Buktinya, pilkada tahun kemarin. Suasana Jakarta seperti daya magnet yang kuat bagi warga diderah lain, menyikapi suasana. Seperti rasa pengamat, punya hak suara, rasa konsultan kemenangan calon bahkan rasa-rasa menjadi salah satu dari calon kepala daerah. Pokok eh seru, termasuk saya hehe...
Nih salah satu contoh percakapan tahun silam. Gua, sia Anu kata Junai. Gue, si Ani jawab si Zailani. Kalau ente siapa? Gue, si Asyiap tantang Fulan. Ente semua, pada banyak bacot, kan lu, lu, lu tunjuk Panjul tak punye hak suare, si Benjo tu yang punya hak suare, maksudnye hak pilih, kan die warge Jakarte. Lu orang Curup, nggak ngaruh..
Percakapan seru ini dari magnetis politik ibu kota. Apabila dipikir kok segitunya, ya saya kemarin, entahlah?
Politik bakal seru, jika ada pihak pro vs pihak kontra. Pada lain hal justru politik juga mengajarkan prihal penting yang tak kalah heboh dari pasca pilkada, saat menetukan pilihan justru terjadi saat ada yang terpilih atau saat mendekati suksesi politik.
Apa itu?
Istilah tidak ada namanya permusuhan abadi, lawan abadi dalam politik. Teman/kawanpun bisa menjadi lawan, lawan suat saat bisa menjadi teman. Berlawanan entah esok kita berpasangan.
Ini dapat dilihat dalam kanca perpolitikan, baik dari ranah pilpres, pilgub, pilbup pun sering terjadi. Kemarin berlawanan berkompetisi keras dan ganas, besok berangkulan bahkan justru cium-ciuman.
Cerdas bukan. Walaupun pada tataran akar rumput masih terjadi gontok-gontok kan. Yang diatas justru saling dekap-dekapan.Â
Mestinya inilah menjadi catatan yang harus dipahami hakikat sebuah politik. Sepakat dengan konsep dalam teori bapak Machiavelli bahwa politik itu intrik/kejam jika ingin berkuasa.Â
Mungkinkah Pilkada Jakarta Ahok, Anis Risma, dan Sandi Berpasangan
Berdasarkan paparan diatas akan kata kemungkinan dalam dinamisnya politik serta ruwetnya politik tak ubah seperti roda pedati yang bergerak, naik turun, atas bawah. Sukar dipastikan secara ilmu eksak.