Virus Corona merupakan suatu endemik yang tidak berwujud namun tingkat resikonya sangat tinggi. Penyebab kematian dan gejala virus inilah yang menakutkan siapapun. Dampaknya bisa berimbas pada ekonomi.
Industri otomotif dimulai dari pabrik yang dikerjakan oleh manusia. Tangan manusia tersebut bisa memegang komponen mobil dan mesin perakit mobil yang tanpa disadari-jika ia terjangkit virus menular tersebut- bisa menyalurkan penyakitnya pada bagian-bagian mobil dan beberapa objek terdekatnya.
Belum lagi pengaruhnya pada perancang atau pengembang jika melakukan pekerjaan di lapangan serta distributor dan juga bagian pemasar. Hal ini, tentu mengkuatirkan pihak produsen otomotif dari pabrikan luar Cina.
Demi mengatasi penyebaran virus itu, perusahaan otomotif mempertimbangkan hal itu dengan mengambil suku cadang dari negara lain selain Cina. Lokasi terdekat dari produsen negara pemegang merek juga digunakan untuk mengambil suku cadang meskipun harganya akan tinggi.
Selain itu, beberapa perusahaan membatasi perjalanan bisnis pegawai mereka ke Cina. Langkah itu dilakukan oleh pabrikan otomotif seperti Honda dan Nissan. Bahkan, Nissan hendak mengevakuasi pegawainya yang ditempatkan di Wuhan menggunakan penerbangan yang disewa pemerintah. Persis langkah yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan menerbangkan pesawat Batik Air ke Wuhan.
Hal ini dilakukan sebagai langkah mengatisipasi dampak buruk virus itu bagi kesehatan. Selain itu, penyebaran virus itu berdampak pada maskapai penerbangan. Lufthansa Air, maskapai milik Jerman, mengalami penurunan order tiket ke Cina. Kemudian, Cathay Pasific Airways akan mengubah jadwal penerbangan dan menghindari transit dari Cina.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI