Pembangunan gereja ini kemudian diprakarsai oleh Pastor Stiphout SJ, yang saat itu bertugas di Paroki Ambarawa.Â
Proses pembangunannya dimulai pada 29 Oktober 1905 dan selesai pada November 1916, menggunakan dana yang berasal dari hasil penjualan undian berhadiah serta dukungan dari Belanda.
 Arsitektur gereja ini menjadi unik karena memadukan gaya kolonial Belanda dengan sentuhan tradisional Jawa, mencerminkan perpaduan budaya yang selaras.
Gereja Santo Antonius Purbayan tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah.Â
Salah satu momen penting adalah ketika Brigadir Jenderal Slamet Riyadi, pahlawan nasional Indonesia, menerima sakramen baptis di gereja ini pada tahun 1949.
Namun, Gereja Santo Antonius Purbayan hanyalah salah satu dari beberapa gereja yang memiliki latar belakang unik di Solo. Dalam sejarahnya, sejumlah rumah milik para pangeran dan tokoh Kasunanan Solo juga diubah menjadi gereja.
Contohnya adalah Gereja San Inigo di Dirjodipuran, yang sebelumnya merupakan rumah milik Raden Mas Dirjodipuro, keturunan Wreksodiningrat. Raden Mas Dirjodipuro menikah dengan seorang Eropa dan menghibahkan rumahnya untuk dijadikan gereja. Selain itu, terdapat pula rumah di Purbawardayan yang dulunya merupakan rumah para pangeran dari lingkungan kepatihan Kasunanan.
Gereja ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa sekaligus bukti bahwa harmoni dapat terwujud di tengah keberagaman.
Dari rumah seorang pangeran hingga menjadi tempat ibadah yang dihormati, Gereja Santo Antonius Purbayan mengingatkan kita akan pentingnya cinta dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Peran aktif Pakubuwono IX dalam mendukung keberagaman menjadi warisan yang berharga, tak hanya untuk warga Solo, tetapi juga untuk seluruh bangsa Indonesia.