tempat parkir museumnya ada di depan sebelah kiri, Mbak”, lega rasanya mengetahui bahwa aku tidak tersesat. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera melajukan sepeda motorku ke arah yang ditunjukkan olehnya.

Hawa dingin khas daerah pegunungan menyapu lembut pipiku ketika aku melepas helm yang kupakai. Mataku lantas tertuju ke bangunan berbentuk lingkaran dengan dinding berwarna abu-abu di depan mataku. Kulangkahkan kakiku menuju ke bangunan tersebut. Begitu bangunan tersebut tampak jelas bagiku, segera dapat aku identifikasikan bahwa terdapat banyak tangga yang mengelilingi bangunan tersebut. 

Kebingungan kembali hadir dalam pikiranku. Memberanikan diri, aku melangkah menuju satpam yang berdiri di sudut bangunan. “Pintu masuknya lewat mana ya, Pak?”, tanyaku sembari tersenyum. “Lewat pintu sebelah sini, Mbak”, beliau memberikan gestur dengan sangat jelas untuk menjawab pertanyaanku.

Segera setelah aku mengikuti instruksi yang diberikan satpam museum, aku sampai ke sebuah ruangan dengan meja berpartisi. Seseorang menyembulkan kepalanya ketika aku berjalan mendekati meja itu. Aku mengeluarkan kupon tur adiluhung gratis di museum Ullen Sentalu yang aku dapat dari memenangkan lotre di sebuah acara yang diselenggarakan oleh program studi Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada. Sejujurnya aku sempat malu untuk mengeluarkan kupon tersebut, namun untungnya perempuan muda penjaga meja registrasi tersebut menyambut kuponku dengan sangat ramah. Beliau langsung mengenali kupon yang kudapatkan. Reaksi menggemaskan muncul ketika beliau memeriksa kupon tersebut. 

Percakapan sederhanapun terjalin antara aku dan beliau. Pembicaraan kami hanya seputar tentang program studi apa yang sedang aku pelajari di UGM dan percakapan ringan tentang asal kami masing-masing. Kudapatkan informasi bahwa beliau merupakan orang Jogja asli yang kini bekerja di museum Ullen Sentalu. Percakapan kami singkat saja, karena kemudian ada rombongan yang datang untuk masuk ke museum. Sayangnya, aku tak sempat menanyakan nama dari perempuan muda tersebut.

Aku lantas diberi instruksi untuk menuju ke ruangan berikutnya. Begitu sampai di ruangan yang ditunjukkan, dapat aku lihat beberapa kursi berjajar rapi menghadap ke jendela dengan pemandangan patung-patung yang disusun di sisi-sisinya. Aku diberi instruksi untuk menunggu selama kurang lebih 25 menit di ruangan tersebut. Aku melihat-lihat sekitarku dan tak lama muncul dua orang perempuan yang kemudian duduk di sampingku. 

Tidak lama dari kedatangan mereka, kemudian muncul lima orang dengan seorang dari mereka menggendong bayi ikut duduk menunggu. Suasana makin ramai dengan banyaknya obrolan yang terjadi. Selama menunggu, aku lebih banyak diam menikmati suasana sekitarku dan udara menyejukkan yang menelisik gemas pipiku. Tak terasa, terdengar sebuah panggilan dari speaker museum yang ditujukan kepada mereka yang memiliki tiket tur adiluhung untuk segera berkumpul dan memulai tur.

Rombonganku waktu itu berjumlah sepuluh orang dengan seorang pemandu. Sebelum tur dimulai, kami dijelaskan terkait dengan ruangan yang akan kami kunjungi dalam tur adiluhung tersebut. Secara keseluruhan kami akan mengunjungi 5 ruangan dengan durasi tur sepanjang 45 menit. Sepanjang tur, kami dilarang untuk mendokumentasikan koleksi yang dimiliki oleh museum Ullen Sentalu.

Tur kemudian dimulai dengan sebuah ruangan yang berisikan satu set gamelan jawa dan banyak foto-foto lawas dari Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran. Di ruangan ini, kami dijelaskan terkait dengan sejarah mataram hingga perpecahan mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta.

Tur bergerak cepat, hingga tak terasa kami sudah bergerak ke ruangan berikutnya yang berisikan surat-surat serta puisi-puisi yang pernah ditulis oleh anggota keluarga dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. “Itu ada yang tulisannya lucu, soal hippopotamus”, celetuk pemandu tur ketika aku sedang membaca koleksi yang ada. Aku hanya tersenyum dan tertawa ketika membaca keseluruhan pesan yang ada. Sayangnya, karena keterbatasan waktu tidak semua koleksi surat dan puisi dapat kubaca.

 Ruangan ketiga yang kami masuki berisikan pakaian dan perhiasan-perhiasan yang dimiliki oleh anggota keluarga Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. “Koleksi perhiasan emas yang dipajang di sini semuanya replika perhiasan aslinya”, jelas pemandu tur kepada kami. 

Hal yang menarik perhatianku dari ruangan ini adalah terdapat sebuah pakaian tradisional Jawa yang kemudian dikombinasikan dengan hiasan kepala berupa topi bulu seperti yang dipakai oleh perempuan-perempuan di Eropa. Pemandu tur menjelaskan bahwa itu merupakan bentuk gaya busana yang pernah terjadi pada waktu itu. Pemandu tur juga menjelaskan bahwa pakaian tersebut hanya digunakan untuk acara informal, bukan acara formal kerajaan.

Ruangan keempat yang kami kunjungi hanya sebuah ruangan kecil berisikan kain-kain batik khas Yogyakarta dan Solo. Pemandu menjelaskan kepada kami terkait dengan perbedaan dari batik Yogya dan juga batik Solo. Perbedaan yang paling terlihat adalah dari warna dasar batiknya. Batik Yogya umumnya menggunakan warna putih untuk dasarnya dan batik Solo menggunakan warna coklat yang gelap. Di ruangan ini, kami juga dijelaskan fungsi dan makna dari motif-motif batik yang ada.

Ruangan kelima sekaligus penutup tur kami merupakan sebuah ruangan yang didedikasikan khusus untuk Gusti Nurul dari Pura Mangkunegaran. Gusti Nurul merupakan putri tunggul dari Mangkunegara VII. Pemikiran serta prinsip yang beliau anut sepanjang hidupnya membuat beliau menjadi sosok inspiratif yang banyak dikagumi oleh banyak orang. Untuk menghargai pemikiran dan prinsip beliau, Museum Ullen Sentalu kemudian mempersembahkan sebuah ruangan khusus untuk menyimpan koleksi peninggalan dari beliau yang istimewanya diresmikan langsung oleh Gusti Nurul.  

Setelah tur berakhir, kami baru dipersilahkan untuk mengambil gambar di area yang diperbolehkan. Di area tersebut banyak tersebar patung-patung serta kolam ikan dan air mancur yang indah. Di kawasan tersebut juga terdapat sebuah toko souvenir dan restoran. Aku banyak mengambil gambar sebagai sebuah kenang-kenangan yang dapat selalu aku kenang di kemudian hari. Setelah puas berfoto, aku memutuskan untuk kembali ke parkiran dan pulang.

Tur Museum Ullen Sentalu di hari itu merupakan suatu pengalaman berkesan bagiku. Suasana museum yang sejuk dan keramahan pegawai yang ada di sana membuat suasana hatiku menjadi damai dan tentram. Semua terasa sempurna. Hanya saja terdapat sedikit kekecewaan dalam hatiku karena pemandu yang mendampingi kami di hari itu menjelaskan semuanya dengan sangat cepat sehingga ada beberapa informasi yang tidak dapat kutangkap dengan jelas. Namun, selain itu semua terasa menyenangkan. Aku kembali mengenakan helm dan melanjutkan perjalananku untuk pulang kembali ke Kota Yogyakarta.      

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun