Kita dapat memperbaiki kekurangan yang ada dengan merombak aspek-aspek dalam proses pembelajaran yang belum efektif. Langkah ini memungkinkan kita untuk memberikan edukasi yang lebih relevan kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada di daerah tertinggal.
Contoh konkret yang dapat dilakukan yaitu melakukan gotong royong untuk memperbaiki infrastruktur lokal, menyediakan akses pendidikan yang berkualitas, serta meningkatkan perekonomian dengan memberikan bantuan sosial yang tepat sasaran. Dengan pelaksanaan yang adil dan merata, sumber daya manusia di daerah tersebut akan semakin berkembang, sehingga mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
Itu adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan di dunia nyata. Namun, bagaimana cara kita mencegah dampak negatif yang muncul di dunia maya?Â
Dalam dunia maya, ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya yang tidak mencerminkan semangat kebhinekaan. Salah satu contoh yang pernah menjadi perhatian publik adalah penyebaran hoaks terkait isu agama dan politik menjelang pemilu. Berita palsu tersebut tidak hanya memecah belah masyarakat, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.
Kasus lain yang ramai dibahas adalah tren budaya asing yang bertentangan dengan moral dan adat istiadat Indonesia. Sebagai contoh, tantangan-tantangan (challenges) di media sosial yang mempromosikan perilaku tidak pantas atau meremehkan norma budaya lokal. Hal ini menunjukkan lemahnya penanaman nilai Pancasila dalam menghadapi pengaruh global, khususnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Untuk mencegah dampak negatif ini, diperlukan literasi digital yang kuat. Literasi digital tidak hanya mengajarkan masyarakat untuk menyaring informasi, tetapi juga membangun kesadaran untuk menyaring konten yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah, komunitas, dan individu memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat dan produktif.
Kesimpulannya, sebagai rakyat Indonesia, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjadikan Pancasila lebih dari sekadar semboyan. Melalui kerja sama yang adil, baik di dunia nyata maupun dunia maya, kita dapat memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pijakan utama dalam menjaga persatuan dan membangun Indonesia yang lebih baik.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan langkah nyata, seperti memperbaiki proses pembelajaran agar lebih efektif, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai kebangsaan, meningkatkan literasi digital untuk menangkal dampak buruk arus informasi global, serta menghidupkan semangat gotong royong dalam menyelesaikan masalah. Langkah-langkah ini tidak hanya menjadi wujud nyata penerapan Pancasila, tetapi juga membawa dampak positif langsung bagi masyarakat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H