Historis tentang peradaban dunia kini semakin krusial yang awal mulanya peradaban buta ,akan teknologi sekarang peradaban adiktif terhadap perkembangan teknologi, fleksibilitas dari perkembangan zaman ini membuat kaum kaum muda ragu terhadap generasi generasi muda yang berada di ujung dunia.Â
Apakah mereka mampu membawa kestabilan terhadap tatanan sosial atau sebaliknya mereka akan membuat degradasi dengan memanipulasi keadaan dengan menggunakan teknologi yang sekarang sudah merajalela, dan juga tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya teknologi yang sekarang merajalela ini akan membuat interaksi sosial akan tidak optimal karena manusia akan lebih cendrung hidup individual, Ketika hal tersebut suda terjadi maka kepercayaan atau keyakinan serta kesolidatan dan kekeluargaan akan hilang bisa jadi manusia akan menjadi "Homo Homini Lupus" bagi manusia yang lain (Thomas Hobbes).Â
Berawal dari Peradaban jahiliyah, colonial, imperialisme, Erofa dan Asia rakyat atau ummat manusia banyak mengalami ketakutan, takut akan tindak mendapatkan keadilan, karena tidak bisa dinafikan bahwa di zaman jahiliyah serta kolonialisme dan Imperialisme,Ilmu Pengetahuan atau ketajaman intelektual sangat rentan manusia memahaminya, hingga ilmu spritualitas yang mereka miliki dari nenek moyang mereka menjadi kekuatan mereka untuk bisa menghilangkan ketakutan serta melawan ketidakadilan tersebut.
Spiritualitas adalah ilmu yang mempelajari tentang keyakinan, ketika Ilmu Spritualitas dikaitkan dengan nilai atau norma tidak lepas dari agama Budha Hindu Krinten dan Islam. Di dalam agama tersebut ada keyakinan yang besar yang ditanamkan kepada kita oleh orang yang membawanya bahwa yang menciptakan dunia dan isinya ini adalah tuhan yang Maha Esa.(Pancasila point 1) Dan begitupun yang hanya bisa menolong kita adalah tuhan yang menciptakan alam tersebut.Â
Maka interaksi dari sosial peradaban kuno itu lebih cendrung untuk meminta pertolongan kepada tuhan Ketika ada permasalahan serta tidak luput mengucapkan terimakasih Ketika mendapatkan kenikmatan atau kebahagian. Hal ini masih menjadi budaya yang dilakukan oleh oleh yang memiliki tuhan.
Teori dan ilmu spiritualitas itu tidak bisa dibantahkan apalagi tentang adanya tuhan karena banyak sekali refrensi atau teori yang mengatakan bahwa tuhan itu ada dan kekal meskipun adanya tidak berwujud (metafisik), namun dengan fleksibilitas peradaban apalagi di zaman sekarang tahun 2024 yang terkenal dengan Tegnologi atau AI membuat Tuhan mati. (Dead God AI Alive.)Â
Dalam era modern ini apa yang dikatakan oleh filsuf jerman yaitu " Friendrich Nietsche" di dalam bukunya " The Gay Science" ' Tuhan telah mati ' kini Kembali relevan, meski dalam judul yang berbeda, Nietsche menggunakan Frasa untuk mendeskripsikan terdegradasinya nilai nilai tradisional dan hangusnya otoritas moral yang selama ini diasosiasikan dengan agama terutama di dunia erofa namun hal itu berubah di Abad ke-21. Kedatang dan Kecerdasan AI mengalahkan otoritas baru Spritual, Moral, Maupun Intelektual.
Tatanan tradisional tuhan di anggap sebagai pancaran atau sumber dari segala pengetahuan dan pedoman hidup manusia, sehingga banyak manusia yang selalu membawa tuhan dalam situasi dan kondisi  apapun.
Namun sebaliknya dengan kedatang AI mulai banyak mengambil peran yang sebelumnya di monopoli oleh tuhan sebagai entitas yang di anggap "Serba Tahu" mengatur kehidupan manusia dan membuat kebergantungan, sehingga banyak manusia sering bertanya dan bergantung kepada AI dari pada kepada tuhan.
Mungkin Opini ini akan menjadi kontroversial dengan asumsi asumsi sosial, namun ketika kita mengkaji adanya AI tersebut lebih dalam seakan hidup sudah tidak membutuhkan tuhan. Karena setiap manusia kebingungan atau membutuhkan sesuatu itu lebih cendrung menggunakan AI dari pada meminta atau berdoa kepada tuhan.Â
Sedikit saya tergelitik ketika saya menulis Opini ini dengan apa yang di sampaikan oleh Rane Descartes dia seorang pemikir yang memiliki teori skeptisisme atau termasyhur teorinya adalah "Cogito Ergo sum" Aku Berpikir Maka Aku Ada, semenjak adanya AI tatanan sosial mulai berubah dari hal kecil ke hal yang lebih besar.Â
Kita cukup mengambil sempel dari anak muda yang masih aktif di bangku pendidikannya, seakan akan dia sudah kehilangan peran sebagai kaum yang melanjutkan Pendidikan baik SD/SMP SMP/SMA MA SMA/MAHASISWA. Dinama yang seharusnya mereka lakukan adalah literasi harus di Perbanyak Orientasinya Supaya ilmu pengetahuan bisa bertambah luas dan intelektual tambah kritis, dan begitupun supaya melek terhadap tantangan tantangan zaman.Â
dengan adanya AI tesebut seakan anak muda yang melanjutkan pendidikannya hanya menjadi formalitas atau figuran ketika mereka sudah tidak lagi mengenal yang Namanya literasi atau buku buku yang seharusnya mereka konsumsi hal krusial dengan adanya teknologi atau AI ketika seorang guru ngasi tugas kepada muridnya, muridnya mengerjakannya menggunakan Teknologi atau AI tersebut bukan malah mencari atau mengkaji buku buku yang memang suda menjadi acuan dari tugas tersebut.
Sebenarnya kalua kita kaji secara esensial lagi adanya Teknologi dan AI ini banyak sekali manusia tidak mengenal jatidirinya karena selalu bergantung kepada Teknologi atau AI tersebut. Disfungsi yang dari manusia ke robot akuisisi diskriminasi dan demoralisasi. Â
Temperamental yang terjadi sekarang terhadap sosial karena karakteristik dari manusia sudah mulai terkontaminasi teknologi sehingga banyak manusia memiliki karakter hidup tanpa AI akan tidak bermanfaat, minimalis terhadap AI harus dilakukan bagi orang orang yang sering mengkonsumsi AI tersebut. Supaya adiktif dan kebergantungan terhadap AI tidak terjadi dan Kembali kepada tatanan Tradisional.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H