Mohon tunggu...
Mohammad Rafi Azzamy
Mohammad Rafi Azzamy Mohon Tunggu... Penulis - Seorang Pelajar

Menjadi manusia yang bersyukur dengan cara bernalar luhur dan tidak ngelantur | IG : @rafiazzamy.ph.d | Cp : 082230246303

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Apakah Polisi Sudah Jadi Polusi? : Reinkarnasi Devide Et Impera dalam Reformasi

21 Oktober 2020   20:52 Diperbarui: 21 Oktober 2020   21:36 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : CNN Network

Jadi teringat masa-masa penjajahan di Nusantara, dimana salah satu penjajahnya adalah Belanda, 350 tahun bangsa kita ditindas sedemikian rupa, harga diri diinjak-injak tanpa belas kasih, mereka dapat tetap menjajah karena mereka menggunakan metode devide et impera, bangsa ini tunduk seketika, lama sekali tumbuh kesadaran akan kemerdekaan, sebuah metode yang amat berbahaya, akankah devide et empera telah ber-reinkarnasi kembali di era reformasi ini?. 

 Apa itu Devide Et Impera? 

 Devide et impera, merupakan politik adu domba yang berguna untuk memecah belah suatu kelompok, kawanan atau-pun bangsa, agar mereka mudah ditakhlukkan secara ekonomi maupun ideologi, metode ini sudah ada sejak sangat lama, diantarannya Raja Phillip 2, Julius Caesar dan sebagainya. 

Namun, secara eksplisit, metode ini dikemukakan oleh Niccolo Marchiavelli dalam buku ke-empat Dell'arte Della guerra, ia menjelaskan bahwa Devide Et Impera adalah metode untuk memecah belah kelompok manusia lalu menguasai-nya. 

 Dalam penjajahan indonesia sendiri, devide et impera di siasati oleh Christian Snouck Hurgonje, metode tersebut secara politis dan dinamis, memanglah sangat efektif untuk menghancurkan tali sosialis dalam suatu kelompok humanis (manusia). 

Dengan memberikan suatu hipotesis (pernyataan) negatif yang berbau ancaman kepada seseorang dalam suatu kelompok, secara otomatis kelompok tersebut akan memiliki kerenggangan hingga terjadi peperangan dan perpecahan.  

Penggunaan devide et impera dapat di lihat pada fenomena penikungan, ketika misalkan anda memiliki kekasih hati yang menjadi pondasi kehidupan, lalu salah satu teman anda ternyata juga menyukai kekasih anda dan teman anda merencanakan penikungan (perebutan perasaan) tajam pada anda, disinilah teman anda dapat menggunakan devide et impera sebagai metode-nya. 

Mula-mula teman anda akan menanamkan kebencian pada kekasih anda mengenenai hal-hal meliputi anda, kekasih anda-pun akhirnya tak lagi suka dengan anda dan ia dapat direbut oleh kawan anda. 

Itu hanya sebatas contoh ya, kadang kita perlu curiga kepada semua orang. 

Lanjut membahas topik utama, yakni reinkarnasi devide et impera polisi yang akan memecah-belah bangsa karena ter-provokasi, lalu menjadi polusi pada persatuan negri ini. 

Beberapa waktu lalu, bangsa digemparkan oleh fenomena polisi yang memukuli mahasiswa, padahal mahasiswa itu juga polisi, lalu polisi yang memukuli-pun juga dipukuli oleh polisi yang tau kalau mahasiswa tersebut ialah polisi. 

Fenomena ini menandakan adanya agenda penyusupan pemecah-belahan yang di inisiasi oleh polisi, dengan menyamar menjadi mahasiswa dan membuat keributan, polisi seperti menjadi Snouck Hurgonje yang menyamar menjadi seorang kyai untuk membuat keretakan. 

Prasangka positif-nya, polisi menggunakan siasat demikian agar menimbulkan keamanan, demi perdamaian, polisi mengutus agen-nya untuk melakukan penyamaran, untuk mengamati kejadian agar tak terjadi kericuhan, terlihat sekali polisi menangkap mahasiswa, dimana penangkapan sendiri secara hukum tak mungkin dilakukan bila yang ditangkap tak melakukan kesalahan seperti kericuhan, nah, mahasiswa yang ditangkap karena kericuhan tadi ternyata juga polisi, logika induktif-nya yaitu bahwa polisi ternyata juga membuat kericuhan dong. 

Dan lagi, apakah memecah belah demi keamanan dapat disebut kebagikan? Bukan-kah hal tersebut melanggar pancasila dasar negara kita tepatnya sila ke-3? Bukan-kah hal tersebut mengkhianati kemerdekaan negri ini? Karena penjajahan-lah yang membuat perpecahan, apakah polisi ingin menjajah negri?. 

 "Kalau devide et impera digunakan aparat untuk menghancurkan persatuan, otomatis polisi telah menjadi polusi dalam nafas demokrasi keadilan"

 Saya berupaya membela asas persatuan bangsa dalam tulisan ini, mengingat reformasi terjadi karena persatuan rakyat dan aparat yang ingin menegakkan keadilan kembali. 

 "Mungkin disini reformasi telah dikorupsi oleh devide et impera yang mulai ber-reinkarnasi"

 Saya tak bermaksud sama sekali untuk menghina para aparat, justru saya sangat berterimakasih kepada-nya, karena berkat fenomena aparat tadi-lah rakyat dapat mengintrogasi noda kebusukan di dalam istana. 

Dan tentunya saya sangat mengapresiasi para aparat baik tentara maupun polisi dan lain-lain, yang tak tunduk pada oligarki, sehingga tak menjadi polusi dan tetap menjadi oksigen dalam demokrasi negri ini. 

 Terimakasih, bila bermanfaat bagikan, menerima kritik dan saran. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun