Menari dia setengah hati dan menggeliyut kepada lelaki yang memuji diri tanpa henti.
Tak dikehendakinya tangan-tangan usil menjamah kulitnya walau hanya mampir seperti ujung pensil.
Tarian selesai. Dia berhenti dan bersalin pakaian. Menghapus riasan dan segera pulang. Musik memekakkan telinga, kepul asap tembakau, dan cekikikan rekan sejawat begitu menyandakan.
Belumlah sampai rumah, dia tepekur menatap lampu kota. Bosan, penuh pertaubatan. Hendak pulang. Ke pangkuan ibunda dan berharap tak terlahir selamanya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI