Apabila segumpal daging (hati) di dalam tubuh manusia itu baik, maka baik pula seluruh tubuh manusia tersebut. Dan apabila segumpal daging (hati) itu rusak, maka rusak pula seluruh tubuh manusia tersebut. Jadi makanlah yang halal (baik) karena yang kita makan akan menyatu dengan tubuh atau segumpal daging tersebut, dan akan memengaruhi semua apa yang kita lakukan atau perbuat.
Jadi apa yang kita konsumsi dapat memengaruhi dari segumpal daging (hati) tersebut. Oleh karena itu mengkonsumsi segala sesuatu hendaklah melihat apakah itu baik (layak) Untuk di konsumsi atau buruk (tidak layak) Â untuk di konsumsi. Agar semua yang ada di dalam tubuh kita menjadi baik dalam hal apapun. Seperti halnya beribadah dan bertingkah laku.
Perspektifekonomi islam
Tujuan utama konsumsi seorang muslim adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah kepada Allah. Mengkonsumsi sesuatu dengan niat yang ikhlas untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah. Karena sesungguhnya segala yang ada di bumi ini hanyalah milik Allah Swt. Dengan begitu manusia mendapatkan pahala.
Konsumsi merupakan sebuah kebutuhan fitrah manusia yang harus dipenuhi, baik secara jasmani dan rohani. Dan di dalam memenuhinya manusia manusia juga di bekali dengan nafsu. Nafsu itu lah yang mendorong manusia untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan. Dan nafsu itu lah yang akan menentukan antara baik dan buruknya yang akan dikonsumsi oleh manusia tersebut.
Pemenuhan kebutuhan tersebut akan sangat bergantung kepada lemah kuatnya dorongan nafsu dan kualitas pengendalian yang diperani oleh akal dan hati. Akal dan hati yang berkualitas pasti akan membatasi konsumsinya sebatas kebutuhan fitrahnya. Konsumsi yang melebihi kebutuhan fitrah adalah kebutuhan palsu, yang justru akan merusak dirinya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H