Mohon tunggu...
Muhammad Alfaridzi
Muhammad Alfaridzi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Hasanuddin

Saya adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Kenangan Manis di Bangku SMA

27 Agustus 2024   11:02 Diperbarui: 27 Agustus 2024   11:04 120
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Permisi, Bu. Numpang tanya, ruangan kelas 12 MIPA 2 di mana ya, Bu?"

"Lho, kamu belum tahu?"

"Iya, Bu. Saya baru masuk hari ini."

"Oh, kamu murid pindahan, ya? Kebetulan sekali, hari ini saya yang mengisi jam pelajaran pertama di kelas tersebut. Mari saya antar sekalian."

"Terima kasih banyak, Bu."

Senin pagi itu, langit nampak mendung kelabu. Aku mengikuti langkah Bu Guru hingga sampai di depan kelas 12 MIPA 2.

Dengan menghela nafas panjang, diriku memberanikan diri memasuki kelas.
"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kelas kita kedatangan murid baru." sapa Bu Guru, lalu mempersilakan aku untuk memperkenalkan diri.

"Perkenalkan, nama saya Delvina Zela Azzahra. Karena faktor pekerjaan orang tua, saya harus pindah ke sini. Salam kenal semuanya."

Ruangan kelas yang penuh dengan wajah-wajah tak dikenal, membuatku merasa seperti ikan yang terlempar ke dalam kolam baru. Aku duduk di bangku kosong paling belakang, mengamati sekeliling dengan rasa canggung. Sepanjang hari pertama itu, aku lebih banyak diam dan merasa bosan karena tiada hal yang begitu menarik.

Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul tiga sore. Bel sekolah berbunyi, pertanda waktu pulang. Aku bergegas merapikan perlengkapan sekolah dan memasukkannya ke dalam tas. 

Saat hendak mengangkat bangku ke atas meja, pandanganku tak sengaja tertuju pada seorang siswa yang berdiri di pintu masuk. Dia itu cowok berpostur tinggi, memiliki senyuman yang menawan, dan sedang asyik bercacak pinggang dengan teman-temannya. Untuk pertama kalinya, ada yang berhasil membuatku gagal fokus. Untunglah, bangku yang sedang kuangkat tidak terjatuh.

Setelah aku cari tahu, ternyata nama cowok tersebut adalah Fandi. Sejak saat itu, aku mulai sering memperhatikan dirinya dari kejauhan. Menantikan kehadirannya, curi-curi pandang, dan mengamati hal-hal kecil dari setiap gerak-geriknya. Sesekali dia menyapaku dengan ramah saat berpapasan di jalan. Rasanya, hari-hariku yang tadinya terasa biasa saja dan membosankan kini jadi lebih bersemangat.

Sayangnya, kenyataan pahit menghempaskanku dari lamunan indah itu.

Sebagai pribadi yang pendiam, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas sambil menggambar karakter anime di buku catatan kosong. Saat sedang asyik menggambar, suara obrolan beberapa cewek di belakangku tiba-tiba menarik perhatianku. Mereka sedang membicarakan Fandi. "Eh, si Fandi langgeng sama pacarnya, ya? Kayaknya mereka belum putus," ucap salah satu dari mereka.

Mendengar itu, rasanya seperti ada yang menghantam dadaku. Bayangkan saja, baru juga merasakan jatuh cinta belum genap seminggu, sudah harus patah hati. Sungguh mengenaskan!

Aku pun penasaran dan diam-diam mencari tahu siapa sebenarnya gadis yang beruntung menjadi pacar Fandi. Pada suatu kesempatan, saat jam istirahat tiba, akhirnya aku memergoki si Fandi menemui sang pacar. Aku tak bisa memungkiri, pacarnya tersebut sangat manis. Bahkan aku, yang seorang perempuan, turut terpukau melihat parasnya. Dari situ, aku memutuskan untuk menjaga jarak dari Fandi, menyadari posisiku yang hanya bisa memendam perasaan ini dalam-dalam.

Sialnya, tepat ketika aku mulai mencoba untuk tidak berharap lebih padanya, takdir seolah mempermainkanku. Setiap minggu, kelas kami mengadakan rolling bangku secara acak yang diundi melalui kertas. Tak disangka, pada suatu undian, aku kebagian duduk sebangku dengan Fandi. Asli, jantungku hampir mau copot. Dan di situlah, interaksi kami menjadi lebih dari sekadar 'saling sapa seperlunya'. Fandi yang lebih sering memulai obrolan, sementara aku hanya bisa berusaha terlihat cuek, meskipun di dalam hatiku bunga-bunga sedang bermekaran.

Kebetulan demi kebetulan terus terjadi. Saat guru mengundi kelompok belajar, aku sekelompok dengan Fandi. Kami sepakat untuk mengerjakan tugas kelompok di rumahku. Karena aku biasanya pulang naik ojek online, Fandi berbaik hati menawarkan tumpangan motornya. 

Lama-kelamaan, aku jadi sering diantar pulang olehnya. Senang sih, tapi selalu ada bayang-bayang kekhawatiran yang menghantuiku. Aku khawatir pacarnya akan salah paham kalau lihat aku berboncengan dengan Fandi. Rasanya jadi nggak enak kalau sampai begitu. Walaupun hati kecil ini tak bisa berbohong ingin lebih dekat dengan dia, aku tahu harus sadar diri. Aku tidak ingin hubungan pertemanan kami merusak hubungan asmaranya dengan orang lain.

Sebuah rintihan tersembunyi di antara helaan napasku, "Ah... Momen kebersamaan ini, janganlah cepat berlalu."

Suatu ketika, Fandi menghampiriku dengan senyum mengembang di wajahnya. "Kira-kira kamu ada info lomba nggak, ya? Kita ikut bareng, yuk!" ajaknya antusias. Aku tertegun sejenak. "Lomba?" tanyaku balik. Aku terkejut dengan ajakannya yang mendadak itu.

Awalnya, kukira dia hanya bercanda. Maka dari itu, aku menanggapinya dengan santai sambil menunjukkan sebuah poster. "Kebetulan banget nih ada lomba bikin komik. Nah, kamu mau bantu bagian apa? Kalau kamu punya kemampuan menulis, mungkin bisa jadi script writer-nya. Nanti aku yang urus bagian gambar."

Tak disangka, Fandi benar-benar serius dan langsung mendaftar lomba tersebut keesokan harinya. Dalam dua minggu, kami menyelesaikan proyek lomba itu berdua. Meskipun pada akhirnya hasilnya belum sesuai harapan, proses kolaborasi antara konsep cerita dan detail gambar yang kami lalui bersama sudah menjadi hadiah tersendiri bagiku.

Tidak banyak teman sekelas yang tahu kalau aku dan Fandi bikin karya bareng. Baguslah, terhindar dari bahan pembicaraan.

Sayangnya, momen kebersamaan kami ternyata hanya bertahan hingga pertengahan semester. Sejak memasuki semester enam, kami semakin disibukkan dengan persiapan ujian sekolah, ujian praktik, dan seleksi masuk perguruan tinggi. Akibatnya, kami kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi secara intens seperti sebelumnya.

Dia adalah orang pertama yang membuatku merasakan debaran cinta di bangku SMA, satu-satunya sosok yang pernah menghiasi hari-hariku dengan penuh warna di masa seragam putih abu-abu. Aku senang bisa mengenal orang sepertinya, meski hanya untuk sesaat dan sebagai teman biasa. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Jika tidak, tak mengapa. Sukses selalu, Fandi!

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun